A Big Surprise

Author : Park Hyo Sang

Main Cast : Leeteuk, Yesung

Support Cast : Super Junior Member

Genre : Frienship

Leeteuk POV

Drrt… Drrrttt.. Ddrrrttt…

Kudengar handphone-ku bergetar. Aisshh.. siapa yang meneleponku pagi-pagi begini? Ah, ternyata Ryeowook, ada apa si eternal maknae itu menggangu tidurku?

Yobosseo, Wookie-ya wae geurae?” tanyaku pada Ryeowook

Yobosseo, Hyung. Maaf mengganggu tidurmu. Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu. Bisakah kau ke kamarku sekarang?” ucap Ryeowook

“Ada apa Wookie-ya? Bicara saja sekarang,” ucapku

“Tidak bisa Hyung. Kau harus kesini sekarang juga. Jebal, Hyung. Ini penting sekali,” kata Ryeowook memelas.

Arasso.. Arasso.. Hyung akan segera ke sana.”

Klik. Sambungan telepon diputus.

Kulihat jam putih di atas meja. Astaga, sekarang baru pukul 7. Pantas saja aku masih mengantuk sekali, aku baru tidur pukul 5 tadi. Huft, rasanya aku kesal sekali. Tidurku yang Cuma sedikit itu diganggu oleh Ryeowook. Ingin sekali aku marah dan berteriak padanya, tapi aku tidak akan pernah bisa. Sebesar apa pun rasa marah yang ada dalam dadaku, aku tidak pernah bisa menunjukkannya pada dongsaeng-dongsaengku. Dan aku juga tidak pernah bisa menolak keinginan mereka. Itu semua ku lakukan karena aku sangat menyayangi mereka. Aku tak pernah tega melihat mereka terluka. Yah, begitulah aku. Kelemahan terbesarku ada pada dongsaeng-dongsaengku itu. Hehehe

Aku bangkit dari tempat tidur putihku dan melangkah menuju kamar mandi. Kulihat Donghae masih tidur dengan pulasnya. Aku tersenyum melihat wajah bayi miliknya itu. Ku biarkan dia tidur dulu karena kami baru ada jadwal pada pukul 11 siang nanti.

Setelah selesai mencuci muka dan menggosok gigi, aku segera turun ke lantai 11 untuk menemui Ryeowook. Kira-kira apa yang ingin dibicarakan anak itu? Semoga bukan berita buruk.

Author POV

Leeteuk masuk ke dalam kamar Ryeowook dan Yesung. Di sana Ryeowook telah menunggunya dengan tidak sabar.

“Ah, Hyung. Kau lama sekali. Aku sudah menunggumu dari tadi,” ucap Ryeowook

Mianhae, Wookie-ya. Dimana Yesung? Kenapa dia tidak kelihatan?”

“Yesung Hyung sedang pergi ke supermarket di depan untuk membeli sesuatu”

“Oh, begitu. Wooki-ya, sekali lagi maaf ya, kau sudah lama menungguku”

“Ah, sudahlah Hyung. Yang penting sekarang kau sudah disini. Ada sesuatu yang penting yang harus kita bicarakan”

“Apa itu Wookie-ya?”

Ryeowook pun menceritakan semua yang ada di pikirannya. Leeteuk mendengarkan dengan penuh perhatian dan sesekali mengangguk tanda mengerti.

“Jadi bagaimana Hyung? Apa kau bisa?” tanya Ryeowook begitu selesai bercerita pada Hyung kesayangannya itu.

“Entahlah Wookie-ya. Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu. Aku takut gagal,” ucap Leeteuk pesimis.

“Tenang saja, Hyung. Kau tidak akan gagal. Kami semua akan membantumu,” ucap Ryeowook meyakinkan.

“Baiklah, akan ku lakukan. Lalu yang lainnya bagaimana? Apa mereka sudah tahu?” tanya Leeteuk.

“Semua sudah tahu Hyung. Tadi malam kami membicarakan ini. Kau yang terkahir mengetahuinya karena tadi malam kau ada acara kan?” jelas Ryeowook. Leeteuk hanya mengangguk menganggapinya.

Hyung, sebaiknya sekarang kita sarapan. Aku akan membuatkan sarapan untuk mu dan yang lainnya,” ucap Ryeowook.

Arasso. Kau buat lah dulu sarapannya, aku akan membangunkan member yang lainnya dulu.”

Leeteuk POV

Aku melangkah keluar dari kamar Ryeowook. Tak ku sangka anak itu bisa berbuat seperti ini. Sebenarnya aku sangat ingin menolak keinginannya itu, tapi seperti yang sudah kukatakan tadi, aku tidak pernah bisa menolak keinginan dongsaengku, betapa pun anehnya permintaan mereka.

Aku kembali ke lantai 12 untuk membangunkan Donghae, Heechul dan Shindong agar mereka bisa sarapan bersama dengan yang lainnya.

Kubuka pintu kamarku dan Donghae. Kulihat dia masih pada posisi yang sama pada saat aku meninggalkannya tadi.

“Donghae-ya, irreona. Ryeowook sudah menyiapkan sarapan di bawah. Ayo cepat bangun,” ucapku sambil menepuk-nepuk bahunya.

“Ah, Hyung. Sebentar lagi ya? Aku masih mengantuk sekali,” kata Donghae yang membuatku tersenyum

“Cepatlah Hae! Lalu bantu aku membangunkan yang lainnya. Apa kau tega membiarkan Hyung-mu ini membangunkan begitu banyak orang sendirian?” Aku masih membujuk Donghae agar bangun

Arasso, Hyung. Aku akan bangun. Tapi nanti ya, 10 menit lagi. Aku janji akan bangun setelah 10 menit”

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Dasar Donghae. Masih saja sulit dibangunkan. Entah apa jadinya jika suatu saat aku tidak ada. Siapa yang bisa membangunkanmu Hae? Aku pun keluar dari kamarku dan Donghae dan menuju kamar Shindong.

“Dong-ah. Irreona. Ppalli!!” Aku berteriak-teriak di kamarnya.

Hyung, kau berisik sekali,” ucap Shindong kesal

Mian. Tapi kau harus segera bangun. Ryeowook sudah menyiapkan sarapan untuk kita.”

Arasso,” kata Shindong sambil menuju ke kamar mandi

Setelah berhasil membangunkan seluruh member, kami pun bersama-sama duduk di ruang makan dan menikmati sarapan yang dibuat oleh Ryeowook.

Suasana kacau selalu terjadi saat semua member makan bersama seperti saat ini. Terkadang aku jengah, tetapi seperti inilah keadaannya. Aku hanya bisa menikmati suasana ribut ini sambil meneruskan sarapanku. Aku menghentikan sarapanku karena aku merasa ada sepasang mata yang terus melihatku dari tadi.

Author POV

Leeteuk membanting sendoknya dengan kasar di atas meja. Semua mata melihatnya.

“Kau kenapa Hyung?” tanya Kyuhyun.

“Tidak bisakah kalian diam saat sedang makan? Aku benar-benar pusing mendengar suara ribut kalian dari tadi,” Leeteuk berteriak marah.

Hyung, kau ini apa-apaan? Bukankah keadaan seperti ini sudah biasa terjadi?” ucap Donghae membantah Leeteuk.

“Aku lelah. Tidak bisakah kalian mengerti keadaanku sekali saja? Selama ini hanya aku yang berusaha mengerti kalian. Dan kalian sama sekali tidak pernah peduli padaku. Dan kau. Aku tau dari tadi kau terus menatapku dengan sinis. Kalau kau tidak suka padaku bilang saja,” kata Leeteuk penuh amarah sambil menunjuk Sungmin.

Hyung… Jangan seperti itu,” Ryeowook memohon pada Leeteuk.

“Iya Hyung. Kau tidak pernah begini sebelumnya. Kemana perginya senyummu itu?” Eunhyuk ikut angkat suara. Tapi belum sempat Leeteuk menjawab, Sungmin sudah bicara duluan.

Hyung, asal kau tahu saja. Aku juga lelah dengan sikapmu. Kau tidak pernah membiarkan kami mengetahui apapun tentang dirimu. Kau selalu menyimpan masalahmu sendiri. Kau selalu bersembunyi dibalik senyummu itu. Lalu bagaimana kami harus mengerti dirimu, kalau kau sendiri tidak pernah mau berbagi dengan kami Hyung?” Ucap Sungmin dengan kesal

Leeteuk hanya diam dan memandangi Sungmin dengan tatapan penuh kebencian. Saat semua orang terdiam, Heechul bangkit dari tempat duduknya dan melangkah keluar.

“Kau mau kemana?” teriak Leeteuk pada Heechul.

“Terserah aku mau kemana. Aku bosan melihat kelakuan kalian yang terlalu kekanakan,” ucap Heechul santai.

Leeteuk hendak mengejarnya, tetapi tangannya ditahan oleh Yesung yang dari tadi tidak mengeluarkan suara.

Hyung, Jebal. Hentikan semuanya. Aku tidak ingin seperti ini. Kita ini keluarga. Kumohon maafkan semua kesalahan kami yang tidak pernah mengerti dirimu. Mulai sekarang kami akan berusaha Untuk tidak membuatmu kecewa lagi” Ujar Yesung sambil meneteskan air mata.

“Kau terlambat, Jongwoon-ah. Aku sudah terlalu lelah menghadapi semua ini. Aku hanya manusia biasa yang mampunyai batas kesabaran.” Leeteuk melepaskan tangan Yesung dengan kasar dan segera pergi dari ruangan itu.

Mianhae.. Dongsaeng” Ucap Leeteuk dalam hati.

Yesung POV

Teuki Hyung melepaskan tanganku dengan kasar. Aku terkejut dengan sikapnya. Selama ini, dia sama sekali belum pernah menampakkan wajahnya yang penuh amarah di hadapan kami semua. Walaupun kami menjahilinya atau melakukan hal-hal paling bodoh sekalipun dia tidak pernah marah. Lalu kenapa pagi ini dia begitu marah hanya karena kami ribut di meja makan? Hyung, aku tidak mengerti jalan pikiranmu.

Kulihat Sungmin dan Kyuhyun sudah meninggalkan meja makan, begitu pula Siwon, Donghae, Eunhyuk dan Shindong. Sekarang tinggal aku dan Ryeowook di sini. Ku pandangi Ryeowook yang sedang membereskan meja makan.

“Wookie-ya, sebenarnya apa yang terjadi?” Tanyaku padanya

Mollayo, Hyung. Aku juga tidak mengerti” Jawabnya sambil terus membereskan meja makan.

“Apa aku salah Wookie-ya? Apa aku yang membuat Teuki Hyung jadi begini?” Tanyaku lagi pada Ryeowook.

“Aku juga tidak tahu Hyung, mungkin kita salah, mungkin juga tidak. Kita tidak pernah tahu karena kita tidak pernah bisa memahami isi hati Teuki Hyung” Jawab Ryeowook lagi.

Aku terdiam mendengar jawaban Ryeowook. Dia benar. Selama ini kami tidak pernah bisa melihat isi hati Teuki Hyung. Kami tidak pernah tahu kapan dia merasa lelah, kami tidak pernah tahu kapan dia merasa kesal dan kami tidak pernah tahu kapan dia merasa memerlukan seseorang untuknya bersandar. Padahal dia selalu ada untuk kami. Selalu ada saat kami lelah, selalu ada saat kami membutuhkan seseorang untuk berbagi. Saudara macam apa aku ini? Mengapa aku membiarkan Hyung ku menderita sendirian?

Tiba-tiba kudengar isakan tangis. Ryeowook. Dia mengangis.

Hyung, aku takut… Aku takut kalau Teuki Hyung tidak mau peduli lagi pada kita” Ujar Ryeowook di sela-sela tangisnya.

“Tenanglah Wookie-ya. Itu tidak akan terjadi. Kau tahu kan Teuki Hyung sangat menyayangi kita semua?” Ucapku ragu.

Author POV

Pukul 11, seluruh anggota Super Junior telah berkumpul di sebuah stasiun televisi untuk membawakan lagu-lagu andalan mereka. Tak terkecuali Leeteuk yang dari tadi hanya diam dan tak peduli dengan dongsaeng-dongsaengnya. Ruang tunggu Super Junior itu terasa aneh karena Leeteuk yang biasanya sibuk mengatur member lainnya kini hanya diam tak bergerak di sudut ruangan. Tiba-tiba Leeteuk berdiri dan bermaksud untuk pergi.

“Kau mau kemana?” Tanya Heechul

“Pergi” Jawab Leeteuk pendek.

Hyung, sebentar lagi kita akan tampil. Kau mau pergi kemana?” Eunhyuk bertanya dengan cemas.

“Aku tidak mau tampil di panggung bersama kalian lagi. Aku lelah. Aku ingin pergi” Ucap Leeteuk pelan.

Hyung, jangan pergi. Kami harus menjawab apa jika orang-orang bertanya tentang ketidakhadiranmu? Selama ini kau selalu ada di atas panggung bersama kami” Yesung pun ikut cemas dengan keputusan Leeteuk.

“Itu terserah kalian. Aku tidak peduli lagi. Kau saja yang menggantikanku bernyanyi nanti. Suaramu kan yang paling bagus. Lagi pula, mulai sekarang kalian harus terbiasa tanpa aku” Ucap Leeteuk.

Hyung, apa maksudmu?” Donghae mulai menangis. Dia sangat takut Leeteuk meninggalkannya. Tapi Leeteuk tidak menghiraukan pertanyaan Donghae. Leeteuk terus berjalan keluar tanpa menoleh ke belakang lagi.

Mianhae… Dongsaeng..” Ucap Leeteuk dalam hati.

Tidak hadirnya Leader Super Junior sedikit banyak mempengaruhi aksi panggung mereka. Walaupun sedikit kacau, tetapi mereka berhasil juga menyelesaikan tugas mereka kali ini.

Selesai mengisi acara dari stasiun televisi, mereka pun pulang ke dorm. Jadwal mereka hari ini semua di batalkan karena mereka mengatakan pada manager bahwa sang leader sedang sakit dan mereka ingin merawatnya. Entah mengapa manager yang biasanya sulit diajak kompromi, hari ini memberika izin untuk tidak melaksanakan tugas mereka.

Tak berapa lama, mobil mereka sampai di dorm. Tanpa ada yang berbicara semua masuk ke kamar masing-masing.

Donghae POV

Aku membuka pintu kamarku dan Teuki Hyung dengan hati-hati. Kulihat dia sedang duduk di atas tempat tidur. Bahunya berguncang-guncang. Aku tahu dia sedang menangis. Ku letakkan tanganku di bahunya.

Hyung….” Ucapku pelan. Teuki Hyung berbalik dan menatapku. Matanya merah karena banyaknya air mata yang dikeluarkannya. Dia memaksakan sebuah senyum padaku.

“Hae-ya, aku tidak sanggup lagi. Aku ingin menyerah saja.” Ucap Teuki Hyung. Aku jadi ingin menangis mendengar suara lemahnya.

“Jangan begitu Hyung. Sedikit lagi kita berhasil. Jangan sia-siakan apa yang telah kau lakukan. Kami semua ada di sini untuk membantumu” Aku meyakinkan Teuki Hyung. Dia menunduk. Menangis. Belum pernah kulihat Teuki Hyung seperti ini. Ada rasa menyesal karena kami telah memaksanya melakukan hal yang selama ini dibencinya.

Hyung maafkan aku” Ucapku sambil memeluknya

“Sudahlah Hae-ya. Aku ingin segera mengakhiri semua ini. Aku lelah jika terus seperti ini.” Ucap Teuki Hyung. Aku hanya bisa diam dan tak mampu mengucapkan apa-apa. Semoga hal ini tidak benar-benar terjadi.

Yesung POV

Perasaanku hari ini sangat tidak karuan. Marah, kesal, benci, dan rasa bersalah menumpuk dalam dadaku. Teuki Hyung sudah keterlaluan. Dia mengatakan bahwa dia sudah tidak peduli pada kami lagi. Dia mengatakan kalau dia tidak mau berada di atas panggung bersama kami lagi. Hyung, tahukah kau bahwa aku sangat takut jika kau benar-benar pergi? Tidak bisa, aku harus bicara pada Teuki Hyung. Di sini aku lah yang paling tua setelah Teuki Hyung dan Heechul Hyung. Tak mungkin Heechul Hyung mau membicarakan masalah seperti ini. Jadi harus aku yang bicara pada Teuki Hyung.

Aku masuk ke dorm lantai 12 tempat Teuki Hyung berada. Kulihat Donghae sedang termenung sendirian di depan televisi. Sepertinya dia tidak menyadari kehadiranku. Aku pun menepuk pundaknya.

“Hae-ya, Teuki Hyung dimana?” Tanyaku yang membuatnya langsung terkejut.

“Ah, Hyung. Kau membuatku terkejut saja. Teuki Hyung ada di kamar. Pergilah temui dia. Aku takut melihat wajahnya sekarang. Dia terlihat mengerikan.”Ujar Donghae yang langsung mendapat jitakan dariku.

“Ah, Hyung. Sakit…” Donghae memegangi kepalanya.

“Kau ini bagaimana bisa mengatakan bahwa wajah Hyung mu itu mengerikan? Bukankah selama ini dia selalu tersenyum padamu?”

“Iya, tapi hari ini dia berbeda”

“Aisshh, sudahlah. Biar aku menemuinya dulu.” Ucapku pada Donghae.

Aku berdiri di depan kamar Teuki Hyung dan Donghae. Belum sempat aku membuka pintu itu, aku mendengar suara Teuki Hyung yang sedang menelpon Manager kami. Sebenarnya aku tidak ingin mendengar pembicaraan mereka. Tapi kata-kata Teuki Hyung menghalangi langkahku untuk pergi dari depan pintu kamarnya.

Hyung, aku ingin mengakhiri semuanya. Aku ingin keluar dari Super Junior” Ucap teuki Hyung pada manager kami. Aku terkejut mendengarnya. Kepalaku pusing. Ruangan ini rasanya berputar-putar dan mulai menghimpit tubuhku. Ku dengarkan lagi baik-baik suara Teuki Hyung, tetapi keadaan di dalam sudah sepi. Tak ada lagi suara teuki Hyung. Sepertinya dia sudah selesai menelpon.

Aku memberanikan diri masuk ke kamar bernuansa putih itu. Kulihat Teuki Hyung sedang berdiri di depan jendela kamarnya. Pandangan matanya kosong, tapi entah kenapa dia tersenyum.

Hyung, apa maksud semua ini?” Tanyaku langsung padanya. Dia menoleh ke arahku. Senyumannya lenyap seketika.

“Yesung-ah, ada apa?” Dia balik bertanya.

“Aku bertanya padamu Hyung. Apa maksud semua ini? Apa benar kau akan meninggalkan Super Junior? Apa benar kau akan meninggalkan kami?” Tanyaku penuh emosi. Tanpa terasa air mataku sudah mengalir deras.

“Itu benar” Jawabnya pendek. Jawaban singkat dari Teuki Hyung mampu membuat dunia ku runtuh. Aku tak mampu menopang tubuhku lagi. Aku terduduk di lantai kamar ini.

Hyung, kau tahu, aku sangat takut ditinggalkan. Apalagi oleh dirimu Hyung. Aku bisa apa jika tanpamu?” Tanyaku putus asa. Teuki Hyung duduk di hadapanku.

“Kau bisa melakukan apa saja tanpa aku. Kau orang yang kuat. Kau lah yang akan memimpin Super Junior ke depannya.” Ucap Teuki Hyung lemah

Hyung, ku mohon jangan pergi. Aku akan melakukan apa saja asal  kau tidak pergi dari sini. Kami membutuhkanmu Hyung” Ku genggam tangan Teuki Hyung. Tangan paling hangat yang pernah aku rasakan. Tangan yang selalu terbuka untuk kami.

Mianhae, Yesung-ah. Kau terlambat. Aku sudah tidak sanggup lagi berada di antara kalian. Aku merasa menjadi orang paling tidak berguna jika sudah bersama kalian.” Jawab Teuki Hyung. Aku hanya menatapnya bingung. Jujur aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Dia lah orang paling berjasa yang telah membuat Super Junior bisa seperti sekarang.

“Aku tidak bisa apa-apa, Yesung-ah. Aku tidak bisa mencegah kepergian Hankyung. Aku tidak bisa mencegah tindakan Kangin. Sebagai leader, aku adalah orang yang gagal membimbing kalian.” Lanjut Teuki Hyung.

“Kau pembohong, Hyung. Kau berjanji pada semua orang bahwa kau akan membuat Super Junior menjadi 13 lagi. Kau berjanji bahwa kau akan melindungi Super Junior dengan tanganmu sendiri. Kau berjanji bahwa kau akan membuat dunia tertutup oleh warna saphire blue. Apa kau lupa dengan semua janjimu?” Aku tidak bisa lagi mengendalikan emosiku. Ku lihat tak ada sedikit pun perubahan di wajahnya. Masih wajah dingin seperti tadi waktu pertama kali aku masuk kamar ini. Teuki Hyung memejamkan matanya dan membukanya setelah beberapa saat.

“Coba kau yang berada di posisiku, Yesung-ah. Apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan tetap bertahan dengan segala beban yang ada di pundakmu? Apa kau masih bisa berdiri dengan kepala tegak jika kegagalan terus membayangi langkahmu?” Tanya Teuki Hyung. Aku hanya bisa diam. Aku tak tahu harus menjawab apa.

“Sudahlah, Yesung-ah. Lebih baik kau kembali ke kamarmu sekarang. Aku akan membereskan barang-barangku dan segera pergi dari sini.” Ujar Teuki Hyung.

Jebal, Hyung. Jangan pergi. Aku tidak mau ada perpisahan lagi.” Kataku sambil berlutut di hadapan Teuki Hyung. Belum sempat teuki Hyung menjawab, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dengan kasar. Heechul Hyung masuk dan menatap tajam ke arah kami.

“Ada apa ini? Mengapa kau berlutut dihadapannya?” Tanya Heechul Hyung padaku.

“Aku hanya tidak ingin Teuki Hyung pergi. Aku tidak mau keluarga kita berkurang lagi.” Jawabku sambil menangis.

“Teuki-ya, apa yang kau lakukan. Tega sekali kau membuat dongsaengmu berlutut di hadapanmu seperti ini.” Ucap Heechul Hyung.

“Aku sudah menyuruhnya pergi. Tapi dia sendiri yang tidak mau mendengarkan aku.” Ucap Teuki Hyung santai.

“Lalu kau mau apa dengan semua koper-koper itu?” Tanya Heeechul Hyung lagi

“Aku akan pergi. Keputusanku sudah bulat untuk meninggalkan Super Junior.”

Kulihat Heechul Hyung sedikit terkejut dengan kata-kata Teuki Hyung. Tapi dia dengan cepat bisa menguasai dirinya.

“Apa alasanmu ingin meninggalkan kami?” Ucap Heechul Hyung pelan.

“Aku telah gagal menjadi leader yang baik, Heechul-ah. Aku tidak bisa membuat Super Junior kembali seperti dulu lagi.”

“Ya.. Park Jungsoo. Apa kau tahu, sesuatu yang tak pernah kau mengerti selama ini?” Teriak Heechul Hyung yang sudah tak bisa mengontrol emosinya. Teuki Hyung hanya diam, begitu juga aku.

“Sesuatu yang tidak pernah kau mengerti adalah, Kau itu bukan TUHAN. Kau tidak bisa membuat segalanya berjalan sesuai dengan keinginanmu. Kau hanya manusia biasa yang bisa membuat kegagalan.” Heechul Hyung masih emosi.

“Sudahlah, Heechul-ah. Jangan habiskan energimu hanya untuk mengatakan hal-hal tidak penting padaku. Lebih baik kau kembali ke kamarmu. Aku mau membereskan barang-barangku.”

“Ayo kita pergi. Jika dia mau keluar, biarkan saja. Tak usah pedulikan dia lagi.” Ucap Heechul Hyung sambil menarik tanganku.

Aku keluar dari kamar putih teuki Hyung. Sekali lagi ku perhatikan kamar itu dari luar. Kamar yang selama ini jadi tempat kami berkumpul. Kamar yang selama ini menjadi tempat kami mencurahkan segala keluh kesah. Kamar yang begitu hangat dan nyaman itu kini perlahan-lahan menjadi dingin.

Aku kembali ke lantai 11. Begitu sampai di depan pintu dorm kami, aku takut. Bagaimana caraku menjelaskan pada dongsaeng-dongsaengku tentang apa yang sudah terjadi di lantai atas. Lama aku berdiri di depan pintu sampai akhirnya keberanianku muncul. Kubuka pintu itu perlahan-lahan dan masuk ke dalam.

Ku lihat Kyuhyun dan Eunhyuk sedang bermain game bersama, sedangkan Sungmin terlihat sedang memperhatikan mereka. Kupandangi Ryeowook, Shindong dan Siwon yang sedang serius menonton televisi. Di sudut ruangan, ada Donghae yang ternyata sudah ada di sini entah sejak kapan. Dia hanya termenung sambil memandangi foto kami yang tergantung di dinding ruangan. Aku harus mengatakan apa pada mereka?

Hyung, kau dari mana?” Tanya Ryeowook mengejutkanku.

“Ak… Aku… Aku…” Aku gugup. Bingung harus menjawab apa.

“Bukankah kau dari kamar Teuki Hyung?” Ucap Donghae.

“I… Iya” Jawabku.

“Kau kenapa Hyung? Mengapa gugup sekali? Memangnya apa yang terjadi di atas tadi?” Tanya Siwon. Aku harus bilang apa? Aku semakin bingung.

“Ah, Bagaimana aku harus mengatakannya pada kalian? Aku bingung harus memulai dari mana” Ucapku.

“Katakan saja Hyung” Ucap Ryeowook.

“Begini….. Ehm… Sebenarnya Teuki Hyung memutuskan untuk keluar dari Super Junior” Kataku sambil menunduk. Aku tidak berani menatap wajah para dongsaeng ku itu.

Mwo? Kau jangan bercanda” Eunhyuk tidak terima dengan perkataanku.

Mian, aku sedang tidak bercanda” Ujarku lemah. Air mata yang sejak tadi aku tahan akhirnya tumpah juga.

Hyung, yang benar saja? Kau tadi bicara apa pada Teuki Hyung? Pasti kau yang membuatnya jadi begini. Kau memang tidak berguna, Hyung.” Kyuhyun berteriak padaku.

“Benar, Hyung. Mengapa kau tidak mencegah Teuki Hyung? Kalau sudah begini, memangnya apa yang bisa kita lakukan? Tanpa Teuki Hyung kita bukan apa-apa.” Ryeowook ikut menyalahkanku.

“Itu semua tanggung jawabmu Hyung. Kau harus bisa membawa Teuki Hyung kembali ke sini. Jika kau tidak berhasil, maka kami pun akan meninggalkan Super Junior sama seperti yang dilakukan oleh Teuki Hyung.” Ucapan Sungmin membuatku terkejut. Aku kembali merasakan duniaku runtuh. Air mataku semakin deras mengalir di pipiku.

“Ucapan Sungmin Hyung memang benar. Lebih baik Super Junior bubar dari pada kami harus berada di atas panggung tanpa Teuki Hyung.” Shindong berkata dengan lemah. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya bisa menangis mendengar semua ucapan dongsaeng ku itu. Kututup wajahku dengan kedua tanganku. Kepalaku terasa sangat berat dengan semua beban yang menghimpit. Tiba-tiba kudengar suara pintu dorm kami terbuka.

SURPRISE…..

Aku membalikkan badanku, di depan pintu telah berdiri Heechul Hyung bersama Ayah, Ibu dan adikku. Kulihat Heechul Hyung membawa sebuah kue dengan ukuran besar lengkap dengan lilin di atasnya.

Aku terkejut melihat semua ini. Ada apa sebenarnya? Dan aku baru ingat bahwa saat ini tanggal 24 Agustus. Tepatnya hari ini adalah hari ulang tahunku. Astaga, bagaimana aku bisa melupakan hari kelahiranku sendiri? Kulihat semua yang hadir di sini. Ada kedua orangtuaku, Jongjin adikku, dan seluruh member Super Junior. Tapi aku tidak melihat Teuki Hyung di sini. Kecemasan kembali menyergapku.

“Aku disini, Yesung-ah.” Tiba-tiba suara yang sangat familiar itu menyapa telingaku. Aku segera berbalik dan melihatnya tersenyum. Senyum malaikat yang masih sama dengan yang dulu. Senyum yang selalu menghangatkanku. Segera ku peluk tubuh malaikat itu. Aku tidak ingin dia meninggalkan kami seperti yang dikatakannya tadi.

Mianhae, Yesung-ah. Aktingku hari ini bagus sekali kan?” Ucapnya sambil tertawa. Tawa khas dari seorang Park Jungsoo.

“Kau membuatku sangat takut, Hyung. Aku hampir mati ketakutan karena kau bilang kau akan meninggalkan kami.” Teuki Hyung hanya tertawa mendengar ucapanku.

“Maaf Hyung, ini sebenarnya ideku. Awalnya Teuki Hyung tidak mau karena dia paling tidak bisa berbohong dan dia merasa pasti akan gagal begitu melihat wajahmu yang bersedih itu. Tapi kami memaksanya sampai dia mau. hahahaha” Ryeowook menjelaskan sambil tertawa terbahak-bahak.

“Jadi kalian semua bekerja sama untuk mengerjaiku ya? Aishh, kalian ini benar-benar. Wookie-ya, ini idemu kan? Awas kau ya. Kau tidak akan pernah ku lepaskan” Ucapku.

“Sudah.. sudah. Ayo kita potong kuenya.” Ucap Teuki Hyung menengahi. Lalu mereka semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku. Aku meraih tangan Teuki Hyung dan berbisik padanya.

Hyung, yang seperti tadi tidak akan pernah terjadi kan?”

“Tidak akan pernah, Yesung-ah. Itu janjiku seumur hidup.” Ucap Teuki Hyung sambil tersenyum.

Hyung, cepat make a wish dan segera potong kuenya. Aku sudah tidak sabar.” Ucap Eunhyuk.

Arasso.. arasso.” Aku memejamkan mataku untuk melakukan make a wish.

“Semoga keluarga kami kembali utuh seperti dulu.” Ucapku dalam hati, lalu meniup lilin yang ada di atas kue ulang tahunku. Aku berharap bisa berkumpul bersama dengan mereka sampai akhir nanti.

Naega eomneun naui moseubeul sangsanghal suneun eobseo

Ibyeoriran mareul moreuneun neowa naigil barae yeongweontorok

***FIN***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s