He Always Be In Our Heart

Author : Park Hyo Sang @PriGtHs1004

Main Cast : Heechul, Leeteuk, Hankyung

Support Cast : Super Junior Member

Genre : Friendship

Hankyung’s POV

Keputusanku sudah bulat. Aku akan keluar dari sini. Aku sudah tidak sanggup lagi berada di tempat ini. Selama ini aku sudah mencoba melakukan semuanya dengan seluruh kemampuan yang kumiliki. Kini aku sudah mencapai batasku. Aku sudah tidak bisa bertahan. Aku lelah. Aku lelah dengan mereka yang terus mengolok-olok diriku yang tidak bisa berbahasa Korea dengan baik. Padahal mereka tidak pernah tahu bagaimana kerasnya aku berusaha mempelajari bahasa yang menurutku sangat sulit itu. Aku lelah dengan semua tindakan yang dilakukan oleh para antis terhadapku yang ‘orang asing’ ini. Aku lelah dengan semua tekanan yang diberikan oleh management-ku.

Setelah aku memenangkan perkaraku dengan pihak SM, aku akan segara terbebas. Lepas dari rantai yang selama ini mengikat leherku. Bebas dari penjara tak kasat mata bernama kontrak yang membuatku tak bisa bergerak dengan leluasa.

Aku melangkahkan kaki memasuki kamar yang selama beberapa tahun ini kutempati bersama Heechul. Sebelum pulang tadi, aku sudah meneleponnya untuk menyampaikan keputusanku. Aku tidak ingin mengatakan langsung di hadapannya. Aku takut melihat dia terluka. Bagaimanapun juga, dia adalah orang yang paling dekat denganku selama ini. Hanya Heechul yang mengerti maksud dari kalimatku yang kacau ini.

Kamar ini masih sama. Tidak ada yang berubah sejak pertama kali aku dan Heechul menempatinya. Aku mendapati Heechul sedang duduk di atas tempat tidurnya. Di pangkuannya tampak Heebum, kucing kesayangan Heechul yang sedang tertidur pulas. Dia menatapku, tapi tatapan matanya kosong. Tak ada cahaya di sana. Tak ada senyum yang menghiasi wajahnya seperti yang selalu dilakukannya jika melihatku masuk ke kamar ini.

Aku mencoba untuk tidak menatapnya. Melihat dirinya seperti sekarang ini membuat dadaku sesak. Aku seperti kehilangan oksigen jika menatap wajahnya yang berkabung itu. Aku menyibukkan diri dengan membereskan semua barang-barangku. Dia masih terus menatapku. Matanya terus mengikuti semua aktivitasku. Seperti tak ingin melewatkan sedetik pun saat-saat terakhirku bersamanya.

Aku memberanikan diri mendekatinya. Aku duduk di sampingnya dan mengelus kepala Heebum sekilas.

Mianhae, Heechul-ah,” ucapku pelan, berusaha menahan air mata yang sejak tadi mendesak keluar.

Heechul’s POV

Baru saja aku mendapat telepon dari Hankyung. Telepon brengsek yang membuat duniaku tiba-tiba gelap kehilangan cahaya. Dia bilang dia ingin keluar. Keluar dari sini. Keluar dari Super Junior. Dia meminta maaf padaku saat menelepon tadi. Apa gunanya maafmu itu, Hankyung-ah? Aku tidak membutuhkannya. Aku hanya ingin kau tetap berada di sini. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk mengucapkan satu kata saja aku tak sanggup. Lalu bagaimanana aku harus mencegah kepergianmu?

Tiba-tiba dia masuk ke kamar yang kutempati bersamanya. Aku menatapnya, mencoba untuk menebak apa yang ada di pikirannya. Aku masih berharap bahwa yang dikatakannya tadi adalah sebuah lelucon konyol yang dibuatnya. Walaupun harus ku akui bahwa itu sama sekali tidak lucu. Tapi sepertinya harapanku tak bisa jadi kenyataan karena kulihat dia sedang sibuk membereskan barang-barang miliknya tanpa peduli padaku yang berharap mendapatkan sebuah penjelasan darinya.

Dia hanya diam sambil terus sibuk memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Dari tadi dia tidak mengeluarkan satu kata pun, bahkan menatapku saja tidak. Apa sebenarnya yang sedang terjadi, Hankyung-ah? Apa yang selama ini kau sembunyikan dariku hingga semuanya berakhir seperti ini? Aku terus menatapnya. Aku tak ingin melewatkan sedetik pun saat-saat terakhirku bersamanya.

Tiba-tiba dia berjalan ke arahku lalu duduk di sampingku. Tangannya mengelus kepala Heebum yang sejak tadi ada di pangkuanku.

Mianhae, Heechul-ah,” ucapnya. Aku hanya diam. Tak mampu mengucapkan apa-apa. Pikiranku kosong. Jiwaku seperti melayang entah kemana.

Ketukan di pintu menyadarkanku. Kulihat perlahan pintu itu terbuka. Ternyata Donghae yang masuk.

Hyung, sedang apa? Aku lapar. Ayo temani aku makan. Teuki Hyung sedang pergi dan member lainnya sedang berkumpul di bawah. Aku tidak berani makan sendirian,” ucap Donghae panjang lebar. Aku diam menatapnya.

Hyung, wae geurae? Wajahmu pucat sekali. Hyung sakit?” tanya Donghae cemas. Aku menggelengkan kepalaku. Lalu Donghae beralih menatap Hankyung yang berada di sampingku dan koper-koper besar miliknya yang masih berserakan di lantai.

Hyung mau kemana? Apa Hyung akan pulang ke China lagi?” tanya Donghae pada Hankyung.

“Benar, Hae-ya,” jawab Hankyung sambil tersenyum. Cih, bagaimana si brengsek ini bisa tersenyum seperti itu?

“Jangan lama-lama ya Hyung. Aku masih ingin belajar dance padamu.” Donghae dengan polosnya bicara pada Hankyung.

Ku lihat Hankyung diam. Dia menunduk, tak berani menatap ke arahku maupun Donghae.

“Dia tidak akan kembali lagi, Hae-ya,” ucapku pada Donghae. Donghae terdiam. Senyuman hilang dari wajahnya. Sepertinya dia langsung mengerti maksud ucapanku karena ku lihat air mata mulai menggenang di matanya.

“Apa maksudmu, Hyung? Jangan bilang kalau Hankyung Hyung akan….” Donghae tak mampu meneruskan kata-katanya. Aku hanya mengangguk membenarkan ucapannya. Air matanya tumpah membanjiri wajah innocent-nya. Sedih sekali aku melihat dongsaeng-ku ini menangis seperti itu. Ingin aku memeluknya, menangis bersamanya dan saling membagi kekuatan. Tapi aku tidak bisa. Aku hanya diam di atas tempat tidurku melihat Donghae yang kini sudah keluar dari kamar ini. Saat ini dapat kupastikan dia menelepon seseorang yang sejak tadi ingin ku temui.

Leeteuk’s POV

Huft, lelah sekali rasanya. Enak sekali para dongsaeng-ku yang hari ini dapat libur dan istirahat di dorm. Sementara aku harus menyelesaikan syuting sebuah acara reality show yang akan tayang besok. Aku meminum air dari botol yang dibawakan oleh manager-ku tadi. Saat ini aku sedang istirahat sebelum melanjutkan syuting ini.

Tiba-tiba aku mendengar handphone-ku berbunyi. Segera ku lihat dan di sana tertera nama dongsaeng kesayanganku, Donghae. Aku tersenyum dan mengangkat telepon itu.

Yeobeossaeyo, Hae? Wae geurae?” tanyaku. Donghae tidak menjawab. Aku hanya mendengar suara isakan dari seberang sana.

“Ada apa, Hae-ya? Mengapa menangis?” tanyaku lembut.

Hyung, cepat pulang, Hankyung Hyung ingin pergi. Aku tidak ingin dia pergi, Hyung. Cepat cegah dia,” ucapnya di sela-sela tangisnya.

“Hae-ya, tenang dulu. Aku tidak mengerti ucapanmu. Memangnya Hankyung mau kemana? Mengapa dia tidak boleh pergi?” ucapku menanggapi kata-kata Donghae yang tidak jelas.

“Hankyung Hyung ingin keluar dari Super Junior. Dia ingin meninggalkan kita, Hyung. Cepatlah pulang. Cegah dia, Hyung,” Donghae merengek padaku.

DEG.

Aku terdiam mendengar ucapan Donghae. Apa-apaan ini? Apa yang sedang terjadi? Aku segera menutup telepon Donghae dan bergegas mengambil kunci mobilku. Tak kupedulikan teriakan manager yang menyuruhku kembali karena syuting akan segera dimulai lagi. Yang ada di pikiranku saat ini hanya Hankyung. Bagaimana dia bisa membuat keputusan seperti itu?

Segera kupacu Audi putih kesayanganku dengan kecepatan penuh. Tuhan, jangan biarkan aku terlambat. Jangan biarkan aku kehilangan dia. Berikan aku satu kesempatan untuk berbicara dengannya.

Begitu sampai di dorm, aku segera berlari menuju lift yang akan membawaku ke lantai 12. Kubuka pintu itu dengan tergesa-gesa. Saat aku masuk, aku melihat pemandangan yang membuat hatiku pilu. Di sana semua member duduk sambil menundukkan kepala dan menangis. Aku melihat Heechul, dia diam memandang ke arah jendela. Tak ada setetes pun air mata di wajahnya, hanya saja matanya terlihat kosong. Hatiku miris melihatnya. Aku tahu dia sangat terpukul karena Hankyung adalah sahabat baiknya.

Mereka yang menyadari kehadiranku langsung memandangku dengan tatapan penuh harap. Harapan yang sama dengan yang ada di hatiku saat ini. Harapan bahwa Hankyung tidak akan pergi meninggalkan kami.

“Apa yang sebenarnya sedang terjadi, Hankyung-ah?” tanyaku padanya.

Mianhae, Hyung. Jeongmal mianhae,” ucapnya terbata-bata.

“Apa yang membuatmu begini, Hankyung-ah? Berikan aku sebuah alasan yang bisa ku terima,” ucapku.

Mianhae, Hyung. Aku hanya ingin kembali ke rumahku. Aku merindukan tanah kelahiranku,” jawab Hankyung. Aku tahu dia berbohong. Itu bukan alasan sebenarnya mengapa dia ingin pergi. Tapi aku tidak ingin memaksanya karena aku takut itu malah membuat keadaan semakin buruk.

“Jika kau pergi, bagaimana dengan kami yang ada di sini? Kami ini saudaramu. Apa kau tega melihat saudaramu sendiri bersedih?” tanyaku lagi.

Mianhae, Hyung. Aku…” Dia tidak bisa menyelesaikan ucapannya, air mata sudah jatuh di kedua pipinya.

Aku benar-benar bingung harus melakukan apa untuk menahan kepergiannya. Aku benar-benar sudah tidak berpikir jernih lagi. Rasa marah, kesal, sedih dan takut kehilangan menyatu dalam hatiku. Yang ku tahu saat ini adalah aku harus memintanya untuk tidak pergi. Lalu, dengan pikiranku yang masih kacau, aku melakukan hal yang selama ini belum pernah kulakukan. Aku berlutut di hadapannya. Membuang semua harga diriku hanya untuk membuatnya menarik kembali kata-katanya. Hanya untuk membuat dongsaengdeul-ku tersenyum bahagia lagi.

Jebal, Kajima..” ucapku dengan air mata yang sudah tak mampu ku bendung.

Author’s POV

Tiba-tiba Leeteuk berlutut di hadapan Hankyung. Kepalanya tertunduk dan air mata mulai mengalir di pipinya. Semua yang ada di sana terkejut melihat Leeteuk. Sejauh yang mereka tahu, Leeteuk belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.

Jebal, Kajima..” ucap Leeteuk.

Hyung, jangan seperti ini. Cepat berdiri,” ucap Ryeowook sambil memegang lengan Leeteuk. Leeteuk menepis tangan Ryeowook dengan lembut.

“Biarkan seperti ini, Wookie-ya. Jika dengan berlutut seperti ini dapat membuatnya tetap berada di sini, berlutut seumur hidup pun akan ku lakukan,” ucap Leeteuk. Hankyung yang sejak tadi diam menghampiri Leeteuk. Digenggamnya tangan leader yang dikaguminya itu.

Mianhae, Hankyung-ah. Mianhae, karena aku tidak bisa menjadi Hyung yang baik untukmu. Mianhae karena aku tidak bisa melindungimu. Mianhae karena aku tidak bisa mengerti keadaanmu.” Leeteuk berkali-kali minta maaf.

Hyung, jebal. Jangan begini. Kau membuatku merasa seperti orang paling brengsek di dunia. Kau tidak pernah salah jadi jangan pernah meminta maaf padaku. Berdirilah Hyung.” Hankyung membantu Leeteuk berdiri lalu membimbingnya untuk duduk bersama dengan yang lainnya. Dipandanginya wajah kakak tertuanya itu. Wajah yang selalu tersenyum itu kini memerah dan penuh dengan air mata.

Hyung, maafkan aku. Aku benar-benar harus pergi. Aku juga punya cita-cita yang ingin ku raih. Aku juga ingin bahagia tanpa terikat dengan apapun,” ucap Hankyung pada Leeteuk. Leeteuk hanya diam dengan kepala tertunduk. Hatinya pilu mendengar Hankyung mengucapkan kata-kata itu.

“Sejak awal, kita memang berbeda. Aku tidak ditakdirkan untuk terus bersama dengan kalian. Langkah yang kita ambil tidaklah sama. Aku sangat berharap kalian bisa mengerti dengan keadaanku ini.” Hankyung melanjutkan perkataannya.

“Arraseo, Hankyung-ah. Pergilah. Aku mengerti,” ucap seseorang yang sejak tadi diam, Heechul, dia tersenyum pada Hankyung yang memandangnya dengan terkejut, begitu pula dengan member yang lainnya.

“Jika ini semua demi kebahagiaanmu, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Jika bersama dengan kami tidak membuatmu bahagia, kami minta maaf. Semoga dengan kepergianmu, kau bisa menemukan arti bahagia yang sebenarnya,” ucap Heechul lagi.

Gomawo Heechul-ah. Gomawo untuk semua yang sudah kau lakukan untukku,” ucap Hankyung sambil memeluk Heechul.

“Aku juga mengerti, Hankyung-ah. Tapi kau harus berjanji padaku untuk terus tersenyum bahagia begitu kau keluar dari sini. Jangan pernah meneteskan air mata karena ketika kau meneteskan air mata berarti kau sudah menganggap kami bukan lagi saudaramu.” Leeteuk ikut tersenyum pada Hankyung.

“Aku mengerti. Gomawo Hyung,” ucap Hankyung.

Hankyung memeluk semua member Super Junior satu per satu. Lalu dia mengambil koper-kopernya dan melangkah keluar dari dorm yang sudah bertahun-tahun menjadi tempat tinggalnya. Tidak ada yang mau mengantar kepergian Hankyung kecuali Leeteuk. Mereka semua berat melihat Hankyung pergi.

Sesampainya di mobil, Hankyung segera memasukkan barang-barangnya. Lalu dia berbalik menemui Leeteuk. Dipeluknya tubuh malaikat pelindungnya itu sekali lagi.

“Ingat baik-baik Hankyung-ah. Aku tidak akan pernah benar-benar melepaskan tanganmu. Aku membiarkanmu pergi demi melihat kau bahagia. Jika kau ingin kembali, kembalilah. Aku akan dengan senang hati menyambut kedatanganmu. Aku akan menunggumu di sini. Sampai kapan pun, aku akan terus menunggumu di sini, Hankyung-ah.”

“Terima Kasih, Hyung. Terima kasih untuk semuanya,” kata Hankyung sebelum masuk ke dalam mobilnya.

Begitu mobil itu melaju, Leeteuk membalikkan badan untuk segera masuk ke dorm, tetapi dia sedikit terkejut mendapati Heechul yang sedang memandang ke arahnya. Dihampirinya dongsaeng yang lebih muda 9 hari darinya itu. Leeteuk tak tega melihat wajah pilu Heechul. Diraihnya Heechul ke dalam pelukannya.

“Menangislah. Menangislah jika itu bisa mengurangi bebanmu,” ucap Leeteuk.

Heechul menangis dalam pelukan Leeteuk. Pertahanannya runtuh. Dia tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Semua ditumpahkan di pelukan kakak satu-satunya itu. Leeteuk menepuk-nepuk punggung Heechul, berusaha untuk membuatnya tenang.

“Aku akan selalu ada di sini, Heechul-ah. Aku akan membantumu. Bukan untuk melupakannya, tetapi untuk terus mengingatnya. Mengingat keberadaannya. Mengingat bahwa dia pernah ada di sini. Mengingat bahwa dia pernah menjadi bagian dari kita. Mengingat bahwa dia akan selalu ada di hati kita semua,” ucap Leeteuk lagi. Heechul tersenyum mendengar ucapan Leeteuk. Semoga kau menemukan jalan menuju kebahagiaan yang tak pernah kau temukan disini, ucapnya dalam hati.

***END***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s