Goodbye

Sungmin-Goodbye

Author : Kim Hyun Ki

Main Cast : Sungmin, Kyuhyun, Leeteuk

Support Cast : Member Super Junior dan Orang Tua Sungmin

Genre : Friendship

 

Sungmin POV

Kutatap kertas ditanganku. Sulit untuk kupercaya apa yang baru saja kudengar tadi. Benarkah semua ini telah terjadi padaku? Dari mana semua ini berasal, aku sungguh tidak mengerti harus bagaimana? Kenapa harus aku yang merasakannya? Aku terus bertanya dalam hatiku. Hatiku kini sungguh galau, bahkan untuk saat ini emosiku pun hampir tak terkontrol lagi. Yang teringat olehku hanyalah kembali ke dorm untuk menyampaikan perpisahan ini.

Setiba di dorm, kudapati hampir semua member sedang berkumpul di ruang tengah lantai 11 kecuali Teuki Hyung dan Eunhyuk. Aku rasa mereka sedang mengisi suatu acara. Ku urungkan niatku sampai semua  member datang. Sebelum aku masuk ke kamarku aku sempat meninggalkan pesan.

“Jika Teuki Hyung dan Eunhyuk sudah pulang, tolong beritahu aku,” ujarku sekenanya sambil menuju kamar.

Hey, ada apa denganmu?” Heechul Hyung setengah berteriak bertanya padaku tapi aku mengacuhkan pertanyaannya.

Aku tau ini salah tapi aku pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dari dalam kamar kudengar suara langkah kaki mendekati pintu kamarku. Ya, dugaanku memang tidak salah. Tidak lama kemudian Kyuhyun, Dongsaeng kesayanganku itu masuk mendekatiku.

 

Kyuhyun POV

Entah apa yang terjadi padanya aku tidak tau. Kenapa saat dia pulang kelakuannya begitu aneh dan sulit dimengerti. Dia berbeda dari yang kukenal selama ini. Dia tidak mau memalingkan mukanya sedikitpun padaku. Apa salahku? Apa maksudnya? Sungguh tak bisa dipercaya dia melakukan ini padaku.

Aku pun menyusulnya masuk ke kamar saat dia mengacuhkan pertanyaan Heechul. Kubuka pintu kamar itu dan kulihat dia terduduk di atas tempat tidur. Tatapannya benar-benar kosong, dia bahkan terlihat seperti seseorang yang kehilangan jiwanya. Kutatap dirinya yang tidak bereaksi sama sekali, dia hanya menatap kearahku dengan tatapannya itu.

“Minimi, apa yang terjadi padamu?” aku mencoba mencairkan suasana beku diantara kami.

Lagi-lagi dia mengacuhkan pertanyaan yang tertuju untuknya. Dia masih diam membisu seperti pertama kali aku masuk ruangan ini.

“Minimi, tolong katakan sesuatu. Jangan hanya diam membisu seperti ini. Bagaimana aku tau isi hatimu kalau kau terus begini?” aku meninggikan nada bicaraku.

Kali ini aku benar-benar kesal dibuatnya. Dia sama sekali tak mau membuka mulutnya bahkan untuk menatapku kembali pun tidak. Dia telah berubah total dari yang ku kenal. Di pagi hari sebelum dia pergipun dia masih sama seperti Sungmin yang kukenal.

“Baiklah jika kau tak mau mengatakannya, tidak apa-apa. Aku akan ikuti apa maumu. Aku sungguh kecewa dengan sikapmu.”

Aku pergi meninggalkannya setelah  kata-kata itu keluar dari mulutku. Aku marah padanya, kenapa dia perlakukan aku seperti nyamuk tak berguna yang sedang berdenging di telinganya. Kututup pintu dengan keras. Semua mata di ruang tengah itu tertuju padaku tapi tak satupun bertanya padaku karena aku tau mereka tak ingin membuat keadaan semakin rumit.

Sebelum aku menjauh dari kamar itu sempat kudengar isak tangis yang sangat kukenal itu. Mungkin dia menangis. Ah bukan mungkin tapi pasti, dia pasti sedang menangis saat ini. Masa bodoh dengan kondisinya, aku sudah tidak perduli lagi. Yang ku inginkan sekarang hanyalah menunggu Teuki Hyung dan Eunhyuk pulang sehingga aku bisa tau apa yang akan dilakukan olehnya.

Dua jam kemudian Teuki Hyung tiba di dorm. Kusampaikan semua yang terjadi pada Sungmin dan pesan Sungmin pada kami semua. Teuki Hyung segera menuju kamarku dan Sungmin, dia khawatir dengan keadaan Sungmin. Kami semua mengikutinya dari belakang. Saat pintu kamar terbuka, kulihat keadaan Sungmin yang sangat kacau. Dia menundukkan kepalanya dengan tangan yang merangkul kakinya. Dia duduk disamping tempat tidurnya.

“Sungmin-ah, Wae Geurae? Kenapa kau seperti ini?” Teuki Hyung mulai bertanya dengan lembut.

“Teuki Hyung,” Sungmin mengangkat kepalanya saat menyadari keberadaan Teuki Hyung.

“Iya, ini aku. Ada apa denganmu? Mengapa kau seperti ini?  Ceritakanlah, jebal,” pinta Teuki Hyung.

Sungmin tampak ragu tapi ia mulai mau membuka mulutnya.

“Teuki Hyung, aku ingin keluar dari Super Junior. Aku ingin mengakhirinya,” ujarnya singkat.

Sontak kami semua yang berada dalam ruangan itu terkejut mendengar ucapannya. Apa-apaan ini, kenapa dia bisa berbicara seperti itu. Apa dia sudah bosan dengan kehidupan yang dia jalani selama ini.

Hey, apa maksudmu? Apa kau sadar apa yang baru saja kau ucapkan,” aku sudah tidak bisa menahan emosiku lagi.

Hyung, apa kau gila? Apa kau lupa dengan janji kita pada ELF kalau kita akan tetap bersama sampai ELF tak menginginkan kita, janji kita pada Hankyung Hyung, Kangin Hyung, dan Kibum untuk menunggunya kembali. Apa kau sudah melupakan itu semua?” ucap Eunhyuk angkat bicara.

Kulihat mata Eunhyuk mulai memerah, aku tau dia tidak bisa menahan air matanya itu. Bahkan bukan hanya Eunhyuk tapi hampir semuanya.

Ani, aku ingin keluar. Aku sudah bosan bersandiwara dengan semua ini. Aku bosan memberikan janji yang sulit untuk aku tepati. Aku juga tidak bisa menunggu sesuatu yang tidak mungkin aku tunggu. Aku sungguh bosan dengan keadaan ini, bahkan aku sendiri pun sudah bosan berpura-pura tegar dihadapan kalian semua. Dan sekarang aku benar-benar muak dengan kalian semua. Aku akan keluar dari super Junior,” ujarnya tegas.

Hatiku tersayat-sayat saat mendengar pengakuannya. Itukah yang selama ini dia pikirkan? Kenapa dia tidak mengatakannya padaku? Kenapa dia selalu berkata kalau dia bahagia bersama Super Junior sementara kenyataannya sangat berbeda?

“Jadi itu alasanmu? Jika itu alasanmu kenapa kau tak pernah menceritakannya padaku? Atau kau menyembunyikan sesuatu dari kami semua?” aku terus bertanya. Aku masih belum bisa terima alasan itu.

“Ya, itu alasanku. Perlu kau tau selama ini aku tidak pernah menyukaimu. Kau terlalu buruk untuk aku sukai, sikapmu yang tak pernah dewasa membuatku muak. Aku sendiri tidak percaya bisa bertahan hidup satu kamar denganmu. Kau orang paling menjijikkan yang pernah kutemui selama ini. Lihat saja dirimu itu, betapa menjijikannya dirimu. Terlalu kekanak-kanakan. Apa kau tidak sadar berapa usiamu sekarang? Apa kau tidak pernah berpikir apa jadinya jika kau masih bersikap seperti ini sampai kau tua nanti? Kau pikir suaramu yang bagus itu bisa menjamin hidupmu? Kau benar-benar orang yang tak punya otak,” dia mengeluarkan kata-kata yang tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya.

Semua member terkejut dengan perkataan Sungmin tersebut. Kata-katanya benar-benar menghujam hatiku. Aku sangat kecewa dibuatnya. Kini air mata ini sudah tidak bisa terbendung lagi. Aku menangis di pundak Yesung, bahkan Yesung sendiri ikut menangis mendengar kata-kata yang baru saja dia dengar.

“Tak bisakah kau urungkan niatmu? Berusahalah untuk mempertahankan kebersamaan kita. Tidak lihatkah kau betapa kecewanya kami semua setelah kehilangan Hankyung? Apa kami harus kehilangan seseorang lagi?” Teuki Hyung memohon disela isaknya.

“Tidak bisa, aku tidak mau. Keputusanku sudah bulat,” ujarnya tegas.

Hey, kalau kau ingin keluar silahkan. Apa kau pikir dengan kehilanganmu kami semua akan mati. Kalau itu penilaianmu tetang Super Junior selama ini, silahkan ikuti saja pemikiranmu yang buruk itu,” Heechul tak bisa menahan ucapannya lagi.

Satu-satunya orang yang tidak menangis hanyalah dia.

 

Sungmin POV

Aku sangat tidak kuat dengan hujaman kata-kata itu. Jika ada pilihan lain, ingin rasanya aku memilih jalan lain itu. Tapi inilah satu-satunya jalan yang harus kutempuh. Aku tidak ingin mengecewakan semua orang yang kusayangi. Aku tau kata-kataku ini akan membuat hati mereka semua terluka, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ingin segera kuakhiri semuanya, aku tidak sanggup lagi melanjutkan pembicaraan ini. Benar-benar kondisi yang sangat sulit, rasanya seperti menelan pil pahit saja.

Hyung, mianhae… Jeongmal mianhae aku tapi aku sudah membuat keputusan ini. Sore nanti akan kuurus surat pemutusan kontrak dengan pihak SM setelah itu aku akan mengambil barang-barangku,” ujarku singkat.

Aku pergi begitu saja. Aku tak ingin menatap mereka, aku tidak sanggup melihat air mata itu jatuh. Aku sayang kalian semua tapi inilah jalan yang terbaik agar aku bisa pergi dengan tenang. Aku melajukan mobilku ke gedung SM untuk mengurus semuanya. Awalnya sulit untuk kujelaskan kepada pihak SM keinginan keluar ini namun kasusku hampir sama dengan Hankyung Hyung. Kami sama-sama tertekan oleh keadaan. Pihak SM pun memutuskan kontrak denganku dan mengibarkan bendera perang terhadapku. Aku tau ini akan terjadi dan aku siap dengan resiko yang harus aku hadapi.

Sore di dorm.

Aku kembali ke dorm untuk mengambil barang-barangku. Aku memasukkan seluruh pakaianku kedalam koper. Hanya pakaian yang kubawa, selebihnya tetap kuletakkan pada tempatnya. Aku mulai mengeluarkan koperku dari kamar dan aku berpamitan pada semua member. Mereka menyalamiku dan memelukku dengan erat. Suara tangis telah menenggelamkan suasana dorm saat ini. Tapi aku mencoba untuk tegar.

Kulihat Kyuhyun tak mau menatapku dan bahkan dia hanya mengulurkan tangannya saja tanpa ada pelukan. Aku tau dia sangat kecewa dengan sikapku sebelumnya dan aku harus bisa terima sikapnya karena itulah yang harus aku hadapi sekarang. Sepertinya dia benar-benar membenciku. Kutatap satu persatu dari mereka dan perlahan kutinggalkan ruangan penuh kenangan ini.

Aku harus siap. Waktuku sudah tak banyak lagi. Aku harus melupakannya, melupakan kenangan indah selama ini bersama mereka. Kulangkahkan kakiku dengan mantap dan perlahan. Sakit kepala yang kurasakan bukanlah penghalang lagi bagiku.

***

3 hari kemudian.

Leeteuk POV

Drrrtt ddrrrtt.

Ponselku bergetar. Kulihat dilayar ponsel itu tertera orang tua Sungmin. Hatiku kembali pilu, sulit kupercaya kami kehilangan satu orang lagi yang kami cintai.

Yeoboseyo,” kujawab telepon itu.

Yeoboseyo. Bagaimana kabarmu?” tanya suara dari seberang sana.

Gwenchana ahjussi. Wae Geurae?” tanyaku pada ayah Sungmin.

“Aku ingin menanyakan bagaimana kabar anakku. Kenapa akhir-akhir ini dia tidak mengabariku?”

Aku terkejut dengan pertanyaan itu. Bagaimana bisa ayah Sungmin tidak mengetahui keberadaan anaknya. Apakah Sungmin tidak kembali kerumahnya?

“Apa maksud paman. Apa Sungmin-ah tidak pulang kerumah?” aku melemparkan pertanyaan tanpa menjawab pertanyaan ayah Sungmin.

“Tiga hari yang lalu dia pulang, tapi sikapnya aneh sekali. Dia meminta maaf pada kami atas sikapnya selama  ini jika ada yang tidak berkenan dihati kami. Memangnya ada apa? Sepertinya kau begitu terkejut mendengar pertanyaanku?” ujar ayah Sungmin.

“Begini paman, tiga hari yang lalu Sungmin-ah telah memutuskan  kontrak dengan pihak SM jadi sejak saat itu dia meninggalkan Dorm. Aku pikir dia pulang kerumah,” jelasku.

Jinjarro? Bisakah kita bertemu, nanti paman akan datang ke dorm kalian. Kalian tidak ada jadwal kan?” tanyanya terburu-buru.

“Ah tidak ada paman. Baiklah aku akan menunggu.”

Telepon kututup. Aku tau ayah Sungmin sekarang panik. Kutunggu kedatangannya untuk mencari tau apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku tidak menduga kalau kejadiannya akan seperti ini. Harusnya aku bisa mencegahnya. Aku benar-benar gagal menjadi Leader yang baik. Aku segera mencari Kyuhyun, bagaimanapun hancurnya hati Kyuhyun tapi dia berhak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Hyung kesayangannya itu.

 

Kyuhyun POV

Aku terkejut dengan penjelasan Teuki Hyung barusan. Bagaimana bisa dia menghilang dari hadapan kami semua termasuk orang tuanya sendiri. Jujur saja, sejak kejadian kemarin aku sangat membencinya tapi setelah mendengar kabar ini tak dapat kupungkiri ada rasa khawatir yang menyusup dibenakku. Bagaimanapun menyakitkannya kata-kata yang keluar dari mulutnya itu tidak bisa dengan mudah menghapus memori indah yang telah kami lalui bersama.

Bell dorm berbunyi, serentak aku dan Teuki Hyung berlari kearah pintu. Kami menunggu orang yang sama dari tadi dan kini orang itu telah berada dihadapan kami. Kami mempersilahkan masuk. Teuki Hyung pun mulai menjelaskan rincian kejadian yang terjadi tiga hari yang lalu. Tiba-tiba terlintas olehku untuk mencari tau tentangnya.

“Bagaimana kalau kita memeriksa semua barangnya. Mungkin kita bisa temukan sesuatu,” ujarku tiba-tiba.

“Kau benar,” ujar Teuki Hyung menyetujui usulku.

Kedua orang tua Sungmin tampak bingung tapi Teuki Hyung menangkap kebingungan mereka dan dia menjelaskan kalau Sungmin pergi dari dorm hanya membawa bajunya saja. Kami pun bergegas menuju kamar dan memeriksa seluruh barang milik Sungmin. Tapi kekecewaan itu kembali muncul saat kami tak menemukan satupun yang mengarah pada perubahan sikap Sungmin.

Kulihat ayah Sungmin menekan tombol ponselnya. Sepertinya ia menelpon seseorang, dan ternyata benar dia sedang menelpon seorang  pegawainya untuk melacak keberadaan anaknya itu. Orang tua Sungmin berpamitan pada kami. Dia berjanji setelah mendapat kabar, dia akan langsung beritahu kami. Kami pun melanjutkan usaha kami dengan menelpon semua teman-temannya yang kami tau. Namun tetap saja tak membuahkan hasil. Tak seorangpun tau keberadaannya.

Teuki Hyung melanjutkan pencariaan ke tempat-tempat yang sering kami kunjungi dan aku mencari ke universitas dimana ia menempuh jenjang pendidikannya itu. Ternyata usaha kami sia-sia. Sesampai di dorm semua member cemas karena kami tiba-tiba menghilang. Baru aku sadari ternyata kami pergi tanpa pamit karena saat ayah Sungmin datang mereka semua sedang berada dilantai 12. Setelah kami ceritakan apa yang terjadi mereka pun ikut cemas.

Sungmin, apa yang terjadi denganmu? Mengapa kau bertindak semaumu? Selama ini kau selalu menceritakan semua masalahku kepadaku tetapi kenapa tidak untuk kali ini. Apa masalahmu terlalu berat untuk kau hadapi sampai kau harus menghilang dari kami semua. Hatiku terus saja bertanya.

Tiba-tiba ponsel Teuki Hyung bergetar. Teuki Hyung mengangkat telpon itu dan entah apa yang mereka bicarakan aku sudah tidak perduli lagi. Yang kucemaskan sekarang hanyalah Sungmin. Tiba-tiba Teuki Hyung berkata kalau keberadaan Sungmin telah ditemukan. Kami segera menuju hotel dimana Sungmin berada.

Setiba disana kami tidak langsung masuk, kami meminta pelayan pengantar makanan untuk membantu kami. Aku mengusulkan ide ini karena aku tau Sungmin tidak akan membukakan pintu jika kami yang memintanya. Dia sudah mengenal suara kami satu persatu dan semuapun setuju.

“Permisi,” ujar pelayan.

Nugusaeyo?” sahut penghuni kamar itu.

“Makan siang telah sampai,” jawab pelayan.

“Masuklah, tidak dikunci. Letakkan saja disitu,” jawab Sungmin.

Kami semua ikut masuk, kami menuju tempat tidurnya. Kulihat sosok yang kukenal itu sedang berbaring namun ada sedikit kejanggalan yang terlihat disekitar kepalanya.

 

Sungmin POV

Kenapa langkah itu terdengar ramai sekali? Aku bertanya dalam hati. Semakin lama langkah itu semakin dekat. Aku pun membalikkan tubuhku dan betapa terkejutnya aku melihat pemandangan yang ada didepanku. Semua member Super Junior kini ada di depanku, menatapku dengan heran. Beberapa detik kemudian aku mulai terbiasa dengan keadaan.

“Minimi, apakah ini dirimu?” tanya Kyuhyun tak percaya.

“Tentu saja. Kini aku bukan lah Minimi yang kau kenal. Aku sekarang telah berubah menjadi monster yang begitu mengerikan,” ujarku pasrah.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya Ryeowook dan Yesung bersamaan.

“Apa perlu aku jelaskan? Aku rasa tidak, bukankah diantara kita sudah tidak ada hubungan lagi. Kenapa kalian merasa perduli padaku?” ujarku

“Tolong jawab pertanyaanku. Apa yang terjadi denganmu? Kenapa mukamu seperti ini?” Teuki Hyung mulai ikut bertanya.

“Tak bisakah kau berbagi penderitaan dengan kami semua. Apa kau lupa kalau kami semua adalah saudaramu?” Kyuhyun menghujaniku dengan kata-kata yang meluluhkan hatiku.

Kuambil sebuah kertas dari dalam laci. Kuberikan itu pada mereka dan mereka membaca satu persatu.

“Apa ini? Rabdomiosarkoma? Penyakit semacam apa yang ada di tubuhmu?” tanya Teuki Hyung.

“Kanker kelenjar jaringan lunak,” jawabku singkat.

Mwo? Kanker? Kalau begitu ayo kita obati segera sebelum kanker itu semakin parah,” ajak Kyuhyun, wajahnya penuh kekhawatiran.

Ani, ini bukan kanker kebanyakan. Aku tak akan selamat.”

“Kau jangan pemisis seperti ini, kita bisa lakukan pengobatan secara rutin. Aku rasa itu bisa mempertahankan waktu hidupmu. Kami semua bersamamu. Kalau kau mau kita bisa lakukan operasi,” Teuki hyung memberi semangat pada Sungmin.

Air mata itu kembali runtuh dari bendungannya. Tak satu orang pun di ruangan itu yang tak menangis. Mereka semua menangisi keadaanku yang begitu buruk.

Ani Hyung, apapun usahamu semua akan sia-sia. Kanker ditubuhku bukanlah kanker biasa. Kanker ini sungguh mematikan. Hanya dalam lima hari kanker itu bisa membunuh penderitanya. Ya, hanya dalam hitungan hari saja. Waktuku tidaklah banyak, mungkin hanya satu hari atau dua hari itu sudah cukup baik untukku. Kalaupun harus dioperasi aku akan kehilangan sebagian wajahku karena kanker itu tumbuh disebagian wajahku. Aku tidak ingin dioperasi, aku tidak ingin merusak wajah ini. Jadi kumohon pada kalian, pergilah sekarang juga,” ujarku.

Aku tak ingin menambah beban orang-orang disekelilingku.

“Kenapa kau bicara seperti itu, ayo kita kerumah sakit. Aku ingin kau selamat. Kumohon beri aku kesempatan untuk berusaha menyelamatkan hidupmu. Lupakan semua egomu selama ini. Jika kau ingin menangis, menangislah. Aku siap memberikan bahuku untukmu. Aku bahkan siap untuk menghabiskan sisa hidupku untuk menjagamu tapi kumohon ikuti keinginanku,” Kyuhyun mulai mengangkat tubuhku yang lemah ini.

Kurasakan sakit kepalaku sebelah kiri semakin menjadi. Aku merasakan kanker itu telah menggerogoti sebagian kepalaku. Kini mataku tak dapat terjaga lagi karena pembengkakan kelenjar dikepalaku kurasakan semakin membesar dan mulutku mulai lelah untuk berbicara. Pandangan mataku mulai kabur dan aku tertidur.

***

 

Sungmin POV

Di Rumah sakit.

Kubuka mataku dan aku mendapati orang-orang yang kusayangi berada disampingku. Ayah, ibu, adikku dan semua member Super Junior, mereka semua mendoakanku dengan tangis air mata.

“Sungmin-ah, kau sudah bangun nak?” tanya ibuku.

“I..b…u..” ujarku terbata-bata.

Kurasakan seluruh kepalaku terasa sakit. Saat dokter memasuki ruangan kulihat ia menyuntikkan sesuatu di infusku. Kurasakan kerasnya cairan itu masuk kedalam tubuhku. Rasanya seperti ditusuk oleh ribuan jarum, aku ingin menjerit tapi aku tak bisa bicara lagi. Ingin rasanya aku mengatakan pada mereka untuk menghentikan semua ini. Tubuhku benar-benar tidak bisa menerima cairan itu. Aneh sekali kini mulutku terasa lumpuh. Tak satu kata pun yang bisa aku ucapkan.

“Sungmin-ah, bicaralah sayang. Ibu disini,” kulihat ibuku menangis tak henti-hentinya.

“Sungmin-ah, bicaralah. Selama ini kau membagi semua bebanmu denganku. Kita selalu berbagi dalam keadaan suka dan duka. Kumohon setidaknya untuk terakhir kalinya kau katakan padaku apa yang bisa membuat sakitmu berkurang. Aku mohon..ak..ku mohon sungmin-ah,” Kyuhyun memohon sembari memegang erat tanganku.

Kulihat Semua orang saling menguatkan. Aku tau hidupku tak akan lama lagi tapi setidaknya aku tidak ingin meninggalkan mereka dalam kesedihan yang mendalam. Aku ingin mereka mengenangku sebagai Sungmin yang penuh keceriaan bukan sebagai Sungmin yang menyedihkan. Aku hanya bisa menitikkan air mata karena kini pandangan mataku mulai sayup.

“Sungmin-ah, katakan sesuatu. Jika kau tak bisa mengatakannya, kau bisa tulis di kertas ini,” Kyuhyun memberikan selembar kertas dan pena padaku.

Kuambil pena itu dan dengan segenap tenaga yang tersisa aku menulis sebuah kalimat di atas kertas itu.

 

Kyuhyun POV

Aku sadar Sungmin tak sanggup lagi untuk bicara tapi dia ingin menyampaikan sesuatu. Kuraih kertas yang ada di meja dan kuberikan padanya agar dia bisa menuliskannya pada kertas itu. Kubimbing tangannya yang lemah itu. Perlahan-lahan, huruf demi huruf ia tulis di kertas itu. Setelah selesai menulis ia tertidur lelap. Kami semua sempat khawatir namun pikiran negatif itu segera kami tepis karena pada kenyataan Sungmin hanya tertidur. Kemudian aku melihat kertas ditanganku itu dan membaca tulisan yang baru saja di tulis olehnya.

Aku ingin melihat senyum dan tawa orang-orang yang kusayang dari surga.

Tangisku semakin tak tertahankan lagi. Tuhan jika umurnya sampai disini aku akan rela melepaskannya pergi. Mungkin ini sudah jalan yang kau tunjukkan untuk kami agar kami merelakannya pergi. Dengan begitu dia tidak akan merasakan sakit yang dia rasakan. Kami semua saling menggenggam tangan satu sama lain. Ujian yang sungguh sulit untuk kami semua. Kulihat dia tertidur dengan senyum indahnya itu. Dia terlihat seperti tak ada beban sedikitpun. Kami pun memutuskan untuk menginap dirumah sakit.

Paginya kami semua terbangun. Kulihat Sungmin masih tertidur pulas. Hyungku yang aku sayangi, kau terlihat seperti anak usia 10 tahun. Aku tidak tau bagaimana jika harus hidup tanpamu. Tiba-tiba Sungmin membuka matanya. Tangannya meraih-raih tangan disekitarnya.

Kami semua mendekatinya dan menggenggam tangannya. Kedua orang tuanya pun ikut menggenggam tanagannya. Kulihat air matanya mengalir di pipinya. Aku tak kuasa menahan tangis ini, entah berapa kali aku menangis dalam beberapa hari ini. Rasanya air mata ini sudah kering tak bersisa.

Sungmin melepaskan genggaman tangan kanannya, ia melambaikan tangannya kepada kami. Entah apa maksudnya aku tidak mengerti. Sikapnya begitu aneh sekali. Dia terus melambaikan tangannya kepada kami kemudian perlahan-lahan tangan itu terjatuh dan genggaman tangan kirinya melemah. Tiba-tiba hawa dingin terasa dengan begitu cepatnya diikuti kepergiannya untuk selama-lamanya.

Hyung…..Hyung….,” kupanggil dia sekeras yang aku bisa tapi inilah batas pencapaian akhir hidupnya.

Dia telah melepaskan semua beban yang ada didalam hidupnya. Kami semua memeluk sungmin untuk terakhir kalinya. Semua melepas kepergiannya dengan perasaan duka. Aku tidak percaya hari ini telah datang. Hyungku yang aku sayangi selamat jalan. Kelak kita akan bertemu di surga. Itu janji kami padamu Hyung.

–FIN–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s