Laporan Praktikum Biometrika Hutan Klasifikasi Gambut

LAPORAN

BIOMETRIKA HUTAN

Klasifikasi Gambut

DISUSUN OLEH :

Nama : SITI NAPISAH

NIM : D1D010010

KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2012

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.       Latar Belakang

Gambut adalah jenis tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tetumbuhan yang setengah membusuk; oleh sebab itu, kandungan bahan organiknya tinggi. Tanah yang terutama terbentuk di lahan-lahan basah ini disebut dalam bahasa Inggris sebagai peat; dan lahan-lahan bergambut di berbagai belahan dunia dikenal dengan aneka nama seperti bog, moor, muskeg, pocosin, mire, dan lain-lain. Istilah gambut sendiri diserap dari bahasa daerah Banjar.

Sebagai bahan organik, gambut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Volume gambut di seluruh dunia diperkirakan sejumlah 4 trilyun m³, yang menutupi wilayah sebesar kurang-lebih 3 juta km² atau sekitar 2% luas daratan di dunia, dan mengandung potensi energi kira-kira 8 miliar terajoule.

Gambut terbentuk tatkala bagian-bagian tumbuhan yang luruh terhambat pembusukannya, biasanya di lahan-lahan berawa, karena kadar keasaman yang tinggi atau kondisi anaerob di perairan setempat. Tidak mengherankan jika sebagian besar tanah gambut tersusun dari serpih dan kepingan sisa tumbuhan, daun, ranting, pepagan, bahkan kayu-kayu besar, yang belum sepenuhnya membusuk. Kadang-kadang ditemukan pula, karena ketiadaan oksigen bersifat menghambat dekomposisi, sisa-sisa bangkai binatang dan serangga yang turut terawetkan di dalam lapisan-lapisan gambut.

Lazimnya di dunia, disebut sebagai gambut apabila kandungan bahan organik dalam tanah melebihi 30%; akan tetapi hutan-hutan rawa gambut di Indonesia umumnya mempunyai kandungan melebihi 65% dan kedalamannya melebihi dari 50cm. Tanah dengan kandungan bahan organik antara 35–65% juga biasa disebut muck.[1]

Pertambahan lapisan-lapisan gambut dan derajat pembusukan (humifikasi) terutama bergantung pada komposisi gambut dan intensitas penggenangan. Gambut yang terbentuk pada kondisi yang teramat basah akan kurang terdekomposisi, dan dengan demikian akumulasinya tergolong cepat, dibandingkan dengan gambut yang terbentuk di lahan-lahan yang lebih kering. Sifat-sifat ini memungkinkan para klimatolog menggunakan gambut sebagai indikator perubahan iklim pada masa lampau. Demikian pula, melalui analisis terhadap komposisi gambut, terutama tipe dan jumlah penyusun bahan organiknya, para ahli arkeologi dapat merekonstruksi gambaran ekologi pada masa purba.

Pada kondisi yang tepat, gambut juga merupakan tahap awal pembentukan batubara. Gambut bog yang terkini, terbentuk di wilayah lintang tinggi pada akhir Zaman Es terakhir, sekitar 9.000 tahun yang silam. Gambut ini masih terus bertambah ketebalannya dengan laju sekitar beberapa milimeter setahun. Namun gambut dunia diyakini mulai terbentuk tak kurang dari 360 juta tahun silam; dan kini menyimpan sekitar 550 Gt karbon

Sifat tanah gambut berbeda dengan tanah mineral lainya dan untuk menanam atau membuka lahan seperti ini memerlukan tindakan pengelolaan khusus. Sifat tanah gambut antara lain:

  • Kandungan bahan organik yang tinggi karena tanah berasal dari sisa tanaman mati dalam keadaan penggenangan permanen
  • Berat isipada (bulk density) sangat rendah sehingga dalam keadaan kering konsistensinya sangat lepas
  • Kadar hara makro tidak seimbang
  • Kadar hara mikro sangat rendah
  • Daya menahan air sangat besar dan jika mengalami kekeringan, tanah mengalami pengerutan (irreversible shrinkage)
  • Jika dilakukan pembuangan air (drainase) permukaan tanah akan mengalami penurunan (soil subsidence)

 

1.2.       Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui klasifiksi tanah gambut dengan menggunakan metode persan tangan
  2. Untuk mengidentifikasi kelas kematangan gambut pada kedua areal hutan gambut yang dikunjungi

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Gambut terbentuk dari seresah organik yang terdekomposisi secara anaerobik dimana laju penambahan bahan organik lebih tinggi daripada laju dekomposisinya. Di dataran rendah dan daerah pantai, mula-mula terbentuk gambut topogen karena kondisi anaerobik yang dipertahankan oleh tinggi permukaan air sungai, tetapi kemudian penumpukan seresah tanaman yang semakin bertambah menghasilkan pembentukan hamparan gambut ombrogen yang berbentuk kubah (dome) . Gambut ombrogen di Indonesia terbentuk dari seresah vegetasi hutan yang berlangsung selama ribuan tahun, sehingga status keharaannya rendah dan mempunyai kandungan kayu yang tinggi (Radjagukguk, 1990).

Di daerah tropis, penggunaan lahan gambut dimulai pada tahun 1900-an. Penebangan hutan, pembakaran dan pengatusan lahan dilakukan untuk tujuan pertanian dan pemukiman. Untuk tujuan perdagangan, 150.000 km2 per tahun dari lahan gambut dibuka dan diambil hasil kayunya, sedangkan di beberapa negara gambut digunakan sebagai energi sumber panas (Anonim, 2002). Hal ini tentu saja akan memberikan dampak yang sangat kuat bagi penurunan stabilitas gambut.

Di Asia Tenggara terdapat 70% dari total gambut tropik dunia terutama di Indonesia dan Malaysia. Di Indonesia lahan gambut tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya. Tidak seluruh lahan ini bisa dikembangkan, tetapi diperkirakan masih mungkin untuk dimanfaatkan seluas 5,6 juta hektar (Subagyo et al, 1996).

Lahan gambut mempunyai penyebaran di lahan rawa, yaitu lahan yang menempati posisi peralihan diantara daratan dan sistem perairan. Lahan ini sepanjang tahun/selama waktu yang panjang dalam setahun selalu jenuh air (water logged) atau tergenang air. Tanah gambut terdapat di cekungan, depresi atau bagian-bagian terendah di pelimbahan dan menyebar di dataran rendah sampai tinggi. Yang paling dominan dan sangat luas adalah lahan gambut yang terdapat di lahan rawa di dataran rendah sepanjang pantai. Lahan gambut sangat luas umumnya menempati depresi luas yang menyebar diantara aliran bawah sungai besar dekat muara, dimana gerakan naik turunnya air tanah dipengaruhi pasang surut harian air laut.

Penyebaran lahan gambut secara dominan terdapat di pantai timur pulau Sumatera, pantai barat dan selatan pulau Kalimantan dan pantai selatan dan utara pulau Irian Jaya. Penyebaran dan data luas gambut di Indonesia yang lebih pasti dan akurat belum dapat dipastikan. Terkecuali Sumatera yang gambutnya secara relatif telah banyak diteliti selama berlangsungnya Proyek Pembukaan Pasang Surut 1969-1984 (Subagyo, et al, 1996).

Luas lahan rawa yang terdiri tanah gambut dan tanah mineral (non-gambut) di Indonesia diperkirakan seluas 39,4-39,5 juta hektar, yakni kurang lebih seperlima (19,8 %) luas daratan Indonesia. Dari luasan tersebut tanah gambut terdapat sekitar 13,5-18,4 juta hektar atau rata-rata 16,1 juta hektar.

Sementara itu Nationwide Survey of Coastal and Near Coastal Swampland yang dilaksanakan oleh Euroconsult (1984) menyajikan data sebagai berikut : (Diemont, 1991, Subagyo et al, 1996)

  1. Lahan rawa pasang surut  24,6 juta ha
  2. Tanah gambut (peat)  20,0 juta ha
  3. Lahan rawa pasang surut air payau/salin  3,5-4 juta ha
  4. Lahan rawa mangrove dan gambut dalam (lebih dari 2 meter) tidak sesuai untuk pertanian  16,0 juta ha
  5. Tanah mineral dan gambut dangkal (kurang dari 2 meter) telah direklamasi menjadi lahan pertanian  3,3 juta ha
  6. Gambut dangkal masih tertutup hutan, secara potensial sesuai untuk  reklamasi guna lahan pertanian 5,6 juta ha

Jika data tersebut masih berlaku, karena sampai tahun 2000 tidak terdapat proyek reklamasi lahan rawa berskala besar, maka lahan gambut dangkal yang potensial untuk usaha pertanian diperkirakan masih terdapat 5,6 juta hektar.

Berdasarkan tingkat kesuburan alami, gambut dibagi dalam 3 kelompok yakni eutrofik (kandungan mineral tinggi, reaksi gambut netral atau alkalin), oligotrofik (kandungan mineral, terutama Ca rendah dan reaksi masam) dan mesotrofik ( terletak diantara keduanya dengan pH sekitar 5, kandungan basa sedang). Ketebalan atau kedalaman gambut juga menentukan tingkat kesuburan alami dan potensi kesesuaiannya untuk tanaman. Widjaja-Adhi,   et al, (1992) dan Subagyo, et al, (1996) membagi gambut dalam 4 kelas, yaitu dangkal (50-100 cm), agak dalam (100-200 cm), dalam (200-300 cm) dan sangat dalam (lebih dari 300 cm).

Berdasarkan lingkungan tumbuh dan pengendapannya gambut di Indonesia dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu (1) gambut ombrogenous, dimana kandungan airnya hanya berasal dari air hujan. Gambut jenis ini dibentuk dalam lingkungan pengendapan dimana tumbuhan pembentuk yang semasa hidupnya hanya tumbuh dari air hujan, sehingga kadar abunya adalah asli (inherent) dari tumbuhnya itu sendiri (2) gambut topogenous, dimana kandungan airnya hanya berasal dari air permukaan. Jenis gambut ini diendapkan dari sisa tumbuhan yang semasa hidupnya tumbuh dari pengaruh elemen yang terbawa oleh air permukaan tersebut. Daerah gambut topogenous lebih bermanfaat untuk lahan pertanian dibandingkan dengan gambut ombrogenous, karena gambut topogenous mengandung relatif lebih banyak unsur hara (Rismunandar, 2001).

Sifat-sifat Tanah Gambut

Diantara sifat inheren yang penting dari tanah gambut di daerah tropis adalah : bahan penyusun berasal dari kayu-kayuan, dalam keadaan tergenang, sifat menyusut dan subsidence ( penurunan permukaan gambut) karena drainase, kering tidak balik, pH yang sangat rendah dan status kesuburan tanah yang rendah. Pengembangan usaha pertanian sangat dibatasi oleh beberapa hal di atas (Andriesse, 1988).

A. Sifat Fisik

Gambut tropis umumnya berwarna coklat kemerahan hingga coklat tua (gelap) tergantung tahapan dekomposisinya. Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15-30 kali dari berat kering, rendahnya bulk density (0,05-0,4 g/cm3) dan porositas total diantara 75-95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling, 2000)

Sebagai contoh di Malaysia, tiga komoditas utama yaitu kelapa sawit, karet dan kelapa cenderung pertumbuhannya miring bahkan  ambruk sebagai akibat akar tidak mempunyai tumpuan tanah yang kuat (Singh et al, 1986).

Sifat lain yang merugikan adalah apabila gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak. Terjadi gejala kering tak balik (irreversible drying) dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al, 1996). Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4-5 minggu pengeringan dan ini mengakibatkan gambut mudah terbakar.

B. Sifat-sifat Kimia

Ketebalan horison organik, sifat subsoil dan frekuensi luapan air sungai mempengaruhi komposisi kimia gambut. Pada tanah gambut yang sering mendapat luapan, semakin banyak kandungan mineral tanah sehingga relatif lebih subur.

Tanah gambut tropis mempunyai kandungan mineral yang rendah dengan kandungan bahan organik lebih dari 90%. Secara kimiawi gambut bereaksi masam (pH di bawah 4) Andriesse (1988). Gambut dangkal pH lebih tinggi (4,0-5,1), gambut dalam (3,1-3,9). Kandungan N total tinggi tetapi tidak tersedia bagi tanaman karena rasio C/N yang tinggi. Kandungan unsur mikro khususnya Cu, B dan Zn sangat rendah ( Subagyo et al, 1996).

Di Malaysia, pH gambut berkisar antara 3,2 – 4,9 sedangkan di pantai timur Sumatera berkisar 3,42 – 4,3. Gambut yang berkembang disepanjang pantai timur Sumatera mempunyai sifat-sifat : gambut dalam (lebih dari 4 m) dengan status hara kahat N, P, K, Mg, Ca, Zn dan B berada dalam keadaan cukup, sedangkan faktor pembatas utama pada lahan gambut adalah tidak tersedianya unsur Cu bagi tanaman (Sudradjat dan Qusairi, 1992).

 

 

BAB III

METODE PRAKTIKUM

 

3.1.       Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 16 Desember 2012. Praktikum ini dilakukan pada dua lokasi berbeda, yaitu pada areal Hutan Tanaman Industri distrik VII PT. Wira Karya Sakti dan pada Hutan Lindung Gambut Sungai Buluh Tanjung Jabung Timur.

 

3.2.       Alat dan Bahan

  • Bor tanah
  • Kamera
  • Alat tulis

 

3.3.       Prosedur Kerja

  1. Mengamati tanah gambut yang ada di kedua areal.
  2. Mengidentifikasi sifat morfologi tanah gambut
  3. Menganalisis klasifiasi kematangan gambut
  4. Mendokumentasi tanah gambut di kedua area

 

 

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN

 

Berdasarkan hasil analisis kematangan gambut di areal distrik VII PT. Wira Karya Sakti dengan menggunakan metode perasan tangan, dapat diketahui bahwa pada permukaan tanah merupakan gambut dengan tingkat fibrik dan pada kedalaman 750 cm baru didapatkan gambut dengan tingkat saprik. Di bawah ini adalah gambar yang diambil saat dilakukan metode perasan tangan.

Berdasarkan dari tingat kematangan gambut yang ada di areal distrik VII PT. Wira Karya Sakti tersebut, maka dapat diidentifikasi bahwa gambut fibrik terdiri dari bahan organik yang belum benar-benar melapuk, bahan asalnya masih bisa dikenali, warnanya coklat dan saat diremas dengan tangan, serat yang tersisa lebih dari 75%.

Sedangkan gambut hemik yang dijumpai memiliki warna yang lebih tua dari gambut fibrik, bahan asalnya sudah tidak dapat dikenali dan saat diremas dengan tangan, serat yang tertinggal adalah sekitar 50%.

Pada kedalaman 750 cm, ditemukan gambut saprik atau gambut yang sudah matang. Gambut ini sudah melapuk dan terlihat seperti tanah karena bahan asalnya sama sekali tidak terlihat. Warnanya coklat hitam dan saat diremas dengan tangan, serat yang tertinggal di telapak tangan hanya sekitar 10-20% saja.

Warna air yang terdapat pada areal ini adalah coklat kehitaman. Karena areal ini merupakan areal HTI, maka tumbuhan yang ada di sana adalah tanaman HTI yang kebetulan sedang dipanen saat kami melakukan praktikum di kawasan ini. Tumbuhan lain yang hidup di sana adalah sejenis paku-pakuan.

Pada kawasan Hutan Lindung Gambut Sei. Buluh Tanjung Jabung Timur, keadaan tanahnya tidak jauh berbeda dari yang ada di distrik VII. Setelah melakukan analisis klasifikasi gambut dengan metode perasan tangan, dapat dikatakan bahwa gambut yang ada di permukaan Hutan Lindung ini berada pada tingkat hemik dan pada kedalaman selanjutnya tingkat kematangannya adalah saprik.

Sama seperti pada distrik VII, ciri-ciri yang ditunjukkan tanah gambut ini tidak jauh berbeda. Gambut hemik yang dijumpai memiliki warna yang coklat tua, bahan asalnya sudah tidak dapat dikenali dan saat diremas dengan tangan, serat yang tertinggal adalah sekitar 50%.

Dan selanjutnya, ditemukan gambut saprik atau gambut yang sudah matang. Gambut ini sudah melapuk dan terlihat seperti tanah karena bahan asalnya sama sekali tidak terlihat. Warnanya coklat hitam dan saat diremas dengan tangan, serat yang tertinggal di telapak tangan hanya sekitar 10-20% saja.

Warna air yang ada di Hutan Lindung Gambut ini juga sama dengan yang ada di distrik VII, yaitu berwarna coklat tua.

Ada banyak vegetasi yang ditemukan di dalam Hutan Lindung Gambut Sei. Buluh Tanjung Jabung Timur ini, antara lain adalah jelutung, rotan, medang-medangan dan juga ramin. Lantai hutan ini juga ditutup oleh banyak serasah.

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

5.1.      Kesimpulan

Gambut terbentuk dari seresah organik yang terdekomposisi secara anaerobik dimana laju penambahan bahan organik lebih tinggi daripada laju dekomposisinya. Di dataran rendah dan daerah pantai, mula-mula terbentuk gambut topogen karena kondisi anaerobik yang dipertahankan oleh tinggi permukaan air sungai, tetapi kemudian penumpukan seresah tanaman yang semakin bertambah menghasilkan pembentukan hamparan gambut ombrogen yang berbentuk kubah (dome).

Ada tiga klasifikasi gambut berdasarkan tingkat kematangannya, yaitu Gambut fibrik terdiri dari bahan organik yang belum benar-benar melapuk, bahan asalnya masih bisa dikenali, warnanya coklat dan saat diremas dengan tangan, serat yang tersisa lebih dari 75%.

Gambut hemik memiliki warna yang lebih tua dari gambut fibrik, bahan asalnya sudah tidak dapat dikenali dan saat diremas dengan tangan, serat yang tertinggal adalah sekitar 50%.

Gambut saprik atau gambut yang sudah matang. Gambut ini sudah melapuk dan terlihat seperti tanah karena bahan asalnya sama sekali tidak terlihat. Warnanya coklat hitam dan saat diremas dengan tangan, serat yang tertinggal di telapak tangan hanya sekitar 10-20% saja.

 

 

 

Daftar Pustaka

 

http://id.wikipedia.org/wiki/tanah-gambut

http://google.com/tanah-gambut

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s