Laporan Praktikum Biometrika Hutan Pengukuran Cadangan Karbon

LAPORAN

BIOMETRIKA HUTAN

Pengukuran Cadangan Karbon pada Lahan Agroforest Karet Muda

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 4

SITI NAPISAH                                                             D1D010010

DESI NUR’AINI                                                            D1D010035

SANTIA AGUSTINI                                                     D1D010037

AGUNK JALPA                                                           D1D010043

SINGGIH HADI MARWAN                                          D1D010045

 

KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2012

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.       Latar Belakang

Isu  pemanasan   global   yang   disebabkan   oleh   pelepasan   emisi   gas   rumah   kaca (GRK) menjadi topik yang menglobal. Negara – negara emitter mempunyai suatu komitmen untuk   menurunkan  emisi   dari  berbagai    aktifitas  ekonomi   yang    dilakukannya. Skema penurunan  emisi dirancang dalam  kegiatan  Aforestasi   dan   Reforestasi    Mekanisme Pembangunan   Bersih   (Clean   Development  Mechanism   atau   A/R  CDM). Kegiatan  CDM difokuskan kepada sektor industri (Murdiyarso, 2005).  Selain CDM, kegiatan yang berkaitan dengan      pemanasan  global   yakni  Penurunan  Emisi  dari   Deforestasi    dan   Degradasi Reducing Emission from Deforestation and Degradation (REDD). REDD merupakan suatu inisiasi  Pemerintah     Indonesia  pada    CoP   ke-13    di  Bali,  yang  menitik  beratkan   kepada kegiatan   konservasi   dan   pelestarian   kawasan   hutan.     Pada   CoP  ke-15   di   Kopenhagen Tahun   2009,   Pemerintah   Indonesia  mempunyai   suatu   komitmen  pada   Tahun   2020   untuk  menurunkan   emisi   sebesar   26   persen   dengan   kekuatan   sendiri,  dan   sebesar   41  persen dengan   bantuan   multilateral,   dengan   target   laju  pertumbuhan   ekonomi sebesar   7  persen. REDD berkembang  menjadi   REDD+,   dimana   selain penurunan   emisi   dari deforestasi  dan degradasi, juga bertujuan untuk pengayaan karbon, pengembangan keragaman hayati, dan penurunan kemiskinan masyarakat  sekitar kawasan hutan (Satgas REDD+, 2011).

Kawasan      hutan   yang   terdegradasi    yang   dikonservasi    atau   yang   tetap  lestari, menurut     skema   REDD+,      dapat   merupakan     suatu   peluang   untuk   mendapatkan      insentif karbon.   Insentif karbon diperoleh dengan tidak melakukan penebangan hutan untuk diambil kayunya, tetapi diperoleh dari besarnya perhitungan tambahan serapan karbon. Besarnya tambahan serapan karbon dari jenis tanaman hutan dapat dinilai sebagai suatu jasa dalam perdagangan karbon (Murdiyarso, 2007). Selain dari spesies tanaman hutan, karet adalah jenis   tanaman   dengan   pohon   berkayu   dan   bercabang,      dapat   merupakan   potensi    untuk mendapatkan   kredit   karbon  yang   dapat   dimanfaatkan   pada   lahan   degradasi   atau   kritis. Luas lahan kritis pada kawasan hutan di Indonesia sampai Tahun 2008 mencapai sekitar 59,17 juta hektar dari total seluruhnya seluas 77,81 juta  hektar, dan yang tergolong lahan sangat kritis sekitar 6,89 juta hektar (Kementerian Kehutanan RI. 2009).

Indonesia merupakan produsen karet utama dunia dengan luas perkebunan rakyat pada tahun Tahun 2011 sekitar 2,90 juta hektar , dari total luas perkebunan karet termasuk yang    dikelola  oleh  perusahaan    sekitar  3,40  juta   hektar .  Karet  rakyat    sebagian    besar diusahakan   dengan   pola   tanaman   campuran   (polikultur),     yang  merupakan  andalan   bagi sebagian   besar   petani   Indonesia   sebagai  sumber   nafkah   yang   utama  (Ditjenbun,   2011). Karet   selain   diusahakan   pada   areal   penggunaan   lain   (APL),   dengan   terbitnya  Peraturan Menteri    Kehutanan     Republik   Indonesia   (Permenhut)     Nomor    P.49/Menhut-11/2008  dapat dikembangkan   pada   kawasan   hutan   produksi   yang   belum   dibebani   hak  melalui   Program Hutan     Desa   untuk    mensejahterakan      masyarakat   sambil     melestarikan    kawasan    hutan.

Isu lingkungan merupakan topik yang sedang ramai dibicarakan masyarakat dunia dalam beberapa tahun terakhir. Setelah Pangan dan energi isu lainnya adalah pemanasan global (global warming). Banyak faktor dituding sebagai pemicu yang dapat mempercepat melelehnya es di belahan kutub utara maupun selatan dunia. Bahan bakar fosil (minyak bumi dan batubara) memberikan kontribusi tertinggi penyebab pemanasan global. Beberapa sumber menyebutkan bahwa deforestrasi (penggundulan hutan) disertai pembakaran menyumbangkan seperlima bagian dalam pemanasan global. Hasil dari aktivitas tersebut adalah terlepasnya berjuta-ton carbon ke udara yang telah difiksasi oleh tanaman hutan selama bertahun-tahun.

Pada 15 tahun lalu diperkirakan lebih dari 1 milyar ton karbon dalam bentuk gas CO2 dilepaskan ke udara, pada saat ini tentunya angka tersebut sangat jauh terlampaui mengingat laju kerusakan paru-paru dunia yang sangat cepat. Pemerintah bersama stake holdernya harus serius dalam menghambat laju deforestrasi yang cukup cepat di Indonesia. Pelaku deforestrasi sebenarnya tidak hanya terbatas pada perusahaan saja tetapi juga masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya hal tersebut, salah satu caranya adalah dengan pembangunan kebun karet (Hevea brasiliensis) di sekitar kawasan hutan yang dikelola oleh masyarakat.

Perkebunan karet dapat berperan sebagai buffer zone yang dapat mengurangi laju penebangan hutan. Dengan adanya program tersebut diharapkan dapat menggantikan sumber pendapatan masyarakat di sekitar hutan yang tadinya berasal dari penjualan kayu hutan menjadi petani karet. Tanaman karet merupakan tanaman dengan daya adaptabilitas yang tinggi sehingga tanaman ini mudah tumbuh dimana saja, jika dilihat dari persyaratan tumbuhnya terutama agroklimat, tanaman karet cukup sesuai dikembangkan di sebagian besar wilayah Indonesia.

 

1.2.       Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui secara langsung cara pengukuran cadangan karbon pada suatu areal
  2. Untuk mengetahui seberapa besar kandungan karbon yang tersimpan di hutan karet muda Fakultas Pertanian Universitas Jambi

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Tanaman merupakan makhluk hidup yang sangat efektif dalam menambat karbon dari udara, proses tersebut terjadi melalui fotosintesis. Asimilat hasil fotosintesis selanjutnya dijadikan sebagai bahan penyusun tubuh tanaman (daun, batang, akar, dsb). Salah satu tanaman perkebunan yang cukup efektif dalam memfiksasi karbon adalah karet. Dalam satu siklusnya (+27 tahun) sebanyak 318,7 ton karbon dapat difiksasi tanaman ini dalam setiap hektarnya (sumber: sivakumaran, 2000). Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah karbon yang difiksasi tanaman kelapa sawit selama satu siklus hidupnya (+ 25 tahun) yang hanya sebesar 90 ton/ha (sumber: Chan, 1980).

Data Ditjenbun tahun 2008 menunjukkan bahwa luas areal tanaman karet di Indonesia mencapai 3,3 juta hektar dan terluas di dunia. Setidaknya lebih dari 30 juta ton karbon dapat difiksasi dalam setiap tahunnya. Dapat dibayangkan berapa besar gas rumah kaca hasil pembakaran bahan bakar fosil yang dapat difiksasi dan berapa besar pula oksigen yang telah diproduksi dalam setiap tahunnya. Melihat fakta tersebut para pakar karet termasuk dari Indonesia, yang tergabung dalam IRRDB (International Rubber Research Institute) tengah mengupayakan perdagangan karbon (carbon trading) hasil fiksasi tanaman karet.

Sebenarnya keengganan pelaku usaha agribisnis maupun petani untuk menanam karet adalah karena periode belum menghasilkan yang cukup lama (4,5-5 tahun), padahal margin keuntungan usaha agribisnis ini cukup menggiurkan terbukti dari beberapa perusahaan perkebunan negara maupun swasta memperoleh keuntungan signifikan dari agribisnis tanaman ini. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian lingkungan dalam agribisnis perkebunan perlu dibangun, agar selain mendapatkan keuntungan juga secara tidak langsung dapat menyelamatkan dunia.

 

 

BAB III

METODE PRAKTIKUM

 

3.1.       Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu, bertempat di Hutan Karet Muda di areal Fakultas Pertanian Universitas Jambi, dan Laboratorium.

 

3.2.       Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang diperlukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut

  1. Pita Ukur (Meteran) berukuran panjang 50 m
  2. Tali Plastik berukuran panjang 100 m dan 20 m atau 40 m dan 5 m tergantung ukuran petak contoh yang akan dibuat.
  3. Tongkat kayu/bambu sepanjang 2.5 m untuk mengukur lebar sub plot utama ke sebelah kiri dan kanan dari garis tengah, atau 10 m untuk plot.
  4. Tongkat kayu/bamboo sepanjang 1.3 m untuk memberi tanda pada pohon yang akan diukur diameternya
  5. Patok kayu (paralon) sepanjang 1 m untuk penand apabila plot tersebut akan dijadikan plot permanen
  6. Pita ukur (meteran) berukuran minimal 5 m untuk mengukur lilit batang atau jangka sorong untuk mengukur diameter pohon ukuran kecil.
  7. Parang
  8. Spidol
  9. Koran
  10. Label

 

3.3.       Prosedur Kerja

  1. A.      Pembuatan petak contoh permanen
    1. Petak contoh (sub plot utama) ukuran 40 m x 5m, untuk pengukuran cadangan karbondi hutan alami, semak belukar, dan agroforestri dengan tingkat kerapatan pohon tinggi. Pohon yang diukur adalah pohon dengan diameter 5 cm hingga 30 cm (atau lingkar/lilit pohon 15-95 cm)
    2. Petak contoh (plot) ukuran 100 m x 20 m, plot ini  dibuat jika dalam plot tersebut terdapat pohon dengan diameter lebih besar dari 30 cm (lingkar/lilit 95 cm), maka buatlah plot kedua yang lebih besar 100 m x 2- m. Lakukan pengukuran hanay pada pohon besar saja dengan diameter lebih dari 30 cm.
  2. B.       Pengukuran biomassa tumbuhan bawah ( understorey)
    1. Tempatkan kuadran bambu/kayu di dalam sub plot utama (5 m x 40 m) secara acak.
    2. Potong semua tumbuhan bawah (pohon berdiameter < 5 cm, herba dan rumput-rumputan) yang terdapat di dalam kuadran, pisahkan antara daun dan batang
    3. Masukkan ke dalam kantong plastic, beri label sesuai dengan kode sub plotnya
    4. Untuk memudahkan penanganan, ikat semua kantong kertas berisi tumbuhan bawah yang diambil dari satu plot.
    5. Masukkan dalam karung besar untuk mempermudah pengangkutan ke camp/laboratorium
    6. Timbang berat basah daun atau batang, catat beratnya dalam lembar pengamatan
    7. Ambil sub-contoh tanaman dari masing-masing biomassa daun dan batang sekitar 100-300 gr. Bila biomassa contoh yang didapatkan hanya sedikit (<100 gr), maka timbang semuanya dan dijadikan sebagai sub-contoh.
    8. Keringkan sub-contoh biomassa tanaman yang telah diambil dalam oven pada suhu 80oC selama 48 jam.
    9. Timbang berat keringnya dan catat dalam lembar pengamatan
  3. C.      Pengukuran nekromassa di permukaan tanah
  • Nekromassa berkayu
  1. Ukur diameter atau lingkar batang dan panjang atau tinggi semua pohon mati yang berdiri maupun yang rooh, tunggul tanaman mati, cabang dan ranting. Pada pohon yang mati berdiri, diameter diukur pada 1,3 m di atas permukaan tanah. Pada pohon yang mati rebah cabang, ranting dan tunggul, pengukuran diameter dilakukan pada kedua ujungnya.
  2. Catat dalam lembar pengukuran
  • Nekromassa  tidak berkayu
  1. Gunakan kuadran kayu/bambu, ambillah contoh seresah kasar langsung setelah pengambilan contoh biomassa tumbuhan bawah, lakukan pada sub plot dan luas kuadran yang sama dengan yang dipakai untuk pengambilan contoh biomassa tumbuhan bawah.
  2. Amil semua sisa-sisa bagian tanaman mati, daun-daun dan ranting-ranting gugur yang terdapat dalam tiap-tiap kuadran, masukkan kedalam kantong/koran dan diberi label sesuai dengan kode sub plotnya.
  3. Untuk Untuk memudahkan penanganan, ikat semua kantong kertas berisi serasah yang diambil dari satu plot.
  4. Keringkan semua serasah, bila sudah kering pisahkan antara serasah dengan tanah yang menempel pada serasah .
  5. Keringkan serasah dlaam oven dengan suhu suhu 80oC selama 48 jam.
  6. Timbang berat keringnya dan catat dalam lembar pengamatan.

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1.      Hasil

Lembar pengukuran biomasa : Diameter dan tinggi pohon-pohon besar (diameter > 30 cm)

Nama lokasi : Agroforest Karet / Kebun Karet

Jenis Penggunaan Lahan : Kebun Karet

Nama Pengukur :   Singgih Hadi Marwan

Siti Napisah

Santia Agustini

Desi Nur’aini

Agunk Jalpa

Tanggal/Bulan/Tahun : 7 November 2012

Ukuran Plot Contoh : 20 m x 100 m = 2000 m2

No

Nama Pohon

Bercabang/Tidak

K (cm)

D (cm)

ρ

BK-Biomasa, Kg/Pohon

Catatan

1

Mahoni

Bercabang

K1 : 123,5

K2 : 88,4

33,7

0,61

288,84163

2

Sengon

Bercabang

K1 : 159,2

K2 : 123,9

45,07

0,33

1121,5654

3

Sengon

Bercabang

K1 : 99,6

K2 : 107,9

33,03

0,33

510,1341

4

Sengon

Tidak

98,4

31,33

0,33

445,3717

5

Sengon

Tidak

100,7

31,84

0,33

464,2613

6

Sengon

Tidak

174,5

55,57

0,33

1884,1178

7

Sengon

Tidak

186,5

59,39

0,33

2440,4205

8

Sengon

Tidak

177,4

56,49

0,33

1961,4086

9

Sengon

Tidak

225

71,65

0,33

3480,9539

 

Total Biomasa Pohon

12597,07493

 

Pengolahan Data

  1. Mahoni

(AGB)est = ρ x exp (-1,499 + 2,148 In (D) + 0,207 (In (D))2 – 0,0281 (In (D)3)

(AGB)est = 0,61 x exp (-1,499 + 2,148 In (33,74) + 0,207 (In (33,74))2 – 0,0281 (In (33,74)3))

(AGB)est = 283,8416 Kg/Pohon

 

  1. Sengon

(AGB)est = ρ x exp (-1,499 + 2,148 In (D) + 0,207 (In (D))2 – 0,0281 (In (D)3)

(AGB)est = 0,33 x exp (-1,499 + 2,148 In (45,07) + 0,207 (In (45,07))2 – 0,0281 (In (45,07)3))

(AGB)est = 1121,5654 Kg/Pohon

 

  1. Sengon

(AGB)est = ρ x exp (-1,499 + 2,148 In (D) + 0,207 (In (D))2 – 0,0281 (In (D)3)

(AGB)est = 0,33 x exp (-1,499 + 2,148 In (33,03) + 0,207 (In (33,03))2 – 0,0281 (In (33,03)3))

(AGB)est = 510,1341 Kg/Pohon

 

  1. Sengon

(AGB)est = ρ x exp (-1,499 + 2,148 In (D) + 0,207 (In (D))2 – 0,0281 (In (D)3)

(AGB)est = 0,33 x exp (-1,499 + 2,148 In (31,33) + 0,207 (In (31,33))2 – 0,0281 (In (31,33)3))

(AGB)est = 445,3717 Kg/Pohon

 

  1. Sengon

(AGB)est = ρ x exp (-1,499 + 2,148 In (D) + 0,207 (In (D))2 – 0,0281 (In (D)3)

(AGB)est = 0,33 x exp (-1,499 + 2,148 In (31,84) + 0,207 (In (31,84))2 – 0,0281 (In (31,84)3))

(AGB)est = 464,2613 Kg/Pohon

 

  1. Sengon

(AGB)est = ρ x exp (-1,499 + 2,148 In (D) + 0,207 (In (D))2 – 0,0281 (In (D)3)

(AGB)est = 0,33 x exp (-1,499 + 2,148 In (55,57) + 0,207 (In (55,57))2 – 0,0281 (In (55,57)3))

(AGB)est = 1184,1178 Kg/Pohon

 

  1. Sengon

(AGB)est = ρ x exp (-1,499 + 2,148 In (D) + 0,207 (In (D))2 – 0,0281 (In (D)3)

(AGB)est = 0,33 x exp (-1,499 + 2,148 In (59,39) + 0,207 (In (59,39))2 – 0,0281 (In (59,39)3))

(AGB)est = 2440,4205 Kg/Pohon

 

  1. Sengon

(AGB)est = ρ x exp (-1,499 + 2,148 In (D) + 0,207 (In (D))2 – 0,0281 (In (D)3)

(AGB)est = 0,33 x exp (-1,499 + 2,148 In (56,49) + 0,207 (In (56,49))2 – 0,0281 (In (56,49)3))

(AGB)est = 1961,4086 Kg/Pohon

 

  1. Sengon

(AGB)est = ρ x exp (-1,499 + 2,148 In (D) + 0,207 (In (D))2 – 0,0281 (In (D)3)

(AGB)est = 0,33 x exp (-1,499 + 2,148 In (71,65) + 0,207 (In (71,65))2 – 0,0281 (In (71,65)3))

(AGB)est = 3480,9539 Kg/Pohon

 

 

 

Rata-rata = 6,296 Kg/m2

Rata-rata = 62,96 Ton/Ha

Lembar pengukuran biomasa : Diameter dan tinggi pohon-pohon sedang (diameter 5-30 cm)

Nama lokasi : Agroforest Karet / Kebun Karet

Jenis Penggunaan Lahan : Kebun Karet

Nama Pengukur :   Singgih Hadi Marwan

Siti Napisah

Santia Agustini

Desi Nur’aini

Agunk Jalpa

Tanggal/Bulan/Tahun : 7 November 2012

Ukuran Plot Contoh : 5 m x 40 m = 200 m2

No.

Nama Pohon

Bercabang/Tidak

K (cm)

D (cm)

ρ

BK-Biomasa, Kg/Pohon

Catatan

1

Karet

Tidak

23,5

7,48

0,61

18,8816

2

Sengon

Tidak

61,2

19,49

0,33

129,2047

3

Karet

Tidak

27,5

8,75

0,61

28,5873

4

Karet

Tidak

20,4

6,49

0,61

12,9910

5

Karet

Tidak

41,5

13,21

0,61

85,3217

6

Karet

Tidak

28,5

9,07

0,61

31,4423

7

Karet

Tidak

37,2

11,84

0,61

58,7697

 

Total Biomasa Pohon

365,1983

 

Pengolahan Data

  1. Karet

(AGB)est = ρ x exp (-1,499 + 2,148 In (D) + 0,207 (In (D))2 – 0,0281 (In (D)3)

(AGB)est = 0,61 x exp (-1,499 + 2,148 In (7,48) + 0,207 (In (7,48))2 – 0,0281 (In (7,48)3))

(AGB)est = 18,8816 Kg/Pohon

 

  1. Sengon

(AGB)est = ρ x exp (-1,499 + 2,148 In (D) + 0,207 (In (D))2 – 0,0281 (In (D)3)

(AGB)est = 0,33 x exp (-1,499 + 2,148 In (19,49) + 0,207 (In (19,49))2 – 0,0281 (In (19,49)3))

(AGB)est = 129,2047 Kg/Pohon

 

  1. Karet

(AGB)est = ρ x exp (-1,499 + 2,148 In (D) + 0,207 (In (D))2 – 0,0281 (In (D)3)

(AGB)est = 0,61 x exp (-1,499 + 2,148 In (8,75) + 0,207 (In (8,75))2 – 0,0281 (In (8,75)3))

(AGB)est = 28,5873 Kg/Pohon

 

  1. Karet

(AGB)est = ρ x exp (-1,499 + 2,148 In (D) + 0,207 (In (D))2 – 0,0281 (In (D)3)

(AGB)est = 0,61 x exp (-1,499 + 2,148 In (6,49) + 0,207 (In (6,49))2 – 0,0281 (In (6,49)3))

(AGB)est = 12,9910 Kg/Pohon

  1. Karet

(AGB)est = ρ x exp (-1,499 + 2,148 In (D) + 0,207 (In (D))2 – 0,0281 (In (D)3)

(AGB)est = 0,61 x exp (-1,499 + 2,148 In (13,21) + 0,207 (In (13,21))2 – 0,0281 (In (13,21)3))

(AGB)est = 85,3217 Kg/Pohon

 

  1. Karet

(AGB)est = ρ x exp (-1,499 + 2,148 In (D) + 0,207 (In (D))2 – 0,0281 (In (D)3)

(AGB)est = 0,61 x exp (-1,499 + 2,148 In (9,07) + 0,207 (In (9,07))2 – 0,0281 (In (9,07)3))

(AGB)est = 31,4423 Kg/Pohon

 

  1. Karet

(AGB)est = ρ x exp (-1,499 + 2,148 In (D) + 0,207 (In (D))2 – 0,0281 (In (D)3)

(AGB)est = 0,61 x exp (-1,499 + 2,148 In (11,84) + 0,207 (In (11,84))2 – 0,0281 (In (11,84)3))

(AGB)est = 58,7697 Kg/Pohon

 

 

 

Rata-rata = 1,8259 Kg/m2

Rata-rata = 18,259 Ton/Ha

 

 

Lembar pengukuran biomasa : Pengambilan contoh tumbuhan bawah

Nama lokasi : Agroforest Karet / Kebun Karet

Jenis Penggunaan Lahan : Kebun Karet

Nama Pengukur :   Singgih Hadi Marwan

Siti Napisah

Santia Agustini

Desi Nur’aini

Agunk Jalpa

Tanggal/Bulan/Tahun : 7 November 2012

Ukuran Plot Contoh : 0,5 m x 0,5 m

 

 

No.

Sub-contoh Berat Kering (g)

Total Berat Kering

Batang & Daun

g/0,25 m2

g/m2

Ton/Ha

1

10,6

10,6

42,4

0,424

2

4,4

4,4

17,6

0,176

3

9,8

9,8

39,2

0,392

4

11,9

11,9

47,6

0,476

5

27,1

27,1

108,4

1,084

6

12,2

12,2

48,8

0,488

Total Rata-rata

12,6

50,6

0,5067

 

Pengolahan Data

  1. BK = 10,6 gr/0,25 m2

BK = 10,6 x 4 = 42,4 gr/m2

BK = 0,0424 Kg/m2

BK = 0,424 Ton/Ha

 

  1. BK = 4,4 gr/0,25 m2

BK = 4,4 x 4 = 17,6 gr/m2

BK = 0,0176 Kg/m2

BK = 0,176 Ton/Ha

 

  1. BK = 9,8 gr/0,25 m2

BK = 9,8 x 4 = 39,2 gr/m2

BK = 0,392 Kg/m2

BK = 0,392 Ton/Ha

 

  1. BK = 11,9 gr/0,25 m2

BK = 11,9 x 4 = 47,6 gr/m2

BK = 0,0476 Kg/m2

BK = 0,476 Ton/Ha

 

  1. BK = 27,1 gr/0,25 m2

BK = 27,1 x 4 = 108,4 gr/m2

BK = 0,1084 Kg/m2

BK = 1,084 Ton/Ha

 

  1. BK = 12,2 gr/0,25 m2

BK = 12,2 x 4 = 48,8 gr/m2

BK = 0,0488 Kg/m2

BK = 0,488 Ton/Ha

 

 

Rata – rata = 0,5067 Ton/Ha

 

Lembar pengukuran nekromasa berkayu : Diameter dan panjang nekromasa sedang (diameter 5-30 cm)

Nama lokasi : Agroforest Karet / Kebun Karet

Jenis Penggunaan Lahan : Kebun Karet

Nama Pengukur :   Singgih Hadi Marwan

Siti Napisah

Santia Agustini

Desi Nur’aini

Agunk Jalpa

Tanggal/Bulan/Tahun : 7 November 2012

Ukuran Plot Contoh : 40 m x 5 m = 200 m2

No

L1 (cm)

L2 (cm)

L Rata-rata  (cm)

D (cm)

H (cm)

BK Kg/Nekromasa

% Pelapukan

Catatan

1

24,4

23,5

23,95

7,62

100,7

0,045897

25 %

Tidak bercabang

2

17,2

15,6

16,40

5,22

180

0,038501

25 %

Tidak bercabang

3

20,8

18,8

19,80

6,3

174,3

0,054306

50 %

Tidak bercabang

4

22,7

19,3

21

6,69

199,4

0,070056

50 %

Tidak bercabang

5

17,2

16,3

16,75

5,33

136

0,029989

50 %

Tidak bercabang

Total

 

Pengolahan Data

  1. BK (Kg/Nekromasa)  = πρHD2/40 x % pelapukan

= 3,14 x 0,4 gr/cm3 x 100,7 cm x (7,62)2/40 x 25%

= 45,899618 gr/Nekromasa

= 0,0458996 Kg/Nekromasa

 

  1. BK (Kg/Nekromasa)  = πρHD2/40 x % pelapukan

= 3,14 x 0,4 gr/cm3 x 180 cm x (5,22)2/40 x 25%

= 38,50199 gr/Nekromasa

= 0,038501 Kg/Nekromasa

 

  1. BK (Kg/Nekromasa)  = πρHD2/40 x % pelapukan

= 3,14 x 0,2 gr/cm3 x 174,3 cm x (6,3)2/40 x 50%

= 54,30604 gr/Nekromasa

= 0,054306 Kg/Nekromasa

 

  1. BK (Kg/Nekromasa)  = πρHD2/40 x % pelapukan

= 3,14 x 0,2 gr/cm3 x 199,4 cm x (6,69)2/40 x 50%

= 70,056275 gr/Nekromasa

= 0,0700563 Kg/Nekromasa

 

  1. BK (Kg/Nekromasa)  = πρHD2/40 x % pelapukan

= 3,14 x 0,2 gr/cm3 x 136 cm x (5,33)2/40 x 50%

= 29,98884 gr/Nekromasa

= 0,029989 Kg/Nekromasa

 

Rata-rata = 0,208912 Kg/m2

Rata-rata = 2,08912 Ton/Ha

 

Lembar pengukuran nekromasa : Serasah Halus

Nama lokasi : Agroforest Karet / Kebun Karet

Jenis Penggunaan Lahan : Kebun Karet

Nama Pengukur :   Singgih Hadi Marwan

Siti Napisah

Santia Agustini

Desi Nur’aini

Agunk Jalpa

Tanggal/Bulan/Tahun : 7 November 2012

Ukuran Plot Contoh : 0,5 m x 0,5 m = 0,25 m2

No

Subcontoh berat kering (g)

Total Berat Kering

Serasah

g/0,25m2

g/m2

Ton/Ha

1

178,7

178,7

714,8

7,148

2

133,7

133,7

534,8

5,348

3

137,3

137,3

549,2

5,492

4

109,5

109,5

438

4,38

5

105,7

105,7

422,8

4,228

6

133,3

133,3

533,2

5,332

Total Rata-rata

133,03

532,133

5,32133

 

 

 

Pengolahan Data

  1. BK  = 178,7 gr/0,25 m2

= 178,7 x 4 = 714,8 gr/m2

= 0,7148 Kg/m2

= 7,148 Ton/Ha

 

  1. BK  = 133,7 gr/0,25 m2

= 133,7 x 4 = 534,8 gr/m2

= 0,5348 Kg/m2

= 5,348 Ton/Ha

 

  1. BK  = 137,3 gr/0,25 m2

= 137,3 x 4 = 549,2 gr/m2

= 0,5492 Kg/m2

= 5,492 Ton/Ha

  1. BK  = 109,5 gr/0,25 m2

= 109,5 x 4 = 438 gr/m2

= 0,438 Kg/m2

= 4,38 Ton/Ha

 

  1. BK  = 105,7 gr/0,25 m2

= 105,7 x 4 = 422,8 gr/m2

= 0,4228 Kg/m2

= 4,228 Ton/Ha

 

  1. BK  = 133,3 gr/0,25 m2

= 133,3 x 4 = 533,2 gr/m2

= 0,5332 Kg/m2

= 5,332 Ton/Ha

 

Rata-rata = 5,32133 Ton/Ha

 

 

Lembar pengukuran nekromasa : Akar Halus

Nama lokasi : Agroforest Karet / Kebun Karet

Jenis Penggunaan Lahan : Kebun Karet

Nama Pengukur :   Singgih Hadi Marwan

Siti Napisah

Santia Agustini

Desi Nur’aini

Agunk Jalpa

Tanggal/Bulan/Tahun : 7 November 2012

Ukuran Plot Contoh : 0,5 m x 0,5 m = 0,25 m2

No

Subcontoh berat kering (g)

Total Berat Kering

Akar Halus

g/0,25m2

g/m2

Ton/Ha

1

17,7

17,7

70,8

0,708

2

14

14

56

0,56

3

13,8

13,8

55,2

0,552

4

20,5

20,5

82

0,82

5

21,2

21,2

84,8

0,848

6

10,5

10,5

42

0,42

Total Rata-rata

16,11

65,13

0,65

 

Pengolahan Data

  1. BK  = 17,7 gr/0,25 m2

= 17,7 x 4 = 70,8 gr/m2

= 0,708 Ton/Ha

 

  1. BK  = 14 gr/0,25 m2

= 14 x 4 = 56 gr/m2

= 0,56 Ton/Ha

 

  1. BK  = 13,8 gr/0,25 m2

= 13,8 x 4 = 55,2 gr/m2

= 0,552 Ton/Ha

  1. BK  = 20,5 gr/0,25 m2

= 20,5 x 4 = 82 gr/m2

= 0,82 Ton/Ha

 

  1. BK  = 21,2 gr/0,25 m2

= 21,2 x 4 = 84,8 gr/m2

= 0,848 Ton/Ha

 

  1. BK  = 10,5 gr/0,25 m2

= 10,5 x 4 = 42 gr/m2

= 0,42 Ton/Ha

 

Rata-rata = 3,558 Ton/Ha

 

 

Jumlah Total Karbon  =  62,96 Ton/Ha + 18,259 Ton/Ha + 0,5067 Ton/Ha + 2,08912 Ton/Ha + 5,3213 Ton/Ha + 3,558 Ton/Ha

Jumlah Total Karbon  =  92,6954 Ton/Ha

 

4.2.      Pembahasan

Pengukuran cadangan karbon pada lahan agroforest karet dimulai dengan mengukur jumlah biomasa pohon, biomasa tumbuhan bawah, nekromasa, serasah, dan akar halus yang ada di kawasan tersebut. Setelah melakukan pengukuran sesuai dengan metode yang ada, kemudian data-data tersebut dimasukkan ke dalam rumus hingga diketahui hasil akhirnya yakni jumlah kandungan karbon dalam satuan ton per hektar.

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa penyumbang cadangan karbon terbesar berasal dari biomasa pohon-pohon besar, yakni 62,960 Ton/Ha. Total cadangan karbon yang tersimpan pada pohon-pohon sedang yaitu 18,259 Ton/Ha. Untuk tumbuhan bawah, totalnya adalah 0,5067 Ton/Ha. Nekromasa berkayu memiliki cadangan karbon sebesar 2,089 Ton/Ha. Sedangkan serasah halus menyumbang sebesar 5,321 Ton/Ha dan akar halus sebanyak 3,558 Ton/Ha.

Dari data di atas, maka didapatlah jumlah total dari keseluruhan cadangan karbon yang tersimpan di lahan agroforest karet yang telah kami analisa. Jumlah total cadangan karbon yang ada pada lahan tersebut adalah 92,695 Ton/Ha.

Penyimpanan karbon suatu lahan menjadi lebih besar bila kondisi kesuburan tanahnya baik, atau dengan kata lain jumlah karbon tersimpan di atas tanah (biomasa tanaman) ditentukan oleh besarnya jumlah karbon tersimpan di dalam tanah (bahan organik tanah). Untuk itu pengukuran banyaknya karbon yang ditimbun dalam setiap lahan perlu dilakukan.

Pada umumnya tegakan  yang terdapat di kebun campuran (agroforestri) merupakan tempat penimbunan atau penyimpanan karbon yang jauh lebih besar dari pada tanaman semusim. Oleh karena itu, hutan agroforest dengan keragaman jenis pepohonan berumur panjang dan seresah yang banyak merupakan gudang penyimpan karbon tertinggi (baik di atas maupun di dalam tanah). Hutan juga melepaskan CO ke udara lewat  respirasi dan dekomposisi (pelapukan) seresah, namun pelepasannya terjadi secara bertahap, tidak sebesar bila ada pembakaran yang melepaskan CO sekaligus dalam jumlah yang besar. Berkenaan dengan upaya pengembangan lingkungan bersih, maka jumlah karbondioksida di udara harus dikendalikan dengan jalan meningkatkan jumlah serapan CO oleh tanaman sebanyak mungkin dan  menekan pelepasan (emisi) CO ke udara serendah mungkin. Jumlah ‘karbon tersimpan’ dalam penggunaan lahan tanaman, seresah dan tanah, biasanya disebut juga sebagai ‘cadangan karbon’.

Penghitungan cadangan karbon rata-rata per siklus tanam (time-averaged C stock) dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang dinamika cadangan karbon di tingkat bentang lahan pada kondisi saat ini. Besarnya time-averaged Carbon stock tersebut dipengaruhi oleh tingkat akumulasi karbon per tahun, besarnya cadangan karbon minimum dan maksimum per sistem penggunaan lahan, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai cadangan karbon maksimum dan waktu rotasi (panen).

BAB V

PENUTUP

 

5.1.      Kesimpulan

Pada umumnya tegakan  yang terdapat di kebun campuran (agroforestri) merupakan tempat penimbunan atau penyimpanan karbon yang jauh lebih besar dari pada tanaman semusim. Oleh karena itu, hutan agroforest dengan keragaman jenis pepohonan berumur panjang dan seresah yang banyak merupakan gudang penyimpan karbon tertinggi (baik di atas maupun di dalam tanah).

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa penyumbang cadangan karbon terbesar berasal dari biomasa pohon-pohon besar, yakni 62,960 Ton/Ha. Total cadangan karbon yang tersimpan pada pohon-pohon sedang yaitu 18,259 Ton/Ha. Untuk tumbuhan bawah, totalnya adalah 0,5067 Ton/Ha. Nekromasa berkayu memiliki cadangan karbon sebesar 2,089 Ton/Ha. Sedangkan serasah halus menyumbang sebesar 5,321 Ton/Ha dan akar halus sebanyak 3,558 Ton/Ha.

Dari data di atas, maka didapatlah jumlah total dari keseluruhan cadangan karbon yang tersimpan di lahan agroforest karet yang telah kami analisa. Jumlah total cadangan karbon yang ada pada lahan tersebut adalah 92,695 Ton/Ha.

Daftar Pustaka

 

Hairiah K, Ekadinata A, Sari RR, Rahayu S. 2011. Pengukuran Cadangan Karbon: dari tingkat lahan ke bentang lahan. Petunjuk praktis. Edisi kedua. Bogor, World Agroforestry Centre, ICRAF SEA Regional Office, University of Brawijaya (UB), Malang, Indonesia xx p.

http://lbprastdp.staff.ipb.ac.id/files/2011/12/Estimasi-karbon-TNMB.pdf

http://hutankitarenny.blogspot.com/p/analisa-karbon-tersimpan.html

http://www.dephut.go.id/files/SNI%207724-2011%20Pengukuran%20dan%20penghitungan%20cadangan_0.pdf

http://forestclimatecenter.org/document_details.php?cnt=international&lang=Indonesia&cat=Penghitungan%20Karbon

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s