Laporan Praktikum Biometrika Hutan Pengukuran Leaf Area Index (LAI)

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOMETRIKA HUTAN

MENGHITUNG LAI (Leaf Area Indeks) PADA BIBIT AKASIA MANGIUM

OLEH :

 

NAMA : SITI NAPISAH

NIM : D1D010010

KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2013

  1. 1.        Judul

Menghitung LAI (Leaf Area Indeks) pada bibit akasia mengium dengan berbagai ukuran

 

  1. 2.        Tujuan
    1. Untuk melakukan pengamatan dan analisis perhitungan luas area daun (ILD) pada bibit acacia mangium pada berbagai ukuran.
    2. Untuk melakukan penghitungan luas daun dengan metode kertas millimeter blok.

 

  1. 3.        Prinsip Teori

Indeks luas daun dapat digunakan untuk menggambarkan tentang kandungan total klorofil daun tiap individu tanaman. Permukaan daun yang semakin luas diharapkan mengandung klorofil lebih banyak.

Indeks luas daun merupakan hasil bersih asimilasi persatuan luas daun dan waktu. Luas daun tidak konstan terhadap waktu, tetapi mengalami penurunan dengan bertambahnya umur tanaman (Gardner et al., 1991).

Indeks luas daun merupakan gambaran tentang rasio permukaan daun terhadap luas tanah yang ditempati oleh tanaman. Laju pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh laju asimilasi bersih dan indeks luas daun. Laju asimilasi bersih yang tinggi dan indeks luas daun yang optimum akan meningkatkan laju pertumbuhan tanaman (Gardner et al., 1991).

Daun merupakan organ fotosintetik utama dalam tubuh tanaman, di mana terjadi proses perubahan energi cahaya menjadi energi kimia dan mengakumulasikan dalam bentuk bahan kering. Pertumbuhan dan perkembangan daun menjadi perhatian utama. Berbagai ukuran dapat digunakan, seperti pengukuran luas daun dan berat daun pada waktu tertentu. Perubahan-perubahan selama pertumbuhan mencerminkan perubahan bagian yang aktif berfotosintetsis.

Beberapa metode pengukuran luas daun yang sering digunakan untuk mengukur luas daun suatu tanaman antara lain :

a)      Metode Kertas Milimeter : Metode ini menggunakan kertas milimeter dan peralatan menggambar untuk mengukur luas daun. Metode ini dapat diterapkan cukup efektif pada daun dengan bentuk daun relatif sederhana dan teratur. Pada dasarnya, daun digambar pada kertas milimeter yang dapat dengan mudah dikerjakan dengan meletakkan daun diatas kertas milimeter dan pola daun diikuti. Luas daun ditaksir berdasarkan jumlah kotak yang terdapat dalam pola daun. Sekalipun metode ini cukup sederhana, waktu yang dibutuhkan untuk mengukur suatu luasan daun relatif lama, sehingga ini tidak cukup praktis diterapkan apabila jumlah sampel banyak.

b)      Metode Gravimetri : Metode ini pada prinsipnya luas daun ditaksir melalui perbandingan berat (gravimetri). Ini dapat dilakukan pertama dengan menggambar daun yang akan ditaksir luasnya pada sehelai kertas, yang menghasilkan replika (tiruan) daun. Replika daun kemudian digunting dari kertas yang berat dan luasnya sudah diketahui. Luas daun kemudian ditaksir berdasarkan perbandingan berat replika daun dengan berat total kertas.

c)      Planimeter : Planimeter merupakan suatu alat yang sering digunakan untuk mengukur suatu luasan dengan bentuk yang tidak teratur dan berukuran besar seperti peta. Alat ini dapat digunakan untuk mengukur luas daun apabila bentuk daun tidak terlalu rumit. Jika daun banyak dan berukuran kecil, metode ini kurang praktis karena membutuhkan banyak waktu. Suatu hal yang perlu diingat dalam penggunaan planimeter adalah bahwa pergeseran alat yang searah dengan jarum jam merupakan faktor yang menentukan tingkat ketelitian pengukuran. Ini sering menjadi masalah pada pengukuran daun secara langsung karena pinggiran daun yang tidak dapat dibuat rata dengan tempat pengukuran sekalipun permukaan tempat pengukuran telah dibuat rata dan halus.

d)     Metode Panjang Kali Lebar : Metode yang dipakai untuk daun yang bentuknya teratur, luas daun dapat ditaksir dengan mengukur panjang dan lebar daun.

e)      Metode Fotografi : Metode ini sangat jarang digunakan. Dengan metode ini, daun-daun tanaman ditempatkan pada suatu bidang datar yang berwarna terang (putih) dipotret bersama-sama dengan suatu penampang atau lempengan (segi empat) yang telah diketahui luasnya. Luas hasil foto daun dan lempengan acuan dapat kemudian diukur dengan salah satu metode yang sesuai sebagaimana diuraikan diatas seperti planimeter. Luas daun kemudian dapat ditaksir kemudian berdasarkan perbandingan luas hasil foto seluruh daun dengan luas lempengan acuan tersebut.

 

  1. 4.        Bahan dan Alat

Alat                                           

  1. Keras millimeter blok
  2. Alat ukur (mistar)
  3. Timbangan elektrik
  4. Alat tulis

Bahan

  1. Bibit acacia mangium ukuran:
  2. 5 cm – 7 cm (10 sampel)
  3. 7.1 cm – 9 cm (10 sampel)
  4. 9.1 cm – 11 cm (10 sampel)
  5. 11.1 cm – 13 cm (10 sampel)
  6. 13.1 cm – 15 cm (10 sampel)

 

  1. 5.        Cara Kerja
    1. Mengambil bibit acacia mangium dengan ukuran 5cm-7cm, 7.1cm-9cm, 9.1cm-11cm, 11.1cm-13cm, 13.1-15cm dengan masing-masing ukuran sebanyak 10 sampel.
    2. Mengukur luas daun dengan luas lahan tegakan yang diproyeksikan tegak lurus terhadap penutupan tajuk
    3. Mengukur diameter bibit tanaman
    4. Menimbang berat basah tanaman
    5. Menggambar daun satu persatu untuk mendapatkan luas daun total.
    6. Menjemur batang, akar dan dun yang telah dipotng selama 2 hari
    7. Menimbang tanaman yang telah di jemur untuk mengetahui berat kering tanaman
    8. Membuat laporan hasil pengamatan

 

  1. 6.        Isi (Tabel Pembahasan)
  • Tabel 1. Pengukuran Bibit Akasia dengan ukuran tinggi antara 5 cm – 7 cm

Pengulangan

Tinggi (cm)

Diameter (cm)

Berat Basah (gr)

Berat Kering (gr)

Luas Daun Total (cm)

LAI

Diameter (cm)

Luas (cm)

1

5,7

0,12

0,37

0,16

9,1

7,2

40,69

2

6,9

0,18

0,30

0,19

4,3

5,35

22,46

3

5,4

0,11

0,16

0,08

6,7

5

19,62

4

6,4

0,14

0,20

0,09

2,8

5,3

22,05

5

6,9

0,18

0,09

0,01

3,1

6,5

33,16

6

6,8

0,20

0,24

0,11

2,7

5

19,62

7

5,2

0,10

0,17

0,04

1,2

5,1

20,41

8

6,2

0,18

0,24

0,09

1,6

5,15

20,82

9

6,3

0,19

0,22

0,11

2,7

5,20

21,22

10

5,2

0,10

0,26

0,19

2,9

5,15

20,82

  • Tabel 2. Pengukuran Bibit Akasia dengan ukuran tinggi antara 7,1 cm – 9 cm

Pengulangan

Tinggi (cm)

Diameter (cm)

Berat Basah (gr)

Berat Kering (gr)

Luas Daun Total (cm)

LAI

Diameter (cm)

Luas (cm)

1

8,2

0,20

0,31

0,15

4,1

6,8

36,29

2

8,4

0,23

0,40

0,20

4,3

7,5

44,15

3

7,5

0,20

0,37

0,19

8,3

6,2

30,17

4

8,7

0,24

0,28

0,17

3,6

5,1

20,41

5

8,2

0,20

0,30

0,15

3,5

6,8

36,29

6

7,2

0,18

0,27

0,11

7,5

6

28,26

7

7,7

0,22

0,25

0,13

4,5

6,2

30,17

8

8,3

0,22

0,30

0,14

3,8

8,2

52,78

9

7,3

0,20

0,16

0,08

8,7

6,1

29,20

10

8,2

0,21

0,37

0,20

7,6

6

28,26

 

  • Tabel 3. Pengukuran Bibit Akasia dengan ukuran tinggi antara 9,1 cm – 11 cm

Pengulangan

Tinggi (cm)

Diameter (cm)

Berat Basah (gr)

Berat Kering (gr)

Luas Daun Total (cm)

LAI

Diameter (cm)

Luas (cm)

1

9,9

0,20

0,55

0,29

4,8

5,96

27,88

2

9,6

0,22

0,60

0,30

13,4

7,9

48,99

3

9,9

0,21

0,32

0,18

6,2

5,83

26,68

4

10,9

0,23

0,34

0,19

12,6

5,86

26,95

5

10,8

0,23

0,48

0,28

9,7

6,5

33,16

6

10,4

0,19

0,39

0,19

5,8

7,2

40,69

7

9,7

0,18

0,47

0,28

3,5

6,8

36,29

8

9,4

0,20

0,45

0,26

7,2

6,6

34,19

9

9,3

0,20

0,32

0,18

14,3

4,8

18,08

10

9,2

0,18

0,84

0,42

8,1

7,3

41,83

 

  • Tabel 4. Pengukuran Bibit Akasia dengan ukuran tinggi antara 11,1 cm – 13 cm

Pengulangan

Tinggi (cm)

Diameter (cm)

Berat Basah (gr)

Berat Kering (gr)

Luas Daun Total (cm)

LAI

Diameter (cm)

Luas (cm)

1

12,8

0,24

0,40

0,20

11,3

6,4

32,15

2

11,7

0,19

0,40

0,20

20,7

7,2

40,69

3

11,1

0,18

0,40

0,20

7,2

7,15

40,13

4

11,3

0,18

0,53

0,32

12,8

6,6

34,19

5

12,2

0,23

0,55

0,35

24,8

6,2

30,17

6

12,3

0,23

0,48

0,31

6,7

5,8

26,40

7

12,4

0,24

0,52

0,32

9,5

7

38,46

8

11,2

0,19

0,26

0,12

8,2

6,35

31,65

9

12,6

0,25

0,29

0,15

6,7

6,6

34,19

10

12,6

0,25

0,39

0,22

9,7

6,5

33,16

 

  • Tabel 5. Pengukuran Bibit Akasia dengan ukuran tinggi antara 13,1 cm – 15 cm

Pengulangan

Tinggi (cm)

Diameter (cm)

Berat Basah (gr)

Berat Kering (gr)

Luas Daun Total (cm)

LAI

Diameter (cm)

Luas (cm)

1

14,9

0,25

0,28

0,14

23,7

7,85

48,37

2

14

0,20

0,84

0,42

56,7

5,1

20,41

3

13,1

0,19

1,01

0,69

35,6

10,2

81,67

4

13,6

0,20

0,47

0,28

17,5

5,6

24,61

5

14,5

0,26

0,60

0,39

29,6

9,75

74,62

6

13,4

0,22

0,68

0,34

39,8

7,25

41,26

7

13,7

0,22

0,44

0,27

16,5

6,5

33,16

8

14,2

0,21

0,88

0,42

23,8

8,9

62,17

9

13,6

0,24

0,67

0,36

14,7

7,6

45,34

10

14,1

0,26

1,04

0,67

39,8

8,3

54,07

 

  1. 7.        Kesimpulan

Metode menggunakan kertas milimeter dan peralatan menggambar untuk mengukur luas daun. Metode ini dapat diterapkan cukup efektif pada daun dengan bentuk daun relatif sederhana dan teratur. Sekalipun metode ini cukup sederhana, waktu yang dibutuhkan untuk mengukur suatu luasan daun relatif lama, sehingga ini tidak cukup praktis diterapkan apabila jumlah sampel banyak.

Indeks Luas Daun memiliki keterkaitan yang cukup erat dengan tinggi tanaman dan luas daun. Dengan mengetahui indeks luas daun dari suatu tanaman, maka dapat diketahui pula kandungan biomassa tanaman tersebut.

 

  1. 8.        Daftar Pustaka

http://www.gunungwalat.net/id/content/pengukuran-indeks-luas-daun-ild-untuk-menduga-evapotrnaspirasi-dengan-metode-penma-monteteit

 

http://muherda.blogspot.com/2011/12/indeks-luas-daun-ild-leaf-area-indeks.html

 

http://wiqk.wordpress.com/2009/08/15/beberapa-metode-yang-digunakan-untuk-mengukur-luas-daun/

 

http://mimilalamilong.blogspot.com/2012/03/gravimetri.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s