Laporan Praktikum Ilmu Kayu Sifat Makroskopis Kayu

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU KAYU

SIFAT MAKROSKOPIS KAYU

 

 

OLEH :

SITI NAPISAH

D1D010010

JURUSAN KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2012

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.            Latar Belakang

Kayu adalah bagian batang atau cabang serta ranting tumbuhan yang mengeras karena mengalami lignifikasi (pengayuan). Kayu digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari memasak, membuat perabot (meja, kursi), bahan bangunan (pintu, jendela, rangka atap), bahan kertas, dan banyak lagi. Kayu juga dapat dimanfaatkan sebagai hiasan-hiasan rumah tangga dan sebagainya. Penyebab terbentuknya kayu adalah akibat akumulasi selulosa dan lignin pada dinding sel berbagai jaringan di batang.

Ilmu perkayuan mempelajari berbagai aspek mengenai klasifikasi kayu serta sifat kimia, fisika, dan mekanika kayu dalam berbagai kondisi penanganan.

Metode pengenalan kayu secara praktis adalah suatu metode pengenalan kayu berdasarkan kepada sifat-sifat struktur anatominya. Struktur anatomi suatu jenis kayu adalah merupakan sifat yang objektif, yang secara konstan terdapat di dalam kayu. Sifat-sifat objektif kayu yang sudah jelas dilihat dan diamati hanya dengan mata telanjang atau dibantu dengan lup ( biasanya mempunyai pembesaran 10 kali ), disebut sifat makroskopis kayu.

Sifat makroskopis jika diperhatikan lebih jauh dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu :

  1. Sifat makroskopis non-struktural : sifat-sifat yang tidak ada atau sedikit sekali hubungannya dengan struktur dan jaringan kayu.
  2. Sifat makroskopis struktural : sifat-sifat yang langsung berhubungan dengan struktur dan jaringan kayunya.

Sifat fisik/kasar atau makroskopis adalah sifat yang dapat diketahui secara jelas melalui panca indera, baik dengan penglihatan,  pen-ciuman,  perabaan dan sebagainya tanpa menggunakan alat bantu.   Sifat-sifat kayu yang termasuk dalam sifat kasar antara lain adalah :

  1. warna, umumnya yang digunakan adalah warna kayu teras,
  2. tekstur, yaitu penampilan sifat struktur pada bidang lintang,
  3. arah serat, yaitu arah umum dari sel-sel pembentuk kayu,
  4. gambar, baik yang terlihat pada bidang radial maupun tangensial
  5. berat, umumnya dengan menggunakan berat jenis
  6. kesan raba, yaitu kesan yang diperoleh saat meraba kayu,
  7. lingkaran tumbuh,
  8. bau, dan sebagainya.

 

1.2.            Tujuan

  1. Untuk mengetahui perbedaan antar masing-masing pohon
  2. Untuk mengetahui sifat-sifat makroskopis kayu

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Sifat makroskopis kayu dapat diidentifikasi dari beberapa hal, yaitu warna kayu, tekstur, arah serat, corak, berat, kesan raba, lingkaran tumbuh dan bau.

Menurut Haygreen dan Bowyer (1996), bahwa kayu teras lebih gelap warnanya dibandingkan dengan kayu gubal.  Tetapi hal ini bukan berarti tidak ada kayu teras yang memiliki warna yang terang.  Hal ini disebabkan oleh zat ekstraktif yang terdapat dalam kayu tersebut.  Kayu keras menunjukkan variasi yang lebih luas dalam pewrnaan kayu teras dari pada kayu lunak.

Perbedaan tekstur pada berbagai jenis kayu disebabkan oleh adanya variasi tekstur sel  dan ukuran sel penyusun masing-masing kayu yang berbeda.  Kayu yang memiliki pori besar kemungknan memiliki tekstur yang kasar sedangkan kayu yang berpori kecil memiliki tekstur yang halus (Dumanauw, 1990).

Tekstur sering digunakan secara umum menyatakan semua sel kayu yang terpisahkan dalam proses pempuatan pulp. Namun dalam konteks morfologi kayu istilah tekstur adalah xylem kayu teraspanjang meruncing dan biasa berdinding tebal (Haygreen dan Bowyer, 1996).

Kekerasan atau kelunakkan kayu merupakan petunjuk penting dalam menentukan sifat fisik kayu.  Kekerasan dari suatu jenis kayu biasanya ditentukan oleh banyak tidaknya zat dinding sel dalam kayu.  Kayu keras biasanya dihasilkan dari kayu daun lebar yang menggugurkan daunnya pada musim kemarau atau musim gugur sedangkan kayu daun jarum menghasilkan kayu lunak.  Dalam pembagian antara kayu daun lebar dan kayu daun jarum didasarkan atas ada tidaknya pembuluh (Sjostrom, 1995).

Menurut Fengel dan Wegener (1983), kekerasan kayu adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya yang membuat takik atau suatu lekukkan.  Kekerasan kayu dan kelunakkan kayu merupakan petunjuk penting dalam menentukan sifat fisik kayu terutama tergantung pada banyaknya zat dinding sel.

Berat suatu jenis kayu tergantung dari jumlah zat kayu yang tersusun, rongga selnya, jumlah pori, kadar air yang terkandung didalamnya dan zat-zat ekstraktifnya.  Berat suatu jenis kayu ditunjukkan dengan besarnya berat jenis kayu yang bersangkutan dan dipakai sebagai patokan berat kayu (Dumanauw, 1990).

Umumnya kayu memiliki berat antara 0,2-0,8 gram/cm3, jika kayu tidak memiliki ruangan antar sel maka besarnya 12,3 gram/cm3.  Berat kayu juga dipengaruhi oleh banyaknya pori dalam kayu.  Semakin banyak pori pada kayu, maka semakin ringan dan sebaliknya kayu yang kurang memiliki pori maka kayu tersebut akan semakin berat (Sanusi, 1985).

Kilap kayu adalah suatu sifat kayu yang dapat memantulkan cahaya dimana kilap kayu bergantung pada sudut datangnya sinar yang mengenai permukaan kayu dan juga tergantung pada tipe sel yang menyusun permukaan kayu.  Kayu berkadar ekstraktif lebih berkilap dari pada yang berkadar ekstraktif tinggi.  Kayu yang mengandung minyak atau lemak umumnya kurang mengkilap (Sanusi, 1990).

Arah serat adalah arah sejajar sumbu batang yang sebagian besar serat kayunya meruncing dan panjang.  Arah serat dapat ditentukan oleh alur-lur yang terdapat pada permukaan kayu.  Kayu dikatakan berserat lurus jika arah sel-selnya melintang atau membentuk sudut terhadap sumbu panjang batang, maka kayu tersebut dikatakan serat moncong (Dumanauw, 1990).

Kesan raba adalah kesan yang kita peroleh saat kita meraba permukaan suatu kayu tertentu. Ada kayu yang bila diraba terasa kasar, licin dan sebagainya. Kesan raba yang berbeda-beda tersebut untuk setiap jenis kayu tergantung dari tekstur kayu, besra kecilnya air dan dikandung serta kadar zat ekstraktif yang terdapat pada kayu (Doanauw, 1990).

 

 

BAB III

METODE PRAKTIKUM

 

3.1.            Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilakukan di laboratorium kehutanan, fakultas pertanian universitas Jambi. Praktikum ini dilakukan pada hari Jumat, tanggal 30 Maret 2012, pukul 11.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB dan dilanjutkan pada hari Selasa, tanggal 3 April 2012, pukul 08.00 WIB sampai pukul 09.30 WIB.

 

3.2.            Alat dan Bahan

–          Alat tulis

–          Kamera (Handphone)

–          Potongan kayu yang diamati

 

3.3.            Cara Kerja

  1. Mengamati potongan kayu yang tersedia
  2. Memotret potongan kayu
  3. Mengidentifikasi sifat-sifat kayu
  4. Mencatat hasil pengamatan

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.            Hasil

No.

Nama

Warna

Sifat

Kesan Raba

Corak

Aroma

Kekerasan

Tekstur

1

Berumbung

Kuning

Keras

Halus

Mengkilap

Tidak terdapat corak

Tidak ada aroma

2

Bulian

Coklat tua

Sangat keras

Halus

Mengkilap

Terdapat corak

Tidak ada aroma

3

Bungur

Coklat keabu-abuan

Sedang

Agak kasar

Mengkilap

Terdapat corak

Tidak ada aroma

4

Kelat

Coklat muda

Keras

Halus

Licin

Terdapat corak

Aroma pahit

5

Medang Batu

Coklat kekuningan

Keras

Agak kasar

Kesat

Tidak terdapat corak

Tidak ada aroma

6

Medang Sereh

Coklat muda

Sedang

Halus

Licin

Terdapat corak

Aroma sereh

7

Rengas Manuk

Merah kecoklatan

Keras

Halus

Licin

Terdapat corak

Tidak ada aroma

8

Rengas Tembaga

Coklat merah

Keras

Halus

Licin

Terdapat corak

Tidak ada aroma

9

Tembesu Kasang

Coklat tua

Keras

Halus

Licin

Tidak terdapat corak

Aroma jambu

10

Tembesu Rawa

Coklat

Keras

Halus

Mengkilap

Tidak terdapat corak

Tidak ada aroma

 

 

4.2.            Pembahasan

  1. Berumbung

Kayu berumbung memiliki warna kuning terang. Jika dilihat dari sifat fisiknya, kayu berumbung memiliki tingkat kekerasan yang keras. Tekstur kayu ini halus. Kesan raba dari kayu ini adalah mengkilap. Kayu berumbung tidak memiliki corak dan juga tidak memiliki aroma yang khas.

 

  1. Bulian

Kayu bulian memiliki warna coklat tua. Jika dilihat dari sifat fisiknya, kayu bulian memiliki tingkat kekerasan yang sangat keras. Tekstur kayu ini halus. Kesan raba dari kayu ini adalah mengkilap. Kayu bulian memiliki corak yang khas dan tidak memiliki aroma yang khas.

 

  1. Bungur

Kayu bungur memiliki warna coklat keabu-abuan. Jika dilihat dari sifat fisiknya, kayu bungur memiliki tingkat kekerasan yang sedang. Tekstur kayu ini agak kasar. Kesan raba dari kayu ini adalah mengkilap. Kayu bungur memiliki corak yang khas dan tidak memiliki aroma yang khas.

 

  1. Kelat

Kayu kelat memiliki warna coklat muda. Jika dilihat dari sifat fisiknya, kayu kelat memiliki tingkat kekerasan yang keras. Tekstur kayu ini halus. Kesan raba dari kayu ini adalah licin. Kayu kelat memiliki corak yang khas dan memiliki aroma yang khas yaitu aroma pahit.

 

  1. Medang Batu

Kayu medang batu memiliki warna coklat kekuningan. Jika dilihat dari sifat fisiknya, kayu medang batu memiliki tingkat kekerasan yang keras. Tekstur kayu ini agak kasar. Kesan raba dari kayu ini adalah kesat. Kayu medang batu tidak memiliki corak dan juga tidak memiliki aroma yang khas.

 

  1. Medang Sereh

Kayu medang sereh memiliki warna coklat muda. Jika dilihat dari sifat fisiknya, kayu medang sereh memiliki tingkat kekerasan yang sedang. Tekstur kayu ini halus. Kesan raba dari kayu ini adalah licin. Kayu medang sereh memiliki corak yang khas dan memiliki aroma yang khas yaitu aroma sereh.

 

  1. Rengas Manuk

Kayu rengas manuk memiliki warna merah kecoklatan. Jika dilihat dari sifat fisiknya, kayu rengas manuk memiliki tingkat kekerasan yang keras. Tekstur kayu ini halus. Kesan raba dari kayu ini adalah licin. Kayu rengas manuk memiliki corak yang khas dan tidak memiliki aroma yang khas.

 

  1. Rengas Tembaga

Kayu rengas tembaga memiliki warna coklat kemerahan. Jika dilihat dari sifat fisiknya, kayu rengas tembaga memiliki tingkat kekerasan yang keras. Tekstur kayu ini halus. Kesan raba dari kayu ini adalah licin. Kayu rengas tembaga memiliki corak yang khas dan tidak memiliki aroma yang khas.

 

  1. Tembesu Kasang

Kayu tembesu kasang memiliki warna coklat tua. Jika dilihat dari sifat fisiknya, kayu tembesu kasang memiliki tingkat kekerasan yang keras. Tekstur kayu ini halus. Kesan raba dari kayu ini adalah licin. Kayu tembesu kasang tidak memiliki corak dan memiliki aroma yang khas yaitu aroma jambu.

 

  1. Tembesu Rawa

Kayu tembesu rawa memiliki coklat. Jika dilihat dari sifat fisiknya, kayu tembesu rawa memiliki tingkat kekerasan yang keras. Tekstur kayu ini halus. Kesan raba dari kayu ini adalah mengkilap. Kayu tembesu rawa tidak memiliki corak dan juga tidak memiliki aroma yang khas.

 


BAB V

PENUTUP

 

5.1.               Kesimpulan

Sifat fisik/kasar atau makroskopis adalah sifat yang dapat diketahui secara jelas melalui panca indera, baik dengan penglihatan,  pen-ciuman,  perabaan dan sebagainya tanpa menggunakan alat bantu.   Sifat-sifat kayu yang termasuk dalam sifat kasar antara lain adalah :

  1. warna, umumnya yang digunakan adalah warna kayu teras,
  2. tekstur, yaitu penampilan sifat struktur pada bidang lintang,
  3. arah serat, yaitu arah umum dari sel-sel pembentuk kayu,
  4. gambar, baik yang terlihat pada bidang radial maupun tangensial
  5. berat, umumnya dengan menggunakan berat jenis
  6. kesan raba, yaitu kesan yang diperoleh saat meraba kayu,
  7. lingkaran tumbuh,
  8. bau, dan sebagainya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://dipputradi.blog.com/2011/09/16/ilmu-kayu-II/

id.wikipedia.org/wiki/Kayu

http://sylvesterunila.blogspot.com/2011/06/sifat-makroskopis-kayu-laporan.html

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s