Laporan Praktikum Silvikultur Hutan Alam Perisalahan Pohon-Pohon di Hutan Rawa Air Tawar

LAPORAN PRAKTIKUM

SILVIKULTUR HUTAN ALAM

PERISALAHAN POHON-POHON DI HUTAN RAWA AIR TAWAR (FRESH WATER SWAMP FOREST)

 

 

 

OLEH :

SITI NAPISAH

D1D010010

 

JURUSAN KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2012

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.            Latar Belakang

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, rawa diartikan sebagai tanah yang rendah (umumnya di daerah pantai) dan digenangi air, biasanya banyak terdapat tumbuhan air. Penggenangan air di rawa dapat bersifat musiman ataupun permanen. Hutan rawa memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya. Jenis-jenis floranya antara lain: durian burung (Durio carinatus), ramin (Gonystylus sp), terentang (Camnosperma sp.), kayu putih (Melaleuca sp), sagu (Metroxylon sp), rotan, pandan, palem-paleman dan berbagai jenis lainnya. Faunanya antara lain : harimau (Panthera tigris), Orang utan (Pongo pygmaeus), rusa (Cervus unicolor), buaya (Crocodylus porosus), babi hutan (Sus scrofa), badak, gajah, musang air dan berbagai jenis ikan. Jenis-jenis rawa:

  1. Hutan rawa air tawar, memiliki permukaan tanah yang kaya akan mineral. Biasanya ditumbuhi hutan lebat;
  2. Hutan rawa gambut, terbentuk dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan yang proses penguraiannya sangat lambat sehingga tanah gambut memiliki kandungan bahan organik yang sangat tinggi;
  3. Rawa tanpa hutan, merupakan bagian dari ekosistem rawa hutan. Namun hanya ditumbuhi tumbuhan kecil seperti semak dan rumput liar.

Luas rawa di Indonesia diperkirakan lebih dari 23 juta hektar. Peran dan manfaat hutan rawa :

  1. Sumber cadangan air, dapat menyerap dan menyimpan kelebihan air dari daerah sekitarnya dan akan mengeluarkan cadangan air tersebut pada saat daerah sekitarnya kering
  2. mencegah terjadinya banjir;
  3. mencegah intrusi air laut ke dalam air tanah dan sungai
  4. sumber energi
  5. sumber makanan nabati maupun hewani

Hutan Rawa adalah hutan yang tumbuh dan berkembang pada tempat yang selalu tergenag air tawar atau secara musiman tergenang air tawar. Hutan ini tidak terpengaruh oleh iklim, tanah berada di kerendahan dan selalu tergenang air tawar, terdapat di belakang hutan payau dan tajuk hutan terdiri dari beberapa strata.

Ciri dari tipe ekosistem Hutan Rawa adalah hutan yang tumbuh pada daerah-daerah yang selalu tergenang air tawar, tidak dipengaruhi iklim. Pada umumnya terletak dibelakang hutan payau dengan jenis tanah aluvial dan aerasinya buruk. Tegakan hutan selalu hijau dengan pohon-pohon yang tinggi bisa mencapai 40 m dan terdiri atas banyak lapisan tajuk.

Tipe ekosistem hutan rawa terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia, misalnya di Sumatra bagian Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku dan Irian Jaya bagian Selatan.

Vegetasi yang menyusun ekosistem hutan rawa termasuk kategori vegetasi yang selalu hijau, di antaranya adalah berupa pohon-pohon dengan tinggi mencapai 40 meter dan mempunyai beberapa lapisan tajuk. Oleh karena hutan rawa ini mempunyai beberapa lapisan tajuk (beberapa stratum), maka bentuknya hampir menyerupai ekosistem hutan hujan tropis. Spesies-spesies pohon yang banyak terdapat dalam ekosistem hutan rawa antara lain Eucalyptus degulpta, Palaquium leiocarpum, Shorea uliginosa, Campnosperma macrophylla, Gareinia spp., Eugenia spp., Canarium spp., Koompassia spp., Calophyllum spp., Xylopia spp.. Pada umumnya spesies-spesies tumbuhan yang ada di dalam ekosistem hutan rawa cendenmg berkelompok membentuk komunitas tumbuhan yang miskin spesies. Dengan kata lain, penyebaran spesies tumbuhan yang ada di ekosistem hutan rawa itu tidak merata.

Ada beberapa daerah berawa yang hanya ditumbuhi rumput, ada pula yang hanya didominasi oleh pandan dan palem. Meskipun demikian ada juga yang menyerupai hutan hujan tropis dataran rendah dengan pohon-pohon berakar tunjang, berbagai spesies palem, dan terdapat spesies-spesies tumbuhan epifit, tetapi kekayaan jenis dan kepadatannya tentu lebih rendah dibandingkan dengan ekosistem hutan hujan tropis.

 

1.2.            Tujuan

  1. Untuk mengetahui tumbuhan penyusun hutan rawa air tawar
  2. Untuk mengetahui ekologi hutan rawa air tawar

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Beberapa ciri dari tipe ekosistem hutan rawa adalah ekosistem hutan yang tidak berpengaruh oleh iklim, terdapat pada daerah dengan kondisi tanah yang selalu tergenang air tawar, pada daerah yang terletak di belakang hutan payau (mangrove) dengan jenis tanah alluvial, dan kondisi aerasinya buruk (Arief, 1994; Direktorat Jenderal Kehutanan, 1976; Santoso, 1996).

Tipe ekosistem hutan rawa terdapat hamper di seluruh wilayah Indonesia, misalnya di Sumatra bagian Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Irian Jaya bagian Selatan.

Vegetasi yang menyusun ekosistem hutan rawa termasuk kategori vegetasi yang selallu hijau, di antaranya adalah berupa pohon-pohon dengan tinggi mencapai 40 meter dan mempunyai beberapa lapisan tajuk. Oleh karena hutan rawa ini mempunyai beberapa lapisan tajuk (beberapa stratum), maka bentuknya hamper menyerupai ekosistem hutan hujan tropis (Arief, 1994).

Spesies-spesies pohon yang banyak terdapat dalam ekosistem hutan rawa antara lain Palaquium leiocarpum, Shorea uliginosa, Campnosperma macrophylla, Garcinia spp., Eugenia spp., Canarium spp., Koompassia spp., Calophyllum spp., Xylopia spp.. Pada umumnya spesies-spesies tumbuhan yang ada di dalam ekosistem hutan rawa cenderung berkelompok membentuk komunitas tumbuhan yang miskin spesies. Dengan kata lain, penyebaaran spesies tumbuhan yang ada di ekosistem hutan rawa itu tidak merata. Bahkan menurut Irwan (1992), ada beberapa daerah berawa yang hanya ditumbuhi rumput, ada pula yang hanya didominasi pandan dan palem. Meskipun ada juga yang menyerupai hutan huja tropis dataran rendah dengan pohon-pohon berakar tunjang, berbagai spesies palem, dan terdapat spesies-spesies tumbuhan epifit, tetapi kekayaan jenis dan kepadatannya tentu lebih rendah dibandingkan dengan ekosistem hutan hujan tropis (Ewusie, 1990).

BAB III

METODE PRAKTIKUM

 

1.1.            Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilakukan di sepanjang jembatan aurduri II, Muaro Jambi; areal bekas terbakar di Desa Niaso, Muaro Jambi; lahan gambut bekas terbakar di perbatasan Tanjung Jabung Timur. Praktikum ini dilakukan pada hari Sabtu, tanggal 3 Maret 2012, dimulai pada pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 11.30 WIB.

 

1.2.            Alat dan Bahan

–          Alat tulis

–          Kamera (Handphone)

 

1.3.            Cara Kerja

  1. Mengamati objek yang ada di lokasi
  2. Menghitung jumlah objek yang ada
  3. Mengamati morfologinya
  4. Mencatat hasil pengamatan

BAB IV

PEMBAHASAN

 

  1. Jembatan Aurduri Bagian Pangkal
    1. Jabon(Anthocephalus cadamba (Roxb.) Miq.)
      1. Lokasi berada di sepanjang sungai besar
      2. Ekologi : Jumlah lebih dari 20 dengan kondisi tanah yang berair
      3. Life formnya adalah pohon
      4. Kondisi Habitat adalah bekas perladangan
      5. Bukan merupakan pionir
      6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Selalu hijau. Di alam bebas pohon dapat mencapai tinggi 45 m dengan diameter lebih dari 100 cm, sedangkan batas bebas cabangnya mencapai hingga 25 m. Pada umur 3 tahun tingginya dapat mencapai 17 m dengan diameter 30 cm. Bentuk tajuk seperti payung dengan sistem percabangan melingkar.

Berbatang silinder , tidak berbanir dengan tingkat kelurusan yang sangat bagus, diameter batang dapat tumbuh berkisar 10 cm/th. Permukaan kayu licin serta arah tegak lurus, berwarna putih kekuningan mirip meranti kuning, batang mudah dikupas, dikeringkan, direkatkan, bebas dari cacat mata kayu dan susutnya rendah.

–          Daun

Daun-daun berukuran panjang 13-32 cm dan lebar 7-15 cm, ujung daun runcing hingga meruncing, memiliki tangkai daun yang jelas berukuran 2.5-6 cm;

–          Bunga

Kepala bunga (flower heads) memiliki lebar 3-5 cm, Bunga jingga berukuran kecil, berkelopak rapat, berbentuk bulat.

–          Buah

Bagian atas bakal buah beruang 4.

–          Manfaat

Tanaman ini dapat ditanam sebagai tanaman orrnamental dan tanaman pelindung. Di Kalimantan dan Sumatra, jenis tumbuhan ini dipergunakan untuk permudaan alam seperti pada areal bekas tebangan, bekas perladangan dan di tempat-tempat terbuka lainnya

 

  1. Tebu (Saccharum oftlcinarum L.)
    1. Lokasi berada di sepanjang sungai besar
    2. Ekologi : Jumlah kurang lebih 10 dengan kondisi tanah yang berair
    3. Life formnya adalah herba
    4. Kondisi Habitat adalah bekas perladangan
    5. Bukan merupakan pionir
    6. Sifat botanis pohon

–          Habitus

Rurnput-rumputan, tahunan, tinggi 1,5-3 m. Batang silindris, beruas-ruas, tidak bercabang, mempunyai mata kuncup pada seiiap buku, tegak. rasa manis, kuning keunguan.

–          Daun

Tunggai, berpelepah, bentuk lanset, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, kasap, pertulangan sejajar, panjang 50-175 cm, lebar 8-12 cm, hijau

–          Bunga

Majemuk, bentuk malai, panjang 30-90 cm, benang sari tiga.tangkai putik dua, kepala putik merah keunguan, putih.

–          Manfaat

Batang tebu berkhasiat sebagai obat batuk dan obat pegal linu.

 

 

  1. Pisang (Musa paradisiacal)
    1. Lokasi berada di sepanjang sungai besar
    2. Ekologi : Jumlah 6 dengan kondisi tanah yang berair
    3. Life formnya adalah herba
    4. Kondisi Habitat adalah bekas perladangan
    5. Bukan merupakan pionir
    6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Batang Musa paradisiaca sebenarnya terletak dalam tanah berupa umbi batang, sedangkan yang terlihat adalah batang semu. Batang semu ini terbentuk dari upih daun yang saling menelungkup dan menutupi dengan kuat dan kompak. Tinggi batang semu ini berkisar antara 3.5-7.5 meter, tergantung jenisnya. Batang berbentuk bulat (teres). Permukaan batang licin (laevis). Arah tumbuh batang tegak lurus dan tidak bercabang. Berdasarkan panjang pendeknya umur, Musa paradisiaca merupakan tumbuhan herba menahun.

 

–          Daun

Musa paradisiaca mempunyai daun tunggal berbentuk lancet memanjang dan mudah koyak oleh hembusan angin yang keras karena tidak mempunyai tulang-tulang pinggir yang menguatkan lembaran daun. Ukuran 1.5 – 3 x 0.3-0.8 meter. Mempunyai tepi daun rata (integer), ujung daun romping (truncatus), pangkal daun tumpul (obtusus), daging daun seperti perkamen (perkamentus), tulang daun menyirip (pennivernis), permukaan bagian atas licin (laevis) dan bagian bawahnya berlapis lilin (pruinosus), berwarna hijau pada permukaan atas dan berwarna hijau keputihan pada bagian bawahnya. Musa paradisiaca mempunyai tata letak daun tersebar (folia sparsa), mempunyai daun penumpu yang berjejal rapat dan tersusun spiral. Daun pelindung merah tua, berlilin, mudah rontok, panjang 10-25 cm.

–          Bunga

Perbungaan tunggal di ujung daun, yang ditutupi oleh braktea yang berwarna kemerahan yang menutupi sederetan bunga, brakteanya akan layu dan jatuh ketika sudah terjadi pembuahan.

 

–          Buah

Buahnya tandan, tidak berbiji, warna hijau menjadi kuning atau kemerahan ketika dewasa.

–          Manfaat

Buah merupakan hasil utama pisang, yang dapat dimakan langsung atau dimasak terlebih dahulu sebelum dimakan. Seringkali pisang juga diproses untuk tepung, keripik, bir, cuka. Bunga jantan beberapa kultivar sering digunakan sebagai sayuran. Daunnya sering dipakai sebagai pembungkus makanan. Serat yang diperoleh dari pelepah daun digunakan untuk membuat baju, sandal, tas. Bagian tanaman seperti daun dan buahnya seringkali dipakai dalam upacara tradisional misalnya dalam perkawinan, membuat bangunan baru. Daunnya yang muda dan masih menggulung dipergunakan untuk obat dalam mengobati sakit dada. Cairan yang dihasilkan dari potongan batangnya digunakan untuk mengobati infeksi saluran kencing, disentri dan diare, selain itu juga digunakan untuk mengobati kebotakan karena gugurnya rambut. Bila dalam bentuk bubuk, digunakan juga untuk mengobati anemia dan kekurangan gizi. Buahnya yang belum masak digunakan untuk makanan orang yang menderita haemoptisi dan diabetes. Tepung yand dibuat dari pisang digunakan untuk mengobati dispepsia.

 

  1. Durian (Durio zibethinus)
    1. Lokasi berada di sepanjang sungai besar
    2. Ekologi : Jumlah 2 dengan kondisi tanah yang berair
    3. Life formnya adalah pohon
    4. Kondisi Habitat adalah bekas perladangan
    5. Bukan merupakan pionir
    6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Durian merupakan pohon tahunan/ tumbuhan perenial yang mempunyai tinggi batang sekitar 27-40 meter, hijau abadi (pengguguran daun tidak tergantung musim) tetapda saat tertentu untuk menumbuhkan daun-daun baru (periode flushing).

 

 Batang berkayu, silindris, tegak, kulit pecah-pecah, permukaan kasar, percabangan simpodial, bercabang banyak, arah mendatar, tinggi batang 25 m, lingkar batang ketinggian 1 meter 353,25 cm, bentuk tajuk seperti payung, keadaan tajuk rimbun, bentuk batang bulat, percabangan melengkung ke atas, letak cabang terendah > 5 m, tekstur kulit batang kasar, warna kulit kecoklatan;  

–          Daun

 Daun tunggal berbentuk elips/lanset dan memanjang dengan ukuran panjang 6,5 cm sampai 25 cm dan lebar 3 cm sampai 5 cm, ujung daun meruncing, pangkal daun membulat, tepi rata, permukaan atas berwarna hijau tua, permukaan bawah berwarna coklat kekuningan. Punggung daun berwarna perak.

–          Bunga

 Bunga muncul dari kuncup dorman, batang atau cabang yang sudah membesar, bertangkai, kelopak berbentuk lonceng, berkelompok, berwarna putih hingga coklat keemasan . Bunga mekar pada sore hari dan bertahan beberapa hari. Bunganya menyebarkan aroma wangi untuk menarik perhatian kelelawar sebagai penyerbuk utamanya

 

–          Buah

 Buah kapsul, bulat atau bulat telur, panjang 15-30 cm, garis tengah 13-15 cm, dan berduri tajam. Warna buah ketika masih muda hijau dan setelah tua kuning.

–          Manfaat

BUAH : Daging buah berkhasiat sebagai tonik dan penghangat badan. Kulit buah berkhasiat sebagai obat beri-beri, pelancar haid, dan mempermudah buang air besar. Daun berkhasiat sebagai obat cantengan dan sakit kuning, selain itu untuk mencegah dampak dari extensic aging (faktor penuaan dari luar) meningkatkan tekanan darah(zat besi),buah dan akarnya berkhasiat untuk mengatasi bengkak, penyakit kulit, dan penyakit kuning.

KULIT : dapat digunakan sebagai obat pengusir nyamuk, untuk mengobati ruam pada kulit (sakit kurap) dan susah buang air besar (sembelit). Kulit buah ini pun biasa dibakar dan abunya digunakan dalam ramuan untuk melancarkan haid. Selain itu kulit durian dapat dipakai sebagai bahan abu gosok yang bagus, dengan cara dijemur sampai kering dan dibakar sampai hancur. DAUN : Air seduhan daun durian di Malaysia digunakan sebagai antipiretik (pereda demam). Daun dan akar durian digunakan sebagai antipiretik dan daun durian yang dihancurkan dapat juga digunakan untuk pasien yang demam yaitu dengan cara diletakkan di atas dahi. Bagi orang yang mempunyai tekanan darah tinggi dianjurkan agar menghindari buah durian karena dapat meningkatkan tekanan darah, sedangkan kulit durian dapat digunakan sebagi penolak nyamuk. Akar berkhasiat sebagai obat sakit demam dan sakit kulit.

 

  1. Duku (Lansium domesticum)
    1. Lokasi berada di sepanjang sungai besar
    2. Ekologi : Jumlah 1 dengan kondisi tanah yang berair
    3. Life formnya adalah pohon
    4. Kondisi Habitat adalah bekas perladangan
    5. Bukan merupakan pionir
    6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Pohon yang berukuran sedang, dengan tinggi mencapai 30 m dan gemang hingga 75 cm. Batang biasanya beralur-alur dalam tak teratur, dengan banir (akar papan) yang pipih menonjol di atas tanah. Pepagan (kulit kayu) berwarna kelabu berbintik-bintik gelap dan jingga, mengandung getah kental berwarna susu yang lengket (resin).

–          Daun

Daun majemuk menyirip ganjil, gundul atau berbulu halus, dengan 6–9 anak daun yang tersusun berseling, anak daun jorong (eliptis) sampai lonjong, 9-21 cm × 5-10 cm, mengkilap di sisi atas, seperti jangat, dengan pangkal runcing dan ujung meluncip (meruncing) pendek, anak daun bertangkai 5–12 mm.

–          Bunga

Bunga terletak dalam tandan yang muncul pada batang atau cabang yang besar, menggantung, sendiri atau dalam berkas 2–5 tandan atau lebih, kerap bercabang pada pangkalnya, 10–30 cm panjangnya, berambut. Bunga-bunga berukuran kecil, duduk atau bertangkai pendek, menyendiri, berkelamin dua. Kelopak berbentuk cawan bercuping-5, berdaging, kuning kehijauan. Mahkota bundar telur, tegak, berdaging, 2-3 mm × 4-5 mm, putih hingga kuning pucat. Benang sari satu berkas, tabungnya mencapai 2 mm, kepala-kepala sari dalam satu lingkaran. Putiknya tebal dan pendek.

 

–          Buah

Buah buni yang berbentuk jorong, bulat atau bulat memanjang, 2-4(-7) cm × 1,5-5 cm, dengan bulu halus kekuning-kuningan dan daun kelopak yang tidak rontok. Kulit (dinding) buah tipis hingga tebal (kira-kira 6 mm). Berbiji 1–3, pipih, hijau, berasa pahit; biji terbungkus oleh salut biji (arilus) yang putih bening dan tebal, berair, manis hingga masam. Kultivar-kultivar yang unggul memiliki biji yang kecil atau tidak berkembang (rudimenter), namun arilusnya tumbuh baik dan tebal, manis.

–          Manfaat

Duku terutama ditanam untuk buahnya, yang biasa dimakan dalam keadaan segar. Ada pula yang mengawetkannya dalam sirup dan dibotolkan. Kayunya keras, padat, berat dan awet, sehingga kerap digunakan sebagai bahan perkakas dan konstruksi rumah di desa, terutama kayu pisitan.Beberapa bagian tanaman digunakan sebagai bahan obat tradisional. Biji duku yang pahit rasanya, ditumbuk dan dicampur air untuk obat cacing dan juga obat demam. Kulit kayunya dimanfaatkan sebagai obat disentri dan malaria; sementara tepung kulit kayu ini dijadikan tapal untuk mengobati gigitan kalajengking. Kulit buahnya juga digunakan sebagai obat diare; dan kulit buah yang dikeringkan, di Filipina biasa dibakar sebagai pengusir nyamuk.[1][6] Kulit buah langsat terutama, dikeringkan dan diolah untuk dicampurkan dalam setanggi atau dupa.

 

  1. Kelapa
    1. Lokasi berada di sepanjang sungai besar
    2. Ekologi : Jumlah 3 dengan kondisi tanah yang berair
    3. Life formnya adalah pohon
    4. Kondisi Habitat adalah bekas perladangan
    5. Bukan merupakan pionir
    6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Pohon dengan batang tunggal atau kadang-kadang bercabang. Akar serabut, tebal dan berkayu, berkerumun membentuk bonggol, adaptif pada lahan berpasir pantai. Batang beruas-ruas namun bila sudah tua tidak terlalu tampak, khas tipe monokotil dengan pembuluh menyebar (tidak konsentrik), berkayu. Kayunya kurang baik digunakan untuk bangunan.

–          Daun

Daun tersusun secara majemuk, menyirip sejajar tunggal, pelepah pada ibu tangkai daun pendek, duduk pada batang, warna daun hijau kekuningan.

–          Bunga

Bunga tersusun majemuk pada rangkaian yang dilindungi oleh bractea; terdapat bunga jantan dan betina, berumah satu, bunga betina terletak di pangkal karangan, sedangkan bunga jantan di bagian yang jauh dari pangkal.

–          Buah

Buah besar, diameter 10 cm sampai 20 cm atau bahkan lebih, berwarna kuning, hijau, atau coklat; buah tersusun dari mesokarp berupa serat yang berlignin, disebut sabut, melindungi bagian endokarp yang keras (disebut batok) dan kedap air; endokarp melindungi biji yang hanya dilindungi oleh membran yang melekat pada sisi dalam endokarp. Endospermium berupa cairan yang mengandung banyak enzim, dan fase padatannya mengendap pada dinding endokarp ketika buah menua; embrio kecil dan baru membesar ketika buah siap untuk berkecambah (disebut kentos).

–          Manfaat

Kelapa adalah pohon serba guna bagi masyarakat tropika. Hampir semua bagiannya dapat dimanfaatkan orang. Akar kelapa menginspirasi penemuan teknologi penyangga bangunan Cakar Ayam (dipakai misalnya pada Bandar Udara Soekarno Hatta) oleh Sedijatmo.

Batangnya, yang disebut glugu dipakai orang sebagai kayu dengan mutu menengah, dan dapat dipakai sebagai papan untuk rumah.

Daunnya dipakai sebagai atap rumah setelah dikeringkan. Daun muda kelapa, disebut janur, dipakai sebagai bahan anyaman dalam pembuatan ketupat atau berbagai bentuk hiasan yang sangat menarik, terutama oleh masyarakat Jawa dan Bali dalam berbagai upacara, dan menjadi bentuk kerajinan tangan yang berdiri sendiri (seni merangkai janur). Tangkai anak daun yang sudah dikeringkan, disebut lidi, dihimpun menjadi satu menjadi sapu.

Tandan bunganya, yang disebut mayang (sebetulnya nama ini umum bagi semua bunga palma), dipakai orang untuk hiasan dalam upacara perkawinan dengan simbol tertentu. Bunga betinanya, disebut bluluk (bahasa Jawa), dapat dimakan. Cairan manis yang keluar dari tangkai bunga, disebut (air) nira atau legèn (bhs. Jawa), dapat diminum sebagai penyegar atau difermentasi menjadi tuak.

Buah kelapa adalah bagian paling bernilai ekonomi. Sabut, bagian mesokarp yang berupa serat-serat kasar, diperdagangkan sebagai bahan bakar, pengisi jok kursi, anyaman tali, keset, serta media tanam bagi anggrek. Tempurung atau batok, yang sebetulnya adalah bagian endokarp, dipakai sebagai bahan bakar, pengganti gayung, wadah minuman, dan bahan baku berbagai bentuk kerajinan tangan.

Endosperma buah kelapa yang berupa cairan serta endapannya yang melekat di dinding dalam batok (“daging buah kelapa”) adalah sumber penyegar populer. Daging buah muda berwarna putih dan lunak serta biasa disajikan sebagai es kelapa muda atau es degan. Cairan ini mengandung beraneka enzim dan memilki khasiat penetral racun dan efek penyegar/penenang. Beberapa kelapa bermutasi sehingga endapannya tidak melekat pada dinding batok melainkan tercampur dengan cairan endosperma. Mutasi ini disebut (kelapa) kopyor. Daging buah tua kelapa berwarna putih dan mengeras. Sarinya diperas dan cairannya dinamakan santan. Daging buah tua ini juga dapat diambil dan dikeringkan serta menjadi komoditi perdagangan bernilai, disebut kopra. Kopra adalah bahan baku pembuatan minyak kelapa dan turunannya. Cairan buah tua kelapa biasanya tidak menjadi bahan minuman penyegar dan merupakan limbah industri kopra. Namun demikian dapat dimanfaatkan lagi untuk dibuat menjadi bahan semacam jelly yang disebut nata de coco dan merupakan bahan campuran minuman penyegar. Daging kelapa juga dapat dimanfaatkan sebagai penambah aroma pada daging serta dapat dimanfaatkan sebagai obat rambut yang rontok dan mudah patah.

 

  1. Bungur (Lagerstroemia speciosa Auct)
    1. Lokasi berada di sepanjang sungai besar
    2. Ekologi : Jumlah lebih dari 10 dengan kondisi tanah yang berair
    3. Life formnya adalah pohon
    4. Kondisi Habitat adalah bekas perladangan
    5. Bukan merupakan pionir
    6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

 Berhabitus pohon yang tingginya mencapai 10-20 m. Batang berkayu, bulat, bercabang, berwarna coklat kehitaman. Batangnya umumnya bengkok, demikian juga dengan percabangan-nya  

 

 

–          Daun

Daun Bungur berwarna hijau kekuningan berbentuk jorong dengan panjang sekitar 24 cm dan lebarnya sekitar 12 cm. sementara itu bunganya panjang berwarna ungu.

–          Bunga

Bunganya berbentuk malai yang panjangnya mencapai 40 cm, berwarna ungu

 

–          Buah

Buahnya berbentuk Capsules oblate, bola sampai bulat memanjang, diameternya 1 – 1.5 cm, panjang 2-3,5 cm, beruang 3-7, buah yang masih muda berwarna hijau, setelah masak menajdi cokelat

–          Manfaat

Daun dan buah bungur mengandung plantisul, yaitu zat yang aktivitasnya seperti insulin. Menurut hasil penelitian, daun bungur yang sudah tua sebanyak 20 g. Jika direbus dalam 100 ml air selama 45 menit dan diminum, memiliki kekuatan 6-6,7 unit insulin. Biji Bungur berkhasiat sebagai obat eksim dan obat penurun tekanan darah tinggi. Kulit kayu bungur digunakan untuk pengobatan diare, disentri, dan Kencing darah serta digunakan untuk pengobatab kencing batu, kencing manis dan tekanan darah tinggi.

 

 

  1. Aren (Arenga pinnata Merr)
    1. Lokasi berada di sepanjang sungai besar
    2. Ekologi : Jumlah 1 dengan kondisi tanah yang berair
    3. Life formnya adalah pohon
    4. Kondisi Habitat adalah bekas perladangan
    5. Bukan merupakan pionir
    6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Palem pohon yang tidak bercabang-cabang dan tunggal, mati setelah berbunga, bisa mencapai 20 m.dengan diameter 30-65 cm. batang pokoknya kukuh, ditutupi oleh bekas pangkal tangkai daun dan serat-serat panjang berwarna hitam keabu-abuan (pelepah daun dan ijuk yang melekat pada pangkal pelepah)  

 

 

–          Daun

Daunnya majemuk menyirip, seperti daun kelapa, panjang hingga 5 m dengan tangkai daun hingga 1,5 m. Anak daun seperti pita bergelombang, hingga 7 x 145 cm, berwarna hijau gelap di atas dan keputih-putihan oleh karena lapisan lilin di sisi bawahnya. anak daun bentuk Janset, menyirip, pangkal membulat, ujung runcing, tepi rata, tangkai pendek, hijau muda-tua berkelamin tunggal, bentuk tongkol, diketiak daun

–          Bunga

 Berumah satu, bunga-bunga jantan terpisah dari bunga-bunga betina dalam tongkol yang berbeda yang muncul di ketiak daun; panjang tongkol hingga 2,5 m. bunga jantan dan betina menyatu pada tongkol, daun kelopak tiga, bulat telur, benang sari banyak, kepala sari bentuk jarum, bunga betina bulat, bakal buah tiga, putik tiga, putih, mahkota berbagi tiga, kuning keputih-putihan.

 

–          Buah

Buah buni bentuk bulat peluru, dengan diameter sekitar 4 cm, beruang tiga dan berbiji tiga, [2] tersusun dalam untaian seperti rantai. Setiap tandan mempunyai 10 tangkai atau lebih, dan setiap tangkai memiliki lebih kurang 50 butir buah berwarna hijau sampai coklat kekuningan.

 

–          Manfaat

Akar Arenga pinnata mengandung saponin, flavonoida dan polifenol. Akar Arenga pinnata berkhasiat sebagai peluruh air seni dan peluruh haid. Getah hasil sadapan berkhasiat sebagai obat sariawan, urus-urus dan obat radang paru. Semua bagian tumbuhan palem dapat dimanfaatkan untuk banyak produk. Batang mengandung teras pati yang lunak dengan banyak serabut kasar dan berkayu; pati dapat diekstrak dari empulur batang. Produk makanan yang berasal dari pati biasanya untuk membuat makanan khusus seperti `bakso` (Indonesia), dan tempoyak yang dibuat dari palem kumbang (Rynchophorus ferrugineus) yang dibusukkan pada batang-batang yang jatuh dan dapat dimakan secara segar, digoreng atau dikukus. Produk utama lainnya yang berasal dari sadapan tangkai perbungaan adalah sari beraroma manis:nira (bentuk segar) dan toddy (bentuk fermentasi), cuka dihasilkan dari fermentasi yang terus menerus, alkohol dapat disuling dari anggur palem dan khamir yang dibuat dari residu yang disimpan selama fermentasi. Pohon aren dapat menghasilkan gula aren. Gula aren dipakai sebagai bahan pembantu untuk menimbulkan warna, memperkuat ketahanan warna dari pewarna alami. Selain itu gula aren dicampur dengan air dan kapur dipergunakan untuk nyareni. Gula aren juga dipakai untuk memberi warna coklat makanan. Daun-daun muda yang tetap berwarna putih, dimakan seperti kubis.`Kolang kaling` (Indonesia) dibuat dengan memasak endosperma putih dari biji-biji yang belum masak dengan gula. Serabut yang dikumpulkan dari akar, empulur batang, tangkai daun dan disekeliling batang (panjang dan berwarna hitam-kelabu=`ijuk`, Indonesia), dapat digunakan untuk berbagai keperluan misalnya: tali pada kapal, pelindung kayu dalam tanah dan dalam air laut, keranjang, konstruksi atap, untuk mengikat, sikat, sapu, jaring ikan, perangkap dan tikar. Bulu keras dan kuat diantara serabut-serabut tipis dekat pangkal daun digunakan sebagai pena, anak panah, suluh, bahan bakar bahan-bahan yang berbau. Sedangkan akar-akar yang tumbuh dari pangkal batang kadang-kadang dijadikan papan berserabut untuk pembudidayaan anggrek. Pinak daun digunakan untuk membuat keranjang basket, tangkai daun untuk sapu dan tusuk sate, sedangkan yang masih muda bisa dimakan. Tangkai daun yang besar dapat digunakan sebagai kayu bakar, tongkat dan alat-alat musik.Kayu berwarna hitam dan kuning yang berasal dari batangnya digunakan untuk ubin, peralatan rumah tangga, alat-lat pegangan dan sebagai kayu bakar yang bernilai tinggi. Akar mudanya untuk mengobati batu ginjal, sedangkan yang tua untuk sakit gigi, gula untuk pencahar dan daging yang ada diantara pelepah daun untuk mempercepat pemulihan luka bakar. Di daerah-daerah tertentu gula pohon palem dibayarkan sebagai mas kawin.

 

  1. Mangga (Mangifera indica)
    1. Lokasi berada di sepanjang sungai besar
    2. Ekologi : Jumlah 1 dengan kondisi tanah yang berair
    3. Life formnya adalah pohon
    4. Kondisi Habitat adalah bekas perladangan
    5. Bukan merupakan pionir
    6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Pohon mangga berperawakan besar, dapat mencapai tinggi 40 m atau lebih, meski kebanyakan mangga peliharaan hanya sekitar 10 m atau kurang. Batang mangga tegak, bercabang agak kuat; dengan daun-daun lebat membentuk tajuk yang indah berbentuk kubah, oval atau memanjang, dengan diameter sampai 10 m. Kulit batangnya tebal dan kasar dengan banyak celah-celah kecil dan sisik-sisik bekas tangkai daun. Warna pepagan (kulit batang) yang sudah tua biasanya coklat keabuan, kelabu tua sampai hampir hitam.

–          Daun

Daun tunggal, dengan letak tersebar, tanpa daun penumpu. Panjang tangkai daun bervariasi dari 1,25-12,5 cm, bagian pangkalnya membesar dan pada sisi sebelah atas ada alurnya. Aturan letak daun pada batang biasanya 3/8, tetapi makin mendekati ujung, letaknya makin berdekatan sehingga nampaknya seperti dalam lingkaran (roset).

Helai daun bervariasi namun kebanyakan berbentuk jorong sampai lanset, 2-10 × 8-40 cm, agak liat seperti kulit, hijau tua berkilap, berpangkal melancip dengan tepi daun bergelombang dan ujung meluncip, dengan 12-30 tulang daun sekunder.

–          Bunga

Berumah satu (monoecious), bunga mangga merupakan bunga majemuk yang berkarang dalam malai bercabang banyak di ujung ranting. Karangan bunga biasanya berbulu, tetapi sebagian ada juga yang gundul, kuning kehijauan, sampai 40 cm panjangnya. Bunga majemuk ini terdiri dari sumbu utama yang mempunyai banyak cabang utama. Setiap cabang utama ini mempunyai banyak cabang-cabang, yakni cabang kedua. Ada kemungkinan cabang bunga kedua ini mempunyai suatu kelompok yang terdiri dari 3 bunga atau mempunyai cabang tiga. Setiap kelompok tiga bunga terdiri dari tiga kuntum bunga dan setiap kuntum bertangkai pendek dengan daun kecil. Jumlah bunga pada setiap bunga majemuk bisa mencapai 1000-6000.

–          Buah

Buah mangga termasuk kelompok buah batu (drupa) yang berdaging, dengan ukuran dan bentuk yang sangat berubah-ubah bergantung pada macamnya, mulai dari bulat (misalnya mangga gedong), bulat telur (gadung, indramayu, arumanis) hingga lonjong memanjang (mangga golek). Panjang buah kira-kira 2,5-30 cm. Pada bagian ujung buah, ada bagian yang runcing yang disebut paruh. Di atas paruh ada bagian yang membengkok yang disebut sinus, yang dilanjutkan ke bagian perut.

Kulit buah agak tebal berbintik-bintik kelenjar; hijau, kekuningan atau kemerahan bila masak. Daging buah jika masak berwarna merah jingga, kuning atau krem, berserabut atau tidak, manis sampai masam dengan banyak air dan berbau kuat sampai lemah. Biji berwarna putih, gepeng memanjang tertutup endokarp yang tebal, mengayu dan berserat. Biji ini terdiri dari dua keping; ada yang monoembrional dan ada pula yang poliembrional.

–          Manfaat

Mangga terutama ditanam untuk buahnya. Buah yang matang umum dimakan dalam keadaan segar, sebagai buah meja atau campuran es, dalam bentuk irisan atau diblender. Buah yang muda kerapkali dirujak, atau dijajakan di tepi jalan setelah dikupas, dibelah-belah dan dilengkapi bumbu garam dengan cabai. Buah mangga juga diolah sebagai manisan, irisan buah kering, dikalengkan dan lain-lain. Di pelbagai daerah di Indonesia, mangga (tua atau muda) yang masam kerap dijadikan campuran sambal atau masakan ikan dan daging.

Biji mangga dapat dijadikan pakan ternak atau unggas; di India bahkan dijadikan bahan pangan di masa paceklik. Daun mudanya dilalap atau dijadikan sayuran. Kayu mangga cukup kuat, keras dan mudah dikerjakan; namun kurang awet untuk penggunaan di luar. Kayu ini juga dapat dijadikan arang yang baik.

Daun mangga mengandung senyawa organik tarakserol-3beta dan ekstrak etil asetat yang bersinergis dengan insulin mengaktivasi GLUT4, dan menstimulasi sintesis glikogen, sehingga dapat menurunkan gejala hiperglisemia

 

  1. Terap (Artocarpus elasticus Reinw. ex Blume)
    1. Lokasi berada di sepanjang sungai besar
    2. Ekologi : Jumlah 2 dengan kondisi tanah yang berair
    3. Life formnya adalah pohon
    4. Kondisi Habitat adalah bekas perladangan
    5. Bukan merupakan pionir
    6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Berhabitus pohon, tinggi 15-30 m, dari semua bagian mengeluarkan lateks putih yang tebal. Perakaran tunggang, kuat berwarna coklat, berbanir. Batang tegak, bulat, percabangan simpodial, bergetah putih, permukaan kasar, coklat.  

 

 

 

 

–          Daun

Daun tunggal, berseling, lonjong, tebal, tepi bertoreh, ujung dan pangkal runcing, panjang 20-40 cm, lebar 15-25 cm, pertulangan menyirip, berbulu, hijau.

–          Bunga

Bunga Tunggal, berumah satu, bunga jantan silindris, panjang 5-15 cm, putih kekuningan, bunga betina bulat, garis tengah 2-5 cm, hijau.

 

–          Buah

 Buah termasuk buah majemuk semu, bulat, berduri halus, garis tengah 10-15cm,coklat kekuning-kuningan, runcing syncarp diisi dengan banyak bibit dalam daging putih dengan tonjolan-tonjolan serupa duri lunak panjang dan pendek, agak lengket.

–          Manfaat

Kulit batang Artocarpus etastica berkhasiat sebagai obat sakit pefut dan getahnya sebagai obat sakit mencret. Untuk obat sakit perut dipakai kulit batang Artocarpus altilis, dipukul pukul lalu digunakan sebagai sabuk perut. Kandungan kimia Daun, buah dan kulit batang Artocarpus elastica mengandung saponin dan polifenol, di samping itu daun dan buahnya juga mengandung flavonoida. Kulit digunakan untuk membuat keranjang straps. Latexnya digunakan sebagai lem burung.

 

  1. Keladi (Colocasia esculenta Schott)
    1. Lokasi berada di sepanjang sungai besar
    2. Ekologi : Jumlah lebih dari 20 dengan kondisi tanah yang berair
    3. Life formnya adalah semak
    4. Kondisi Habitat adalah bekas perladangan
    5. Bukan merupakan pionir
    6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Semak, tinggi 1-1,5 m. Batang semu, silindris, batang di dalam tanah membentuk umbi, lunak, coklat muda.

–          Daun

Tunggal, lonjong, tepi rata, ujung runcing, pangkal berlekuk, panjang 40-60 cm, lebar 20-30 cm, tangkai silindris, panjang 50-75 cm, hijau, pertulangan menyirip, permukaan halus, hijau.

–          Bunga

Tunggal, di ketiak daun, kelopak lonjong, putih, benang sari dan putik Dentuk gada, panjang 4-7 cm, kuning, tangkai silindris, panjang 20-30 cm, mahkota lonjong, satu helai, putih.

–          Manfaat

Umbi Colocasia esculenta berkhasiat sebagai obat sakit berak darah dan kulit tangkai daunnya untuk pembalut luka baru. Untuk obat berak darah dipakai + 100 gram umbi Colocasia esculenta, dikupas, dicuci, diparut, diperas dan disaring. Hasil saringan diminum sekaligus.

 

  1. Pandan (Pandanus furcatus Roxb.)
    1. Lokasi berada di sepanjang sungai besar
    2. Ekologi : Jumlah lebih dari 10 dengan kondisi tanah yang berair
    3. Life formnya adalah pohon
    4. Kondisi Habitat adalah bekas perladangan
    5. Bukan merupakan pionir
    6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Pohon, tinggi ± 11 m. Batang tegak, bulat, percabangan monopodial, putih kotor.

–          Daun

Tunggal, memeluk batang, lanset, tepi bergerigi, ujung lancip, pangkal membulat, pertulangan sejajar, panjang 75-90 cm, lebar 3-5 cm, hijau.

–          Bunga

Majemuk, bentuk bongkol, berkelamin dua, di ketiak daun, tangkai bunga jantan berdiri, lonjong, daun pelindung lanset, bakal buah berjejal rapat, benang sari terkumpul rapat pada poros tongkol, hijau keputih-putihan.

–          Buah

Buni, bulat, hitam.

–          Manfaat

Daun Pandanus furcatus berkhasiat sebagai obat batuk. Daunnya yang dikeringkan dipakai sebagai bahan baku anyaman, baik untuk tikar maupun topi pandan. Buah sebagai suplemen yang menyehatkan tubuh dan                                        sebagai obat kanker.

 

  1. Rengas (Gluta renghas)
    1. Lokasi berada di sepanjang sungai besar
    2. Ekologi : Jumlah 3 dengan kondisi tanah yang berair
    3. Life formnya adalah pohon
    4. Kondisi Habitat adalah bekas perladangan
    5. Bukan merupakan pionir
    6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Pohon berukuran besar, tinggi mencapai 50 m, diameter 115 cm, kadang berbanir. Kulit batang berwarna coklat dan pohon yang tua kulit warna keabu-abuan serta bersisik. Getah mengandung racun, tapi lama kelamaan getah setelah kering hilang.

–          Daun

Daun bentuk lonjong atau bulat telur sungsang, panjang 8-36 cm, lebar 4-9 cm, ujung tumpul dan permukaan daun tidak berbulu

–          Bunga

Bunga tersusun dalam malai, berwarna putih dengan daun kelopak tidak beraturan.

–          Buah

Buahnya berbentuk bulat sungsang, ukuran diameter buah 3-5 cm, berwarna coklat kemerahan dan berbongkol.

–          Manfaat

Kayunya dapat digunakan untuk bahan bangunan rumah, kontruksi bangunan dan jembatan, bantalan rel kereta, perahu, papan, perkakas rumah tangga, lantai dan kayu lapis. Getah resinnya dapat diolah jadi bahan pernis, jika kena kulit bias gatal. Bijinya dibersihkan digoreng bisa dimakan. Petani menanam tanaman ini banyak digunakan sebagai tanaman sela di hutan jati yang sudah mengurus, juga dapat menghambat pertumbuhan gulma dan tahan terhadap kebakaran.

 

  1. Rambe (Baccaurea motleyana Müll.Arg.)
    1. Lokasi berada di sepanjang sungai besar
    2. Ekologi : Jumlah 1 dengan kondisi tanah yang berair
    3. Life formnya adalah pohon
    4. Kondisi Habitat adalah bekas perladangan
    5. Bukan merupakan pionir
    6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Pohon berumah dua, tinggi mencapai 25 m dengan garis tengah batang hingga 40 cm. Tajuk rendah, membulat dan rapat.

–          Daun

Daun bundar telur terbalik sampai jorong, daun penumpu lanset.

 

–          Bunga

Perbungaan tandan menempel pada cabang dan ranting-ranting. Tandan bunga jantan berbentuk berkas, panjang sampai 20 cm, kuning. Tandan bunga betina mencapai panjang 60 cm, bunga sering kali menggugus.

–          Buah

Buah bulat telur sampai bulat, bergaris tengah sampai 4 cm, berbulu tipis. Daging buah yang menutupi biji putih kekuningan, rasanya cukup manis.

–          Manfaat

Buahnya dimakan segar dengan rasa yang cukup manis. Buah rambai juga sering dibuat manisan ataupun asinan.

 

  1. Putri Malu (Mimosa pudica)
    1. Lokasi berada di sepanjang sungai besar
    2. Ekologi : Jumlah lebih dari 10 dengan kondisi tanah yang berair
    3. Life formnya adalah herba
    4. Kondisi Habitat adalah bekas perladangan
    5. Bukan merupakan pionir
    6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Herba semusim atau menahun ini dapat mencapai tinggi hingga 1-1,5 m. Batangnya berduri bengkokdengan panjang 5 mm.

–          Daun

Daun putri malu berseling, majemuk, agak berbentuk tangan terbuka, peka, panjang tangkai 3-5,5 cm dengan anak daun 10 -26 pasang per tangkai, lonjong sampai agak berbentuk sabit.

–          Bunga

Perbungaan : di ketiak daun, bulat kepala, diameter ± 1 cm, bunga berkelamin dua, merah muda atau biru-ungu.

–          Manfaat

Obat susah tidur pada anak-anak.

 

  1. Kapuk (Ceiba peniandra Gaertn.)
    1. Lokasi berada di sepanjang sungai besar
    2. Ekologi : Jumlah 1 dengan kondisi tanah yang berair
    3. Life formnya adalah pohon
    4. Kondisi Habitat adalah bekas perladangan
    5. Bukan merupakan pionir
    6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Pohon, tinggi ± 30 m. Batang berkayu, tegak, buiat, hijau kecoklatan.

–          Daun

Majemuk, bulat, anak daun lanset, pangkal tumpul, ujung runcing, tepi rata, panjang 5-16 cm, lebar 2-3 cm, pertulangan menyirip, bertangkai panjang, hijau.

–          Bunga

Majemuk, bentuk lonceng, di ketiak daun atau di ujung batang, kelopak bentuk lonceng, bagian pangkal berlekatan, hijau keputin-putihan, kepala sari berlekuk, tangkai putik bentuk benang, putih kekuningan, mahkota bulat telur, panjang 2,5-4 cm, pangkalnya menyatu, kun’ng.

–          Buah

Bulat panjang sampai lanset, panjang 7,5-15 cm, masih muda hijau setelah tua coklat.

–          Manfaat

Daun Ceiba pentandra berkhasiat sebagai obat batuk, obat mencret dan sebagai penguat rambut.

 

  1. Rumput Gajah (Pennisetum purpureum Schumach)
    1. Lokasi berada di sepanjang sungai besar
    2. Ekologi : Jumlah lebih dari 20 dengan kondisi tanah yang berair
    3. Life formnya adalah semak
    4. Kondisi Habitat adalah bekas perladangan
    5. Bukan merupakan pionir
    6. Sifat botanis pohon

 

–       Habitus

Tumbuhan menahun yang tumbuh tegak lurus, tinggi, berakar dalam, dengan rimpang pendek. Tinggi batang dapat mencapai 7 m dan diameter batangnya dapat mencapai 3 cm, dan bernodus hingga 20. rumput ini membentuk rumpun hingga berdiameter 1 m.

–          Daun

 Permukaan daun halus hingga dilapisi rambut kaku dan pendek; daun memiliki bangun garis dengan pangkal daunnya melebar dan ujungnya runcing, panjang daun dapat mencapai 120 cm dan lebar 5 cm, ibu tulang daun tampak jelas di permukaan bawah daun.

–          Bunga

Perbungaan majemuk malai yang tingginya dapat mencapai 30 cm dan lebarnya 30 mm; spikelet 5-7 mm, soliter atau berkelompok 5 dimana satu diantaranya fertil; bagian bawah perbungaan adalah bunga-bunga jantan dan bagian atasnya adalah kumpulan bunga banci dan fertil.

–          Manfaat

Kegunaan utama rumput Gajah adalah sebagai pakan ternak. Selain itu, dapat dimanfaatkan pula sebagai bahan baku pembuatan pupuk hijau atau kompos. Penanaman rumput Gajah bersama dengan rumput Vetiver, pohon Sengon dan pohon Kara benguk dapat mengendalikan struktur lahan bekas laharan letusan gunung berapi di Jawa Tengah.

 

 

  1. Jembatan Aurduri Bagian Tengah
    1. Jabon(Anthocephalus cadamba (Roxb.) Miq.)
      1. Lokasi berada di sepanjang sungai besar
      2. Ekologi : Jumlah lebih dari 30 dengan kondisi tanah yang berair
      3. Life formnya adalah pohon
      4. Kondisi Habitat adalah bekas perladangan
      5. Bukan merupakan pionir
      6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Selalu hijau. Di alam bebas pohon dapat mencapai tinggi 45 m dengan diameter lebih dari 100 cm, sedangkan batas bebas cabangnya mencapai hingga 25 m. Pada umur 3 tahun tingginya dapat mencapai 17 m dengan diameter 30 cm. Bentuk tajuk seperti payung dengan sistem percabangan melingkar.

Berbatang silinder , tidak berbanir dengan tingkat kelurusan yang sangat bagus, diameter batang dapat tumbuh berkisar 10 cm/th. Permukaan kayu licin serta arah tegak lurus, berwarna putih kekuningan mirip meranti kuning, batang mudah dikupas, dikeringkan, direkatkan, bebas dari cacat mata kayu dan susutnya rendah.

–          Daun

Daun-daun berukuran panjang 13-32 cm dan lebar 7-15 cm, ujung daun runcing hingga meruncing, memiliki tangkai daun yang jelas berukuran 2.5-6 cm;

–          Bunga

Kepala bunga (flower heads) memiliki lebar 3-5 cm, Bunga jingga berukuran kecil, berkelopak rapat, berbentuk bulat.

–          Buah

Bagian atas bakal buah beruang 4.

–          Manfaat

Tanaman ini dapat ditanam sebagai tanaman orrnamental dan tanaman pelindung. Di Kalimantan dan Sumatra, jenis tumbuhan ini dipergunakan untuk permudaan alam seperti pada areal bekas tebangan, bekas perladangan dan di tempat-tempat terbuka lainnya

 

  1. Rumput Gajah (Pennisetum purpureum Schumach)
    1. Lokasi berada di sepanjang sungai besar
    2. Ekologi : Jumlah lebih dari 20 dengan kondisi tanah yang berair
    3. Life formnya adalah semak
    4. Kondisi Habitat adalah bekas perladangan
    5. Bukan merupakan pionir
    6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Tumbuhan menahun yang tumbuh tegak lurus, tinggi, berakar dalam, dengan rimpang pendek. Tinggi batang dapat mencapai 7 m dan diameter batangnya dapat mencapai 3 cm, dan bernodus hingga 20. rumput ini membentuk rumpun hingga berdiameter 1 m.

–          Daun

 Permukaan daun halus hingga dilapisi rambut kaku dan pendek; daun memiliki bangun garis dengan pangkal daunnya melebar dan ujungnya runcing, panjang daun dapat mencapai 120 cm dan lebar 5 cm, ibu tulang daun tampak jelas di permukaan bawah daun.

–          Bunga

Perbungaan majemuk malai yang tingginya dapat mencapai 30 cm dan lebarnya 30 mm; spikelet 5-7 mm, soliter atau berkelompok 5 dimana satu diantaranya fertil; bagian bawah perbungaan adalah bunga-bunga jantan dan bagian atasnya adalah kumpulan bunga banci dan fertil.

–          Manfaat

Kegunaan utama rumput Gajah adalah sebagai pakan ternak. Selain itu, dapat dimanfaatkan pula sebagai bahan baku pembuatan pupuk hijau atau kompos. Penanaman rumput Gajah bersama dengan rumput Vetiver, pohon Sengon dan pohon Kara benguk dapat mengendalikan struktur lahan bekas laharan letusan gunung berapi di Jawa Tengah.

 

 

  1. Areal Bekas Terbakar Desa Niaso
    1. Tembesu (Fagraea spp.)
      1. Lokasi berada di tanah gambut
      2. Ekologi : Jumlah 5 dengan kondisi tanah kering
      3. Life formnya adalah pohon
      4. Kondisi Habitat adalah bekas terbakar
      5. Bukan merupakan pionir
      6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Tinggi pohon tembesu mencapai 40 m, dengan panjang batang bebas cabang sampai 25 m, diameter 80 cm atau lebih, dengan batang tegak dan tidak berbanir. Kulit luar berwarna coklat sampai hitam, beralur dangkal dan sedikit mengelupas. Kayunya keras berwarna kuning emas tua atau coklat jingga, dan termasuk ke dalam kelas awet satu.

 
–          Manfaat

Kegunaan kayu tembesu terutama untuk konstruksi bangunan berat di tempat yang terbuka maupun berhubungan dengan tanah, balok jembatan, tiang rumah, lantai dan barang bubutan. Tanaman tembesu dapat dipanen setelah berumur 50 tahun atau lebih dengan diameter 50–80 cm. Tanaman tembesu berbunga bulan Mei – Agustus dengan susunan bunga dalam bentuk mali. Pohon tembesu mempunyai buah yang banyak dan mengandung biji sangat kecil. Jumlah buah per kilogram 6.600, sedangkan jumlah biji yang sudah kering sebanyak 5.800.000 butir perkilogram.

 

  1. Alang-alang (Imperata Cylindrica L.)
    1. Lokasi berada di tanah gambut
    2. Ekologi : Jumlah lebih dari 20 dengan kondisi tanah kering
    3. Life formnya adalah semak
    4. Kondisi Habitat adalah bekas terbakar
    5. Merupakan tumbuhan pionir
    6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Alang – alang adalah Rumput menahun dengan tunas panjang dan bersisik, merayap di bawah tanah. Ujung (pucuk) tunas yang muncul di tanah runcing tajam, serupa ranjau duri. Batang pendek, menjulang naik ke atas tanah dan berbunga, sebagian kerapkali (merah) keunguan, kerapkali dengan karangan rambut di bawah buku. Tinggi 0,2 – 1,5 m, di tempat-tempat lain mungkin lebih.

–          Daun

Helaian daun berbentuk garis (pita panjang) lanset berujung runcing, dengan pangkal yang menyempit dan berbentuk talang, panjang 12-80 cm, bertepi sangat kasar dan bergerigi tajam, berambut panjang di pangkalnya, dengan tulang daun yang lebar dan pucat di tengahnya.

–          Bunga

Karangan bunga dalam malai, 6-28 cm panjangnya, dengan anak bulir berambut panjang (putih) lk. 1 cm, sebagai alat melayang bulir buah bila masak.

 
–          Manfaat

Melancarkan air seni. mengobati kencing batu, hipertensi akibat sakit ginjal, radang paru-paru. Asma, mimisan, prostat diare, keputihan.

 

  1. Putri Malu (Mimosa pudica)
    1. Lokasi berada tanah gambut
    2. Ekologi : Jumlah 4 dengan kondisi tanah yang kering
    3. Life formnya adalah herba
    4. Kondisi Habitat adalah areal bekas terbakar
    5. Bukan merupakan pionir
    6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Herba semusim atau menahun ini dapat mencapai tinggi hingga 1-1,5 m. Batangnya berduri bengkokdengan panjang 5 mm.

–          Daun

Daun putri malu berseling, majemuk, agak berbentuk tangan terbuka, peka, panjang tangkai 3-5,5 cm dengan anak daun 10 -26 pasang per tangkai, lonjong sampai agak berbentuk sabit.

–          Bunga

Perbungaan : di ketiak daun, bulat kepala, diameter ± 1 cm, bunga berkelamin dua, merah muda atau biru-ungu.

–          Manfaat

Obat susah tidur pada anak-anak.

 

  1. Senduduk ( Melastoma Sp)
    1. Lokasi berada di tanah gambut
    2. Ekologi : Jumlah 5 dengan kondisi tanah kering
    3. Life formnya adalah semak
    4. Kondisi Habitat adalah bekas terbakar
    5. Merupakan tumbuhan pionir
    6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Pokok renek ini biasa dijumpai dibelukar dan semak yangtidak terlalu tebal. Tinggi purata pokok senduduk ialah 1 m namun ia boleh mencapai ketinggian hingga 3 m. Batangnya bentuk bulat  berwarna kemerahan dan dilitupi oleh bulu-bulu halus.

–          Daun

Daunnya berwarna hijau dan berbulu halus, merupakan daun tunggal, bertangkai, letak berhadapan bersilang. Helai daun bundar telur memanjang sampai lonjong, ujung lancip, pangkal membulat, dan tepinya rata. Permukaan daunnya berambut pendek yang jarang dan kaku sehingga terasa kasar jika diraba, dengan 3 tulang daun yang melengkung, panjang 4-20 cm dan lebar 1-6 cm. Bunganya berwarna ungu, indah dan tampak mencolok, sehingga dari jauh pun pohon senduduk ini dapat dikenali dengan mudah.

–          Bunga

Bunganya cantik dan mempunyai 5 kelopak dengan stamen berwarna kuning ditengah-tengahnya. Bunga senduduk yang paling biasa dijumpai berwarna ungu gelap hingga ke merah jambu dan putih. Jenis berwarna putih ialah jenis yang paling jarang dijumpai tumbuh liar. selalunya ia ditanam untuk tujuan perubatan

–          Buah

Buahnya   kecil-kecil, bulat agak lonjong dengan bagian atasnya membentuk seperti sayap, bekas kelopak bunga yang sudah gugur. Diameter buahnya lebih kurang 0,5-1,5 cm, permukaan luarnya berbulu. Ketika muda kulit buah berwarna hijau kemerahan, dan jika sudah masak akan berwarna merah keunguan. Bagian dalam buah berwarna ungu gelap, agak berair dan rasanya manis, dan sebagaimana tadi sudah saya sampaikan, akan membuat seluruh rongga mulut, bibir, dan lidah, menjadi berwarna ungu. Biji senduduk kecil-kecil, warnanya cokelat. Bagian dalam alias bagian buah yang dapat dimakan mengandung gula dan berbagai senyawa-senyawa flavonoid yang bersifat antioksidan. Apabila sudah sangat ranum, buah senduduk mudah pecah di pohon memperlihatkan biji-bijinya yang kecil-kecil dan banyak. Itu sebabnya buah senduduk jarang diperjualbelikan, karena agak sukar mengumpulkan cukup banyak buah senduduk ranum yang tidak pecah dari pohonnya.

 
–          Manfaat

Sebagai tumbuhan untuk mengembalikan kecergasan badan terutamanya selepas bersalin. Untuk menyembuhkan luka. Untuk merawat cirit birit, brak berdarah dan buasir. Menghilangkan parut akibat pelentong/bertih/cacar air

 

  1. Jabon (Anthocephalus cadamba (Roxb.) Miq.)
    1. Lokasi berada di lahan gambut
    2. Ekologi : Jumlah 3 dengan kondisi tanah yang berair
    3. Life formnya adalah pohon
    4. Kondisi Habitat adalah areal bekas terbakar
    5. Bukan merupakan pionir
    6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Selalu hijau. Di alam bebas pohon dapat mencapai tinggi 45 m dengan diameter lebih dari 100 cm, sedangkan batas bebas cabangnya mencapai hingga 25 m. Pada umur 3 tahun tingginya dapat mencapai 17 m dengan diameter 30 cm. Bentuk tajuk seperti payung dengan sistem percabangan melingkar.

Berbatang silinder , tidak berbanir dengan tingkat kelurusan yang sangat bagus, diameter batang dapat tumbuh berkisar 10 cm/th. Permukaan kayu licin serta arah tegak lurus, berwarna putih kekuningan mirip meranti kuning, batang mudah dikupas, dikeringkan, direkatkan, bebas dari cacat mata kayu dan susutnya rendah.

–          Daun

Daun-daun berukuran panjang 13-32 cm dan lebar 7-15 cm, ujung daun runcing hingga meruncing, memiliki tangkai daun yang jelas berukuran 2.5-6 cm;

–          Bunga

Kepala bunga (flower heads) memiliki lebar 3-5 cm, Bunga jingga berukuran kecil, berkelopak rapat, berbentuk bulat.

–          Buah

Bagian atas bakal buah beruang 4.

–          Manfaat

Tanaman ini dapat ditanam sebagai tanaman orrnamental dan tanaman pelindung. Di Kalimantan dan Sumatra, jenis tumbuhan ini dipergunakan untuk permudaan alam seperti pada areal bekas tebangan, bekas perladangan dan di tempat-tempat terbuka lainnya

 

 

  1. Areal Gambut Bekas Terbakar
    1. Senduduk ( Melastoma Sp)
      1. Lokasi berada di tanah gambut
      2. Ekologi : Jumlah lebih dari 5 dengan kondisi tanah gambut basah
      3. Life formnya adalah semak
      4. Kondisi Habitat adalah bekas terbakar
      5. Merupakan tumbuhan pionir
      6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Pokok renek ini biasa dijumpai dibelukar dan semak yangtidak terlalu tebal. Tinggi purata pokok senduduk ialah 1 m namun ia boleh mencapai ketinggian hingga 3 m. Batangnya bentuk bulat  berwarna kemerahan dan dilitupi oleh bulu-bulu halus.

–          Daun

Daunnya berwarna hijau dan berbulu halus, merupakan daun tunggal, bertangkai, letak berhadapan bersilang. Helai daun bundar telur memanjang sampai lonjong, ujung lancip, pangkal membulat, dan tepinya rata. Permukaan daunnya berambut pendek yang jarang dan kaku sehingga terasa kasar jika diraba, dengan 3 tulang daun yang melengkung, panjang 4-20 cm dan lebar 1-6 cm. Bunganya berwarna ungu, indah dan tampak mencolok, sehingga dari jauh pun pohon senduduk ini dapat dikenali dengan mudah.

–          Bunga

Bunganya cantik dan mempunyai 5 kelopak dengan stamen berwarna kuning ditengah-tengahnya. Bunga senduduk yang paling biasa dijumpai berwarna ungu gelap hingga ke merah jambu dan putih. Jenis berwarna putih ialah jenis yang paling jarang dijumpai tumbuh liar. selalunya ia ditanam untuk tujuan perubatan

–          Buah

Buahnya   kecil-kecil, bulat agak lonjong dengan bagian atasnya membentuk seperti sayap, bekas kelopak bunga yang sudah gugur. Diameter buahnya lebih kurang 0,5-1,5 cm, permukaan luarnya berbulu. Ketika muda kulit buah berwarna hijau kemerahan, dan jika sudah masak akan berwarna merah keunguan. Bagian dalam buah berwarna ungu gelap, agak berair dan rasanya manis, dan sebagaimana tadi sudah saya sampaikan, akan membuat seluruh rongga mulut, bibir, dan lidah, menjadi berwarna ungu. Biji senduduk kecil-kecil, warnanya cokelat. Bagian dalam alias bagian buah yang dapat dimakan mengandung gula dan berbagai senyawa-senyawa flavonoid yang bersifat antioksidan. Apabila sudah sangat ranum, buah senduduk mudah pecah di pohon memperlihatkan biji-bijinya yang kecil-kecil dan banyak. Itu sebabnya buah senduduk jarang diperjualbelikan, karena agak sukar mengumpulkan cukup banyak buah senduduk ranum yang tidak pecah dari pohonnya.

 
–          Manfaat

Sebagai tumbuhan untuk mengembalikan kecergasan badan terutamanya selepas bersalin. Untuk menyembuhkan luka. Untuk merawat cirit birit, brak berdarah dan buasir. Menghilangkan parut akibat pelentong/bertih/cacar air.

 

  1. Mahang (Macaranga tanarius (L.) M.A.)
    1. Lokasi berada di tanah gambut
    2. Ekologi : Jumlah 1 dengan kondisi tanah gambut basah
    3. Life formnya adalah pohon
    4. Kondisi Habitat adalah bekas terbakar
    5. Merupakan tumbuhan pionir
    6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Merupakan Perdu atau pohon kecil sampai sedang, dengan dahan agak besar, pohon dioecious tinggi hingga kurang lebih 27 m, 45 cm dbh, reproduktif mulai tinggi 5 m dan 5 cm dbh. Ranting padat, gundul hingga berambut (rambut tunggal, pendek), cabang agak tebal, hijau keabu-abuan, pubescent ketika muda.
 Batang pendek dan bengkok. Kulit menjadi abu-abu coklat, dengan gundukan penyimpanan  

–          Daun

Daun berseling, agak membundar, dengan stipula besar yang luruh. Daun penumpu bulat-telur hingga segitiga, semi-persisten, tegak hingga menyebar, tidak melingkari ranting seluruhnya, panjang 10-29 mm, lebar 4-12 mm. Tangkai daun gundul hingga berambut, panjang hingga 22 cm. Daun berseling, bulat-telur, memerisai, panjang 12-36 cm, lebar 7-28 cm, rasio panjang:lebar 1,2-1,86; urat daun sekunder 7-10, berakhir di tepi daun; pangkal daun membulat-melebar, jarak antara insersi tangkai daun dengan tepi pangkal daun 1,8-9 cm; tepi daun berkelenjar; permukaan atas daun gundul hingga berambut pada urat-urat daun; permukaan bawah daun gundul hingga berambut rapat, jarang keputih-putihan, bertitik-titik kelenjar jarang hingga rapat.

–          Bunga

Perbungaan bermalai di ketiak, bunga ditutupi oleh daun gagang . Perbungaan jantan bercabang; bunga-bunga dalam ikatan di tiap brakteola; tepi brakteola berjumbai. Perbungaan betina bercabang, dengan brakteola yang melebar seperti daun

–          Buah

Buah yang bicoccus kapsul, Buah kapsul berkokus 2, ada kelenjar kekuningan di luarnya. diameter sekitar 1 cm, panjang, prickles lembut, kekuningan, kelenjar di luar. lebar buah 9-10 mm, ruang biji 2, dengan beberapa duri panjang, permukaan buah tertutup kelenjar seluruhnya

–          Manfaat

Macaranga menghasilkan pulp berkualitas tinggi dan menghasilkan particleboard berkualitas tinggi. Di Indonesia dan Filiphina karet disadap dari kulit kayu digunakan sebagai lem, terutama untuk merekatkan bagian alat music. Pepagannya mengandung tanin yang dipakai untuk menguatkan jala ikan. Jala yang dicelupkan dalam rebusan pepagan akan tahan pengaruh air laut pada waktu yang lama. Di Indonesia, daunnya dilaporkan untuk memberi warna hitam pada tikar. Pepagan dan daun banyak digunakan di Filipina dalam pengolahan minuman yang difermentasi yang disebut `basi` terbuat dari gula tebu. Di Sumatra, buahnya ditambahkan dalam cairan palem ketika direbus, untuk meningkatkan kualitas gulanya. Di Indonesia dan Filipina, getahnya yang disadap dari pepagan dipakai sebagai lem, khususnya untuk merekatkan bagian-bagian alat-alat musik. Kayunya tidak digunakan dalam skala besar, tetapi di Sumatra digunakan untuk membuat tangga ketika panen lada dan di Filipina dipakai untuk membuat sepatu kayu. Di Malaysia kayunya digunakan untuk membangun rumah-rumah sementara. Rebusan pepagan dipakai untuk menyembuhkan disentri dan rebusan akar untuk melawan demam. Daun yang dibubukkan dipakai untuk tapal penyembuh luka. Macaranga tanarius belum pernah digunakan secara luas, tetapi berguna sebagai bahan pewarna coklat, perekat, bahan tambahan untuk minuman, kayu dan obat. Penelitian lebih lanjut tentang segala aspek akan berguna karena jenis ini sangat umum pada tipe-tipe vegetasi yang sangat dipengaruhi oleh manusia.

 

  1. Trembesi (Samanea saman (Jacq.) Merr.)
    1. Lokasi berada di tanah gambut
    2. Ekologi : Jumlah 2 dengan kondisi tanah gambut basah
    3. Life formnya adalah pohon
    4. Kondisi Habitat adalah bekas terbakar
    5. Merupakan tumbuhan pionir
    6. Sifat botanis pohon
–       Habitus

Ki hujan, pohon hujan, atau trembesi (Samanea saman (Jacq.} Merr.) merupakan tumbuhan pohon besar, tinggi, dengan tajuk yang sangat melebar. Tumbuhan ini pernah populer sebagai tumbuhan peneduh. Perakarannya yang sangat meluas membuatnya kurang populer karena dapat merusak jalan dan bangunan di sekitarnya. Namanya berasal dari air yang sering menetes dari tajuknya karena kemampuannya menyerap air tanah yang kuat serta kotoran dari tonggeret yang tinggal di pohon. Di beberapa tempat bahkan dianggap mengganggu karena tajuknya menghambat tumbuhan lain untuk berkembang. Tingginya mencapai 25meter ,berbentuk melebar seperti payung (canopy), pohon yang masuk dalam sub famili Mimosaceae dan famili Fabaceae ini biasa ditanam sebagai tumbuhan pembawa keteduhan.

–          Daun

Daun pohon saman bisa mengerut di saat-saat tertentu, yaitu 1,5 jam sebelum matahari terbenam dan akan kembali mekar saat esok paginya setelah matahari terbit. Jika hujan datang, daun-daunnya kembali menguncup. Bentuk dahannya kecil kecil seperti dahan putri malu. Daun ini tumbuh melebar seperti pohon beringin, tetapi tidak simetris alias tidak seimbang.

–          Bunga

Bunganya menyerupai bulu-bulu halus yang ujungnya berwarna kuning, sementara pada dasar bunga berwarna merah.

–          Buah

Buahnya memanjang, berwarna hitam kala masak dan biasa gugur ketika sehabis matang dalam keadaan terpecah. Setiap panjang tangkainya berukuran 7-10 sentimeter.

–          Manfaat

Trembesi merupakan jenis pohon yang memiliki kemampuan menyerap karbondioksida dari udara yang sangat besar. Pohon ini mampu menyerap 28.488,39 kg CO2/pohon setiap tahunnya. Berdasarkan penelitian Hartwell (1967-1971) di Venezuela, akar trembesi dapat digunakan sebagai obat tambahan saat mandi air hangat untuk mencegah kanker. Ekstrak daun trembesi dapat menghambat pertumbuhan mikrobakterium Tuberculosis (Perry, 1980) yang dapat menyebabkan sakit perut. Trembesi juga dapat digunakan sebagai obat flu, sakit kepala dan penyakit usus (Duke and Wain, 1981)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

5.1.               Kesimpulan

Hutan Rawa adalah hutan yang tumbuh dan berkembang pada tempat yang selalu tergenag air tawar atau secara musiman tergenang air tawar. Hutan ini tidak terpengaruh oleh iklim, tanah berada di kerendahan dan selalu tergenang air tawar, terdapat di belakang hutan payau dan tajuk hutan terdiri dari beberapa strata.

Ciri dari tipe ekosistem Hutan Rawa adalah hutan yang tumbuh pada daerah-daerah yang selalu tergenang air tawar, tidak dipengaruhi iklim. Pada umumnya terletak dibelakang hutan payau dengan jenis tanah aluvial dan aerasinya buruk. Tegakan hutan selalu hijau dengan pohon-pohon yang tinggi bisa mencapai 40 m dan terdiri atas banyak lapisan tajuk.

Tumbuhan yang banyak ditemui di hutan rawa air tawar adalah jabon, rumput gajah, rengas, dan beberapa spesies lainnya yang tumbuh di sepanjang sungai besar dengan kondisi tanah yang tergenang.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Indriyanto, 2006. Ekologi Hutan. PT. Bumi Aksara. Jakarta.

http://indonesiaforest.co.cc/swamp_forest.html

http://lianaindonesia.wordpress.com/

http://id.wikipedia.org/wiki/Duku

http://id.wikipedia.org/wiki/Kelapa

http://id.wikipedia.org/wiki/Mangifera_indica

http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/2073862-musa-paradisiaca/#ixzz3HkzYXdGB

 

http://clearinghouse.bplhdjabar.go.id

http://id.wikipedia.org/wiki/Rambai

http://wellyukm.blogspot.com/2010/10/trembesi-samanea-saman-jacq-merr.html

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s