HyoJung’s Story #3

Author: Park Hyosang @PriGtHs1004

Rating: T

Main Cast: Leeteuk (Super Junior), Shin Hyosang (OC)

Support Cast: All Member Super Junior

 

Sorry for typo.. Happy reading!

 

Leeteuk POV

Sudah 3 hari aku tidak bisa menghubungi Hyosang. Ada apa dengan yeoja-ku itu? Mengapa handphone-nya tidak pernah aktif? Hah, seandainya jadwalku tidak sepadat ini, pasti sudah kudatangi kamarnya yang hanya berjarak 3 lantai di bawahku.

“Hyung, gwaenchana?” tanya Siwon.

“Gwaenchana,” jawabku sambil menyunggingkan senyum meski sedikit terpaksa.

“Ayo Hyung, sebentar lagi kita tampil,” ucapnya lagi sembari menarik tanganku untuk segera bersiap menuju stage. Aku mengikuti langkahnya dengan pikiran yang masih dipenuhi oleh Hyosang. Aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk padanya.

Penampilan kami kali ini terbilang cukup sukses, walaupun aku beberapa kali melakukan kesalahan. Aku benar-benar tidak bisa fokus saat ini. Aku benar-benar merasa ada yang tidak beres dengan Hyosang. Setelah acara benar-benar selesai, aku mengambil handphone yang kusimpan di dalam tasku. Segera ku hubungi Rae Ah, namun sialnya nomornya tidak aktif juga. Kualihkan panggilanku pada Hyunki, yeojachingu Sungmin.

“Yeobeosaeyo..” ucapnya singkat.

“Hyunki-ya, jigeum eoddie?” tanyaku langsung.

“Di dorm, Oppa. Wae geurae?”

“Apa Hyo ada di sana? Mengapa sejak 3 hari yang lalu handphone-nya tidak diaktifkan?” tanyaku bertubi-tubi.

“Eh, itu.. Itu..” Hyunki terdengar ragu menjawab pertanyaanku.

“Ada apa, Hyunki-ya? Jebal.. Katakan padaku,” ucapku memohon.

“A-Aku.. Aku takut Hyo akan marah padaku jika aku mengatakannya pada Oppa,” ucapnya masih ragu.

“Tidak akan. Hyosang tidak akan marah padamu, aku jamin itu,” ucapku meyakinkan. Hyunki terdiam cukup lama, sepertinya sedang berpikir apakah dia memberitahuku atau tidak.

“Emm.. Sebenarnya sejak 3 hari yang lalu Hyo sakit,” ucapnya pelan.

“Mworageuyo? Sakit? Mengapa tidak ada yang mengatakannya padaku?” ucapku sedikit emosi. Hyosang sakit selama 3 hari dan aku tidak tahu apa-apa.

“Dia yang melarang kami mengatakannya pada Oppa. Dia takut Oppa khawatir padanya. Mianhae, Oppa.”

“Ah, cheonman. Ini bukan salahmu. Gomawo sudah memberitahuku. Tapi, apa dia sudah dibawa ke dokter?” tanyaku.

“Dia tidak mau ke dokter. Oppa kan tahu dia takut dengan dokter,” ucap Hyunki. AH, aku lupa kalau Hyo takut melihat dokter.

“Ne.. Aku lupa. Ya sudah, Hyun. Sekali lagi gomawo atas informasinya,” ucapku.

“Ne, Oppa.”

Aku kembali memikirkan keadaan Hyosang. Aku merasa kesal dengan diriku sendiri. Aku tidak bisa berada di sampingnya ketika dia benar-benar membutuhkanku. Namja macam apa aku ini. Tanpa kusadari setetes airmata mengalir di pipiku. Cepat-cepat kuhapus agar member yang lain tidak melihatnya.

“Hyung, boleh aku pulang duluan?” tanyaku pada manager kami.

“Mengapa pulang duluan? Apa kau sedang tidak enak badan?” tanyanya.

“Mwo? Hyung sakit?” tanya Donghae yang sepertinya mendengar pembicaraan kami.

“Ani. Aku baik-baik saja. Hanya saja ada urusan penting yang harus aku selesaikan,” ucapku.

“AH.. Hyosang kah? Baiklah, kali ini kau ku beri izin untuk pulang duluan,” ucap manager kami mengerti.

“Gomawo, Hyung,” ucapku sambil membungkukkan badanku.

Aku segera menuju audy putihku dan memacunya pulang ke dorm. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dan melihat keadaan yeoja-ku.

^^^^

Hyosang POV

Sudah 3 hari aku terbaring di kamarku tanpa melakukan apapun. Aku terserang flu berat yang menyebabkan seluruh badanku terasa seperti ditabrak truk. Kepalaku benar-benar sakit dan suhu tubuhku juga lumayan tinggi. Flu brengsek ini sudah membuat aku terlihat menyedihkan.

Aku sengaja tidak memberitahu siapapun tentang penyakit yang ku derita selama 3 hari ini. Aku benar-benar benci terlihat lemah dan tidak berdaya seperti ini. Aku benci pandangan iba dari orang-orang yang melihatku seperti ini. Yang tahu aku sakit hanya Hyunki Eonnie dan Rae Ah Eonnie, dan mereka berdua sudah ku ancam untuk tidak memberitahukannya pada siapapun. SIAPAPUN termasuk Jungsoo Oppa.

“Hyo, sudah merasa lebih baik?” tanya Hyunki Eonnie yang tiba-tiba masuk ke kamarku.

“Sama sekali tidak,” ucapku jengkel. Jujur saja aku sudah muak sakit seperti ini.

“Mengapa kau tidak memberitahu Teuki Oppa?” tanyanya lagi.

“Eonnie, kita sudah membahas ini berulang kali dan jawabanku akan tetap sama. Aku benci terlihat tak berdaya di hadapannya,” ucapku lagi.

“Ya sudahlah, Hyo. Sifat keras kepalamu itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Aku mau pergi sebentar, kau tidak apa aku tinggal sendiri?”

“Ne. Aku tidak akan mati hanya karena flu brengsek ini,” ucapku.

Hyunki Eonnie pun keluar dari kamarku tanpa mengatakan akan pergi kemana. Tak lama kudengar pintu depan tertutup. Hah, berarti dia sudah pergi. Aku mencoba memejamkan mataku agar bisa tertidur, tapi kepalaku yang berdenyut sakit menghalangiku untuk tidur. Aku butuh sesuatu untuk mengatasi semua ini, tapi apa?

Tiba-tiba saja kudengar pintu depan terbuka. Apa Hyunki Eonnie sudah pulang? Cepat sekali. Tapi seertinya bukan dia, karena setiap Hyunki Eonnie pulang, dia akan langsung memanggilku atau Rae Ah Eonnie. Dan sekarang tidak ada suara sama sekali. Siapa orang yang barusan masuk? Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan namja itu masuk sembari menutup kembali pintu di belakangnya.

DEG.

Jungsoo Oppa. Mengapa dia bisa kemari? Siapa yang memberitahunya. Aku masih bertanya-tanya dalam hati ketika dia duduk di sampingku.

“Mengapa tidak memberitahu?” tanya Jungsoo Oppa tanpa menatap mataku seperti yang biasa dilakukannya setiap bicara padaku. Apa dia marah?

“Eh.. Memberitahu apa?” tanyaku pura-pura tidak tahu.

“Kau.. Sakit. Mengapa tidak memberitahuku?”

“Aku.. Aku..”

“Apa kau malu terlihat lemah dihadapanku? Hyo, aku ini namjachingu-mu. Aku akan menerima keadaanmu apapun itu. Mengapa harus malu padaku?” ucapnya.

“Aku hanya tidak ingin terlihat sebagi wanita yang lemah seperti saat ini. Aku bahkan membenci diriku sendiri sekarang,” ucapku.

“Apa tidak ada satu orangpun selain Hyunki dan Rae Ah yang tahu keadaanmu?”

“Sama sekali tidak ada. Aku tidak ingin membuat orang lain khawatir dengan keadaanku.”

“Dan kau lebih membuatku khawatir dengan berbuat seperti ini, Hyo. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padamu? Aku bahkan tidak bisa menghubungimu untuk sekedar mengetahui keadaanmu,” ucapnya. Aku tahu dia saat ini dia sangat marah, tapi dia berusaha untuk menahannya.

Aku ingin menyampaikan pembelaanku, namun aku malah terbatuk-batuk dengan hebatnya. Ah, flu sialan ini sudah menghilangkan kesempatanku untuk melanjutkan perdebatan dengan namja ini. Jungsoo Oppa telihat panik dan segera mengambilkanku segelas air putih.

“Minum dulu, Hyo,” ucapnya seraya membantuku minum. Setelah itu barulah tenggorakanku terasa sedikit lega, tapi sialnya suaraku malah hilang sama sekali. Jika tadi aku masih bisa bicara walaupun dengan suara serak, sekarang aku tidak bisa bicara lagi. Hah.. Bagaimana aku harus menjelaskan padanya.

“Suaramu hilang..” ucapnya pelan. Aku hanya mengangguk lemah.

“Jangan begini lagi, Hyo. Aku benar-benar mencemaskanmu. Saat mendengar kau sakit, aku sama sekali tidak tahu harus bagaimana. Aku bingung, Hyo. Dan aku merasa sangat bersalah padamu. Seharusnya akulah orang yang selalu ada di sampingmu, selalu merawatmu dan menjagamu, tapi aku kenyataannya aku tidak pernah ada saat kau membutuhkanku. Namja macam apa aku ini..” ucapnya frustasi. Saat ini pasti dia sedang berusaha keras menahan airmatanya. Dia tahu aku benci melihat namja yang menangis di depanku, maka dari itu dia mencoba untuk tidak menangis.

Aku meletakkan kedua telapak tanganku di pipinya. Kuusap kedua pipinya lembut. Tanpa suara kuucapkan sebuah kata keramat yang sangat jarang kuucapkan, ‘Mianhae’.

Jungsoo Oppa menggenggam tanganku yang masih menempel di pipinya. Dibawanya tanganku ke bibirnya dan diciuminya, “Jangan meminta maaf, Hyo. Aku tahu kau tidak suka mengucapkan kata itu.”

Aku tersenyum dan kutatap matanya penuh cinta, ‘Saranghae..’ ucapku lagi tanpa suara.

“Na do Saranghae,” ucapnya. Tiba-tiba Jungsoo Oppa memajukan wajahnya hendak menciumku. Segera saja kututup wajahku dengan kedua tanganku.

“Wae?” tanyanya.

Aku menggelengkan kepalaku cepat dan mengambil kertas serta pulpen di sebelah tempat tidurku. Segera kutuliskan apa yang ingin kuucapkan padanya.

‘YA! AKU SEDANG FLU. BAGAIMANA JIKA OPPA TERTULAR??? SUDAH.. OPPA PULANG SAJA’

“Mwoya? Aku tidak akan pulang sebelum kau sembuh, Hyo,” ucapnya begitu membaca tulisanku.

‘JANGAN TERLALU LAMA BERADA DI DEKATKU. NANTI OPPA TERTULAR. CEPATLAH PULANG’

“Sudah ku bilang aku tidak mau pulang sebelum kau sembuh. Aku tidak peduli harus tertular atau tidak. Yang aku pedulikan hanya dirimu, Hyo,” ucapnya lagi.

‘PULANGLAH..’

“Jika sekali lagi kau menyuruhku pulang, maka aku akan menyeretmu ke dokter agar kau cepat sembuh dan tidak membuatku cemas lagi, arachi?” ucapnya yang berhasil membuatku terdiam. Aku benar-benar takut dengan Dokter.

“Tidurlah..” ucapnya sambil mengelus kepalaku lembut. Aku menganggukkan kepalaku dan memberikan senyum manisku padanya. Jungsoo Oppa mencium bibirku sekilas yang langsung kubalas dengan death glare andalanku. Dia hanya terkekeh pelan melihatku seperti itu.

“Cepatlah sembuh, Hyo. Kau membuat jantungku seakan berhenti berdetak saat tahu kau menderita sendirian..” ucapnya pelan sambil terus mengelus rambutku.

Terima kasih, Oppa. Terima kasih sudah menjadi malaikat penjagaku selama ini. Maaf sudah membuatmu khawatir, tapi aku hanya tidak ingin terus-terusan merepotkanmu. Sekali lagi terima kasih, Oppa. Saranghae..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s